Suara.com - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligenceI) membuat kebutuhan listrik di berbagai negara terus meningkat. Di balik kemampuan AI menjawab pertanyaan, membuat gambar, hingga membantu pekerjaan sehari-hari, ada ribuan server di pusat data (data center) yang bekerja selama 24 jam tanpa henti.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Energy & Fuels memperkirakan kapasitas listrik pusat data di Amerika Serikat akan meningkat dari sekitar 40 gigawatt pada 2025 menjadi 169 gigawatt pada 2030.
Jika tambahan kebutuhan energi tersebut masih dipenuhi oleh pembangkit listrik berbahan bakar fosil, emisi karbon dioksida diperkirakan bisa bertambah hingga 404 juta metrik ton per tahun.
![Ilustrasi listrik PLTS di IKN. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/original/2023/11/10/22935-ilustrasi-listrik-plts-di-ikn-ist.jpg)
"Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu membangun infrastruktur komputasi, tetapi apakah kita bisa menyediakan listrik yang andal, terjangkau, dan tetap mendukung target dekarbonisasi," kata pakar dari Universitas Rice sekaligus pendiri Low Carbon Energies LLC, Hon Chung Lau.
Bersama Steve C. Tsai, Lau menganalisis data publik mengenai lokasi pusat data, kebutuhan listrik, dan sumber energinya. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan terbesar diperkirakan terjadi di Texas, Virginia, Pennsylvania, Ohio, Arizona, Colorado, Utah, dan Illinois. Texas sendiri diproyeksikan membutuhkan sekitar 25 gigawatt listrik untuk menopang pusat data pada 2030.
Namun, penelitian ini juga menawarkan peluang untuk menekan dampak emisi. Salah satunya melalui teknologi carbon capture and storage (CCS), yaitu menangkap karbon dioksida dari pembangkit listrik sebelum dilepas ke atmosfer, lalu menyimpannya di bawah permukaan tanah.
Peneliti menemukan 34 negara bagian di Amerika Serikat memiliki cadangan akuifer air asin yang berpotensi menyimpan emisi karbon selama lebih dari 100 tahun. Jika penyimpanan karbon lintas negara bagian dimanfaatkan, lebih dari 90 persen emisi karbon dari sektor pusat data berpotensi dikurangi.
Meski demikian, Lau menegaskan bahwa CCS bukan satu-satunya solusi. Menurutnya, pertumbuhan AI perlu dibarengi dengan pemanfaatan energi yang lebih bersih, peningkatan efisiensi pusat data, serta kebijakan yang mendukung transisi energi.
"Ekonomi AI akan terus membutuhkan energi dalam jumlah besar. Penelitian kami membantu menunjukkan di mana permintaan itu akan tumbuh, seberapa besar potensi emisinya, dan bagaimana penyimpanan karbon dapat menjadi bagian dari solusinya," ujar Lau.
Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak harus bertentangan dengan upaya mengatasi perubahan iklim. Dengan perencanaan energi yang tepat, inovasi digital dan target pengurangan emisi dapat berjalan beriringan.