-
Kuwait dan Bahrain memperingatkan warga tentang ancaman serangan udara setelah blokade laut Amerika Serikat.
-
Korban sipil berjatuhan akibat serangan Iran terhadap tujuh kapal komersial di perairan Teluk.
-
Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital jika Iran menolak berunding kembali.
Suara.com - Kuwait dan Bahrain langsung memperingatkan warga mereka terkait ancaman militer yang datang beberapa jam setelah Amerika Serikat menerapkan kembali blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Langkah preventif ini diambil seiring meningkatnya eskalasi bersenjata di kawasan Teluk yang melibatkan militer Washington dan Teheran.
Militer Kuwait mengonfirmasi pergerakan pesawat tanpa awak yang mendekat dari wilayah Iran ke area kedaulatan mereka.
![Serangan drone yang dilancarkan Iran menghantam Bandara Internasional Kuwait pada Rabu (3/6/2026) waktu setempat, menyebabkan kerusakan parah dan sejumlah korban luka. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/03/17400-bandara-internasional-kuwait.jpg)
Otoritas pertahanan udara setempat memastikan kesiapan penuh dalam mengantisipasi dan menghancurkan setiap objek udara berbahaya yang masuk.
"Setiap suara ledakan yang terdengar adalah hasil dari sistem Pertahanan Udara yang mencegat serangan musuh," jelas pihak militer Kuwait dikutip dari Al Jazeera, Rabu (15/7/2026).
Kondisi darurat ini memicu kekhawatiran warga setelah sirene peringatan bahaya berbunyi berulang kali di beberapa wilayah Teluk.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain meminta seluruh penduduk untuk tetap tenang dan segera mencari tempat perlindungan yang aman.
Langkah ini menyusul gelombang serangan udara beruntun yang diluncurkan oleh militer Iran ke wilayah Bahrain sejak Selasa lalu.
Garda Revolusi Iran mengeklaim telah menghancurkan pusat kendali kapal tanpa awak milik Amerika Serikat di Bahrain.
Serangan tersebut mempertegas posisi Teheran yang siap melawan dominasi militer Washington di jalur perairan strategis tersebut.
Krisis ini memaksa lembaga keselamatan penerbangan internasional mengambil tindakan cepat demi menghindari jatuhnya korban sipil.
Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) langsung mengeluarkan instruksi darurat kepada seluruh maskapai global.
Mereka diminta menghindari wilayah udara Bahrain, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, hingga sebagian perairan di Teluk Oman.
Konflik bersenjata yang kian agresif ini telah berdampak langsung pada keselamatan jalur perdagangan laut internasional.
Militer Amerika Serikat melaporkan adanya serangan sengaja terhadap tujuh kapal komersial oleh pasukan Iran dalam sepekan terakhir.
Aksi kekerasan di laut tersebut menyebabkan belasan kru kapal dinyatakan tewas, hilang, atau mengalami luka berat.
"Selama tujuh hari terakhir, Iran telah dengan sengaja menargetkan warga sipil di seluruh wilayah dengan menyerang tujuh kapal komersial yang mengakibatkan hampir selusin anggota kru sipil tewas, hilang, atau terluka," kata Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper dalam sebuah pernyataan pada Selasa malam.
"Pasukan Iran juga telah meluncurkan puluhan rudal dan drone ke negara-negara Teluk tetangga. Pasukan AS meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi tidak beralasan yang terus membahayakan nyawa orang-orang tak berdosa," ujarnya.
Ancaman balasan kini datang langsung dari Washington yang siap menargetkan sektor-sektor vital di dalam wilayah Iran.
Presiden Donald Trump menegaskan akan menghancurkan infrastruktur penting Iran jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan.
Target serangan Amerika Serikat mencakup fasilitas jembatan strategis hingga pembangkit listrik di berbagai kota Iran.
Trump juga menyatakan bahwa serangan udara Amerika Serikat terhadap sasaran-sasaran di Iran akan terus berlanjut.
"Berlanjut sampai saya katakan itu cukup," tegas Trump.
Ketegangan geopolitik ini merupakan kelanjutan dari sengketa nuklir jangka panjang dan kontrol ekonomi atas jalur perdagangan minyak internasional.
Hubungan kedua negara semakin memburuk sejak Amerika Serikat secara sepihak memperketat sanksi ekonomi dan meningkatkan operasi militer di perairan Teluk.
Kawasan Timur Tengah kini berada dalam posisi paling rentan terhadap potensi pecahnya perang terbuka skala besar.