- Polda Metro Jaya menangkap pria berinisial MY atas ancaman bom di SDN Srengseng Sawah pada Senin, 13 Juli 2026.
- Pelaku berdalih melakukan aksinya hanya karena iseng, namun polisi tetap melakukan penyelidikan intensif bersama tim Densus 88.
- Tim gabungan telah mensterilisasi area sekolah dan menyatakan lokasi aman karena tidak ditemukan adanya benda peledak berbahaya.
Suara.com - Terduga pelaku teror bom di SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa, Jakarta Selatan, berdalih aksinya hanya dilakukan karena "iseng".
Meski demikian, Polda Metro Jaya memastikan penyelidikan belum berhenti dan masih mendalami kemungkinan adanya motif lain di balik ancaman yang sempat mengacaukan hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan, pengakuan tersebut baru keterangan awal dari pelaku berinisial MY yang kini telah diamankan polisi.
"Motif dari pelaku sementara hasil dari permintaan keterangan yang bersangkutan, yang bersangkutan hanya sifatnya iseng saja," ungkap Iman kepada wartawan, Senin (13/7/2026).
Meski pelaku mengaku hanya bercanda, penyidik tidak langsung menerima begitu saja alasan tersebut. Polisi masih berkoordinasi dengan Densus 88 Antiteror Polri untuk mengusut lebih jauh kemungkinan adanya motif lain maupun keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut.
"Sedang kami dalami terus dari penyidik terus berkoordinasi dengan Densus 88 Antiteror," katanya.
Saat ini, pelaku yang merupakan pria berusia 34 tahun tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Metro Jakarta Selatan.
![Personel Gegana Brimob Polda Metro Jaya melakukan penyisiran setelah adanya ancaman dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta, Senin (13/7/2026). [ANTARA FOTO/Fauzan/tom]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/13/71408-teror-bom-di-sekolah-teror-bom-di-sdn-srengseng-sawah-15-pagi.jpg)
Pelaku Warga Sekitar
Polda Metro Jaya menangkap MY, warga yang tinggal di sekitar SDN Srengseng Sawah 15, setelah berhasil mengidentifikasi terduga pengirim pesan ancaman bom.
Penangkapan dilakukan setelah penyidik memeriksa tiga saksi, yakni guru kelas 1, staf tata usaha penerima pesan ancaman, serta menganalisis rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar sekolah.
Usai menerima laporan ancaman bom, tim gabungan yang terdiri atas Gegana Brimob, Densus 88 Antiteror Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan unit anjing pelacak (K9) melakukan sterilisasi selama sekitar empat jam.
Hasilnya, seluruh area sekolah dinyatakan aman karena tidak ditemukan bahan peledak maupun benda mencurigakan.
Ancaman bom tersebut dilaporkan sekitar pukul 07.30 WIB saat kegiatan MPLS berlangsung.
Insiden itu membuat proses belajar mengajar pada hari pertama terpaksa diakhiri lebih cepat, sementara pelaksanaan kegiatan sekolah pada hari berikutnya ditentukan setelah koordinasi antara Suku Dinas Pendidikan, pihak sekolah, dan Pemerintah Kota Jakarta Selatan.