- Anak-anak di Tambora dan Menteng menyelenggarakan liga sepak bola jalanan sebagai solusi atas keterbatasan lahan olahraga gratis.
- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dispora memberikan dukungan nyata dengan memfasilitasi kebutuhan pertandingan bagi para pemain muda.
- Dinas Pemuda dan Olahraga berencana mengorganisasi kompetisi tersebut agar anak-anak dapat mengakses fasilitas olahraga milik pemerintah daerah.
Suara.com - Di tengah kepungan gedung tinggi dan sesaknya permukiman, kreativitas anak-anak Jakarta tak pernah mati. Ketiadaan akses ke lapangan hijau tak menghalangi mereka untuk mengolah si kulit bundar.
Kini, jalanan aspal di berbagai kampung padat disulap menjadi "stadion" darurat yang penuh gairah.
Fenomena ini melahirkan gerakan organik berupa liga sepak bola jalanan, seperti Liga Akamsi (Anak Kampung Sini) dan Liga Aspal.
Turnamen ini menjadi jawaban atas keresahan warga di wilayah seperti Tambora, Jakarta Barat, hingga Menteng, Jakarta Pusat, yang kesulitan mencari ruang publik gratis untuk berolahraga.
Inisiatif positif ini pun mendapat lampu hijau dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).
Kepala Dispora DKI Jakarta, Andri Yansyah, menegaskan dukungannya terhadap kompetisi yang lahir dari akar rumput ini.
Ia mengapresiasi semangat warga yang menghidupkan kegiatan positif langsung di lingkungan mereka.
"Tentunya dinas pemuda dan olahraga menyambut baik dengan adanya kegiatan liga olahraga (Liga Akamsi dan Liga Aspal), yang memang dilakukan di lingkungan," ujar Andri saat berbincang dengan jurnalis Suara.com, Jumat (3/7/2026).
Bukan Sekadar Hobi, Tapi Investasi Masa Depan
Bagi Andri, sepak bola jalanan ini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan.

Selain sebagai penyaluran hobi, aktivitas fisik yang konsisten diyakini mampu meningkatkan ketahanan tubuh anak-anak, yang nantinya akan berimbas pada kualitas belajar mereka di sekolah.
"Sehgingga anak di Jakarta ke depanya punya stamina, ini akan pengaruh pada pendidikan di sekolah," kata Andri.
Sebagai bentuk apresiasi nyata, Dispora DKI Jakarta turut turun tangan dengan memfasilitasi kebutuhan pertandingan, mulai dari penyediaan bola hingga piala bagi para pemenang.
Menuju Penyelenggaraan yang Lebih Terorganisir
Meski berawal dari aspal jalanan, Andri punya visi agar turnamen ini bisa naik kelas.
Ia mengaku telah menginstruksikan seluruh Suku Dinas (Sudin) Pemuda dan Olahraga untuk berkolaborasi dengan panitia lokal maupun Karang Taruna.
Tujuannya satu: agar talenta-talenta muda ini bisa mencicipi fasilitas olahraga milik pemda yang lebih representatif.
"Sekiranya ke depan bisa dilaksanakan di tempat yang kita miliki, difasilitasi, sehingga, kegiatan ini betul-betul terorganisir," jelasnya.

Ia pun optimis bahwa dari gang-gang sempit dan panasnya aspal Jakarta, akan lahir bintang-bintang baru yang akan mengharumkan nama bangsa.
"Siapa tau kegiatan yang sifatnya akamsi, akan melahirakan bibit potensi," pungkas Andri.
Melawan Keterbatasan Lahan
Untuk diketahui, munculnya Liga Akamsi di Tambora dan Liga Aspal di Menteng Jaya berawal dari satu masalah klasik Jakarta: ketiadaan lahan kosong dan mahalnya biaya sewa lapangan.
Di RW 08 Kelurahan Menteng, misalnya, para pemuda setempat akhirnya memutuskan untuk "menaklukkan" jalanan demi memberikan ruang bagi anak-anak agar tetap bisa bergerak dan berkompetisi secara sehat.
Kini, aspal bukan lagi sekadar jalan kendaraan, melainkan saksi bisu lahirnya mimpi-mimpi besar dari anak kampung Jakarta.