- Mantan anggota Politbiro, Ma Xingrui, resmi dipecat dari Partai Komunis China atas kasus korupsi dan pelanggaran disiplin berat.
- Ma terbukti melakukan praktik suap, penyalahgunaan kekuasaan, hingga membangun jaringan korupsi besar yang melibatkan keluarga serta orang terdekatnya.
- Kasus Ma kini diserahkan kepada pihak kejaksaan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundang-undangan China.
Suara.com - Gelombang pembersihan di tubuh Partai Komunis China kembali memakan korban.
Mantan anggota Politbiro Ma Xingrui resmi dipecat dan dicopot dari jabatannya setelah tersandung kasus korupsi.
Keputusan ini diambil setelah laporan dari Komisi Inspeksi Disiplin yang disetujui oleh Politbiro.
Dalam pernyataan resmi, Ma dituduh melakukan pelanggaran berat terhadap disiplin partai dan hukum negara.
Ma, yang pernah menjabat sebagai kepala partai di Xinjiang, disebut kehilangan idealisme dan keyakinan politiknya.
Ia juga dinilai tidak jujur kepada organisasi saat dimintai klarifikasi atas dugaan pelanggaran.
![Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Zhongnanhai, Beijing, Jumat (15/5/2026) [Suara.com/ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/16/27280-presiden-china-xi-jinping-dan-presiden-amerika-serikat-donald-trump.jpg)
Dokumen resmi menyebut Ma terlibat dalam praktik suap, penyalahgunaan kekuasaan, hingga memberikan keuntungan kepada keluarga dan orang dekat.
Ia bahkan dituduh membangun jaringan korupsi keluarga dalam skala besar.
Tak hanya itu, Ma disebut menerima uang dan hadiah ilegal serta memfasilitasi pembelian properti murah bagi kerabatnya.
Tuduhan lain yang mencuat termasuk pertukaran kekuasaan dengan seks dan uang, yang memperparah kasusnya.
Kasus ini kini akan diserahkan ke jaksa untuk proses hukum lebih lanjut.
Jika terbukti bersalah, Ma berpotensi menghadapi hukuman berat sesuai hukum China.
Pencopotan ini menjadi bagian dari kampanye antikorupsi besar-besaran yang dipimpin Presiden Xi Jinping sejak 2012.
Kampanye tersebut telah menjatuhkan banyak pejabat tinggi, termasuk di level militer dan perusahaan negara.
Meski diklaim untuk membersihkan praktik korupsi, sejumlah pengamat menilai langkah ini juga memperkuat kontrol politik Xi di dalam partai.