- Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan perlunya transformasi fungsi perpustakaan sekolah agar tidak sekadar menjadi pelengkap syarat akreditasi semata.
- Abdul Mu'ti berkomitmen meningkatkan budaya literasi dengan membuka akses perpustakaan Kemendikdasmen bagi masyarakat luas, khususnya bagi anak-anak.
- Pihak kementerian akan rutin menyelenggarakan diskusi buku guna menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan edukatif dan pertukaran gagasan.
Suara.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti masih rendahnya perhatian terhadap keberadaan perpustakaan di sekolah. Menurutnya, perpustakaan selama ini kerap hanya dijadikan pelengkap untuk memenuhi syarat akreditasi, sementara profesi pustakawan dipandang sebelah mata.
Ia mengatakan kondisi tersebut harus diubah jika Indonesia ingin membangun budaya literasi yang kuat.
"Kami tentu saja berkomitmen agar perpustakaan tidak sekedar menjadi ruang yang seringkali hanya ada di sudut sekolah yang kadang-kadang hanya memenuhi persyaratan akreditasi belaka dan pustakawan seringkali dianggap sebagai posisi buangan. Ketika enggak ada tempat, jadikan dia pustakawan. Saya melihat realitas itu sebagai sesuatu yang harus kita ubah," kata Mu'ti saat acara Hari Pustakawan di kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Komitmen itu, lanjut Abdul Mu'ti, juga akan diterapkan di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Ia mengaku terinspirasi setelah membaca buku Presiden Solusi yang memuat berbagai gagasan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, salah satu langkah yang akan dilakukan ialah membuka perpustakaan Kemendikdasmen agar dapat diakses masyarakat luas, khususnya anak-anak.
"Kami berkomitmen, perpustakaan yang ada di Kementerian ini, meniru solusi ala Pak Presiden Prabowo yang saya baca, akan menjadi perpustakaan yang kita buka bagi anak-anak, siapapun juga untuk dapat berkunjung ke perpustakaan itu," ujarnya.
Abdul Mu'ti mengatakan perpustakaan Kemendikdasmen telah memiliki akreditasi A. Namun, menurutnya, kualitas perpustakaan tidak hanya diukur dari nilai akreditasi, melainkan juga dari sejauh mana mampu menjadi ruang belajar yang hidup dan menyenangkan.
"Perpustakaan kita ini insya Allah, ya lumayan lah, kalau nggak salah akreditasinya A ya, A itu artinya apik, asik juga," ucapnya disambut tawa.
Tak hanya menyediakan koleksi buku, perpustakaan tersebut juga dilengkapi ruang studio yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk berbagai kegiatan edukatif.
"Dan ada juga ruang studio di mana kalian kalau datang bisa nonton film di situ, bisa baca buku, bisa diskusi dan diskusi buku seperti ini akan terus kita lakukan minimal satu bulan sekali," tuturnya.
Ia berharap kegiatan diskusi buku dapat digelar secara rutin agar perpustakaan tidak sekadar menjadi tempat meminjam buku, tetapi juga berkembang menjadi ruang bertukar gagasan dan memperkuat budaya membaca.