Bukan Tanpa Celah, Akademisi Cambridge Beberkan PR Besar dalam Draf RUU Perampasan Aset 2026

Dwi Bowo Raharjo, Bagaskara Isdiansyah

Senin, 20 Juli 2026 | 14:16 WIB
Bukan Tanpa Celah, Akademisi Cambridge Beberkan PR Besar dalam Draf RUU Perampasan Aset 2026
Ahmad Novindri Aji Sukma, seorang advokat sekaligus akademisi dari Cambridge University. (tangkap layar)
baca 10 detik
  • Komisi III DPR menggelar RDPU RUU Perampasan Aset di Jakarta pada Senin, 20 Juli 2026, untuk membahas penguatan pemulihan aset.
  • Akademisi Ahmad Novindri Aji Sukma mendukung pengesahan RUU sebagai solusi atas kelemahan sistem hukum perampasan berbasis putusan pidana saat ini.
  • RUU memerlukan perbaikan pada standar internasional, perlindungan pihak ketiga, serta pengamanan prosedur untuk mencegah potensi konflik kepentingan dalam pengelolaan aset.

Suara.com - Komisi III DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait masukan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/7/2026).

Dalam rapat tersebut, Ahmad Novindri Aji Sukma, seorang advokat sekaligus akademisi dari Cambridge University, menyatakan dukungannya agar RUU ini segera disahkan demi memperkuat kerangka pemulihan aset di Indonesia.

"Posisi saya jelas, yaitu RUU ini layak dan wajib didukung karena Indonesia sungguh memerlukan kerangka pemulihan aset yang kuat," tegas Novindri di hadapan anggota Komisi III DPR RI.

Meski memberikan dukungan penuh, Novindri memberikan catatan kritis mengenai beberapa bagian penting yang dinilai masih menjadi "pekerjaan rumah" bagi pemerintah dan parlemen.

Menurutnya, meski kebutuhan kebijakan sudah sangat kuat, RUU ini masih lemah dalam hal kepatuhan terhadap standar internasional, kesiapan implementasi, serta perlindungan terhadap korban dan pihak ketiga.

Ia menyoroti desain pengamanan prosedural kelembagaan sebagai kelemahan utama dalam draf RUU saat ini.

Novindri juga menekankan perlunya kejelasan dalam standar pembuktian, pembagian tanggung jawab pengelolaan aset, hingga potensi benturan kepentingan.

"Ada potensi konflik kepentingan antara fungsi penegakan hukum dan fungsi pengelolaan aset. Hal ini harus diatur secara saksama agar tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari," ujarnya.

Lebih lanjut, Novindri memaparkan urgensi RUU ini untuk mengatasi keterbatasan sistem hukum saat ini yang sangat bergantung pada perampasan berbasis hukuman pidana (conviction-based forfeiture).

baca juga
ilustrasi RUU Perampasan Aset (ist)
ilustrasi RUU Perampasan Aset (ist)

Menurutnya, pendekatan lama sering menemui jalan buntu dalam empat kondisi: saat pelaku meninggal dunia, melarikan diri, aset disembunyikan melalui pihak ketiga, atau ketika aset telah dikonversi dan dicampur.

"Proses pidana yang berjalan lama juga sering kali memberi celah bagi pelaku untuk memindahkan asetnya. RUU ini hadir untuk menutup empat celah tersebut," jelas Novindri.

Ia kemudian merujuk pada Konvensi PBB Melawan Korupsi (UNCAC) Pasal 54 ayat 1 huruf C dan panduan dari Stolen Asset Recovery Initiative Bank Dunia, yang mendorong negara-negara untuk mempertimbangkan mekanisme perampasan tanpa putusan pidana (non-conviction based forfeiture atau NCB) sebagai pelengkap proses pidana.

Dalam paparannya, Novindri juga membandingkan draf RUU Perampasan Aset versi tahun 2023 dengan draf terbaru tahun 2026. Ia mencatat adanya perubahan arsitektur yang cukup mendasar.

Jika draf tahun 2023 dirancang terutama sebagai rezim perampasan in rem (terhadap asetnya, bukan orangnya), draf tahun 2026 justru menggabungkan dua jalur sekaligus.

"Draf terbaru menggabungkan dua jalur, yaitu perampasan berdasarkan putusan pidana serta perampasan tanpa putusan pidana atau NCB. Desain ini harus dipastikan tetap disertai pengaman prosedural yang memadai agar tetap adil," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

RUU Perampasan Aset, Akademisi Usul Pembentukan Badan Khusus Agar Barang Sitaan Tak Rusak

RUU Perampasan Aset, Akademisi Usul Pembentukan Badan Khusus Agar Barang Sitaan Tak Rusak

News | Senin, 20 Juli 2026 | 14:00 WIB

Sitaan Fantastis di Kasus Korupsi Terbaru, Sejauh Mana Urgensi RUU Perampasan Aset?

Sitaan Fantastis di Kasus Korupsi Terbaru, Sejauh Mana Urgensi RUU Perampasan Aset?

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 09:45 WIB

Adian Napitupulu Terima Buku Anotasi KUHAP, Ini Fungsinya

Adian Napitupulu Terima Buku Anotasi KUHAP, Ini Fungsinya

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 21:43 WIB

Legislator PDIP Tegaskan RUU Perampasan Aset Jalan Terus: Kita Geber Sampai Sah!

Legislator PDIP Tegaskan RUU Perampasan Aset Jalan Terus: Kita Geber Sampai Sah!

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 20:53 WIB

Terkini

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Bogor | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:31 WIB

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Video | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:15 WIB

Pendapatan Barito Pacific Melonjak 56%, Laba Bersih Tembus US$616 Juta

Pendapatan Barito Pacific Melonjak 56%, Laba Bersih Tembus US$616 Juta

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:09 WIB

Floral, Fruity, atau Woody? Kenali Karakter Aroma Sebelum Memilih Parfum

Floral, Fruity, atau Woody? Kenali Karakter Aroma Sebelum Memilih Parfum

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:08 WIB

Cegah Balap Liar! JLNT Antasari Ditutup Tiap Akhir Pekan Mulai 14 November

Cegah Balap Liar! JLNT Antasari Ditutup Tiap Akhir Pekan Mulai 14 November

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Ketegangan Gas dengan Singapura, Indonesia Disebut Buktikan Nyali dan Kedaulatan Energi

Ketegangan Gas dengan Singapura, Indonesia Disebut Buktikan Nyali dan Kedaulatan Energi

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:53 WIB

MHU Pangkas Emisi Tambang 41,34%, Lampaui Target Penurunan hingga 2030

MHU Pangkas Emisi Tambang 41,34%, Lampaui Target Penurunan hingga 2030

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:43 WIB

JIS Mulai Dilirik Investor Naming Rights, Pramono Ungkap Ada 15 Konser Tahun Depan

JIS Mulai Dilirik Investor Naming Rights, Pramono Ungkap Ada 15 Konser Tahun Depan

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Kerap Jadi Alat Kriminalisasi, Perumus Kritik Penerapan Pasal UU Tipikor: Sudah Jauh Menyimpang!

Kerap Jadi Alat Kriminalisasi, Perumus Kritik Penerapan Pasal UU Tipikor: Sudah Jauh Menyimpang!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:37 WIB

×