- Kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, telah berlangsung tujuh hari dan baru berhasil dipadamkan sekitar 45 persen.
- Petugas gabungan menggunakan metode injeksi air serta helikopter water bombing untuk menjangkau bara api di dalam sampah.
- WALHI menilai kebakaran terjadi karena praktik pengelolaan sampah sistem open dumping yang memicu akumulasi gas metana mudah terbakar.
Sebagai langkah darurat, WALHI menyarankan timbunan sampah ditutup menggunakan tanah untuk mengurangi suplai oksigen dan menekan pelepasan gas metana. Namun, menurut organisasi tersebut, langkah tersebut hanya bersifat sementara.
Perlu pembenahan dari hulu
Menurut WALHI, kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan respons darurat ketika kebakaran terjadi.
Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan sampah, serta pengolahan sampah organik dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah terbentuknya gas metana yang memicu kebakaran.
WALHI juga mengingatkan agar pemerintah tidak hanya berfokus pada solusi di hilir, seperti pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), karena dinilai belum menyentuh akar persoalan.
"Kebakaran di TPA Jatiwaringin adalah pengingat bahwa selama akar masalah di hulu tidak diselesaikan, negara akan terus berhadapan dengan bencana yang sama, dan warga akan terus menjadi pihak yang menanggung akibatnya," kata Wahyu.
Sementara itu, BNPB menyebut kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah lain menjelang musim kemarau. Salah satu langkah mitigasi yang disarankan adalah melakukan pembasahan lahan di area TPA serta mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah di sekitar permukiman.