-
Garda Revolusi Iran menyerang pangkalan militer AS dengan gelombang rudal dan drone.
-
Militer Amerika Serikat sebelumnya membombardir wilayah Ahvaz yang kaya akan minyak bumi.
-
Pemerintah Iran masih menghitung total kerugian akibat serangan udara beruntun dari Washington.
Suara.com - Pasukan Garda Revolusi Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone terbaru ke arah pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat. Langkah ofensif ini diambil sebagai respons langsung atas gempuran udara Washington yang membombardir wilayah Teheran selama beberapa jam.
Konflik kedua negara kini memasuki fase berbahaya dengan target yang bergeser ke fasilitas vital. Teheran memilih eskalasi terbuka demi menunjukkan taji pertahanan mereka di kawasan Timur Tengah.
Serangan balasan ini terjadi setelah militer Amerika Serikat menyasar kawasan tengah dan selatan Iran. Salah satu titik ledakan dilaporkan berada di dekat kota besar pada Provinsi Khuzestan.
![Serangan drone milik Iran yang menghantam Dubai, UEDA memicu kepanikan di kota yang selama ini dikenal sebagai surga bebas pajak. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/12/68840-serangan-drone-iran-ke-dubai.jpg)
Wakil Gubernur Khuzestan bidang keamanan dan penegakan hukum, Valiollah Hayati, memberikan konfirmasi resmi mengenai target operasi tersebut. Menurutnya, serangan sepihak musuh telah merusak ketenangan warga di sekitar pusat industri.
Valiollah Hayati menyatakan kepada Mehr bahwa “musuh Amerika” menargetkan dua lokasi di dekat Ahvaz. Dikutip dari CNN Internasional, Kota tersebut selama ini menjadi salah satu pilar penting bagi industri perminyakan Iran.
Pemerintah setempat langsung menerjunkan tim darurat ke lokasi ledakan untuk memeriksa skala kehancuran. Hingga saat ini, proses identifikasi dan penilaian dampak serangan masih terus berjalan di lapangan.
Situasi di wilayah selatan semakin mencekam setelah dentuman baru kembali terdengar. Agresi militer Washington ternyata tidak berhenti pada gelombang pertama saja.
Valiollah Hayati kemudian mengonfirmasi adanya serangan tambahan dari jet tempur Amerika Serikat. Wilayah utara Ahvaz menjadi sasaran berikutnya dari operasi udara tersebut.
Serangan udara susulan itu menghantam fasilitas di dalam kawasan Kabupaten Andimeshk. Ketakutan warga meningkat seiring meluasnya radius wilayah yang menjadi target bom.
Sentimen anti-Amerika kini terus menguat di kalangan militer dan warga sipil Iran. Eskalasi ini dikhawatirkan memicu perang terbuka yang lebih luas di kawasan.
Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran terus memburuk akibat perebutan pengaruh di Timur Tengah. Washington berulang kali melancarkan serangan udara terhadap posisi yang dianggap mengancam aset mereka.
Ahvaz dan Provinsi Khuzestan bernilai strategis karena menjadi jantung produksi minyak mentah Iran. Kompleksitas konflik ini selalu melibatkan sektor ekonomi dan pertahanan perbatasan kedua negara.
Garda Revolusi Iran menegaskan tidak akan tinggal diam atas setiap agresi asing. Kontak senjata melalui drone dan rudal diprediksi masih akan terus berlanjut.