-
Amerika Serikat menghancurkan puluhan target militer Iran menggunakan jet tempur dan drone laut.
-
Iran membalas dengan menggempur pangkalan militer Amerika Serikat setelah wilayahnya terbukti dibombardir.
-
Operasi CENTCOM bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran internasional Selat Hormuz.
Suara.com - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) kembali meluncurkan gelombang serangan udara masif yang menyasar puluhan titik strategis di wilayah Iran. Operasi militer menggunakan amunisi berpresisi tinggi ini membidik fasilitas pertahanan udara hingga sistem radar pesisir milik Teheran.
Langkah agresif Washington menjadi pembuktian strategi baru yang memprioritaskan pelumpuhan total armada taktis lawan. Untuk pertama kalinya, Pentagon mengerahkan kombinasi pesawat tempur, kapal perang, serta drone penyerang udara dan laut sekali jalan.
Gempuran mematikan ini memicu respons bersenjata instan dari pasukan elite Teheran di kawasan Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung melepaskan rentetan tembakan balasan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat.

Media resmi pemerintah Iran melaporkan ledakan besar mengguncang beberapa provinsi di bagian tengah dan selatan negara tersebut. Insiden berdarah ini mengakibatkan sedikitnya satu warga lokal tewas dan melukai beberapa orang lainnya.
Aksi ofensif terbaru ini terjadi hanya berselang satu hari setelah operasi militer besar-besaran berskala serupa. Sebelumnya, Washington mengklaim telah menghantam sekitar 140 instalasi militer Iran melalui serangan udara malam hari.
AS berdalih bahwa operasi agresif ini terpaksa dilakukan demi melindungi kepentingan ekonomi global di perairan strategis. Pihak Pentagon menegaskan serangan bertujuan menghentikan ancaman sabotase maritim yang kerap terjadi di jalur perdagangan internasional.
Serangan dilepaskan untuk "mendegradasi kemampuan Iran untuk terus menyerang pelayaran internasional yang mengalir melalui Selat Hormuz," kata CENTCOM pada hari Minggu.
Di sisi lain, Teheran menolak tunduk pada tekanan militer luar negeri dan langsung melancarkan aksi balasan. Sebagai bentuk perlawanan nyata, Iran’s Islamic Revolutionary Guard Corps mengatakan pihaknya telah meluncurkan gelombang serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS.
Eskalasi pertempuran ini berakar dari ketegangan menahun terkait kendali atas jalur pelayaran komersial di Timur Tengah. Selat Hormuz bertindak sebagai urat nadi logistik global yang menjadi lokasi transit utama bagi kapal-kapal tanker pembawa minyak mentah dunia.
Amerika Serikat menuduh Iran kerap mengganggu keamanan kapal dagang asing yang melintasi kawasan perairan tersebut. Konflik bersenjata ini diprediksi akan terus memanas selama kedua belah pihak saling melempar serangan balasan.