Jangan Jerat Tersangka saja, Komnas HAM Dorong Korban Dapat Pemenuhan Hak Atas Pidana Korupsi

Bangun Santoso

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:31 WIB
Jangan Jerat Tersangka saja, Komnas HAM Dorong Korban Dapat Pemenuhan Hak Atas Pidana Korupsi
Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM Uli Parulian Sihombing, memaparkan tentang tindak pidana korupsi (tipikor) sebagai bentuk pelanggaran HAM, dalam forum "Rekomendasi Penelitian 'Korupsi dan Pemulihan Pelanggaran HAM: Mendorong Pendekatan berbasis HAM dalam Pemberantasan Korupsi" di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (21/7/2026). (Suara.com/Cornelius Juan Prawira)
baca 10 detik
  • Komnas HAM dan KPK menilai tindak pidana korupsi merupakan pelanggaran HAM yang menimbulkan kerugian kolektif bagi masyarakat luas.
  • Regulasi saat ini dianggap belum mengakui masyarakat sebagai korban sehingga mekanisme pemulihan hak korban belum tersedia secara hukum.
  • Pemerintah diharapkan segera menyelaraskan instrumen hukum melalui revisi UU Tipikor demi melindungi hak warga negara yang terdampak korupsi.

Suara.com - Pemberantasan korupsi kerap terbatas pada kerugian negara. Negara dianggap sebagai korban korupsi, padahal korupsi mencederai masyarakat dan lingkungan.

Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Uli Parulian Sihombing, menilai tindak pidana korupsi (tipikor) adalah bentuk pelanggaran HAM.

"Korupsi menimbulkan korban kolektif. Masyarakat mengalami penurunan kesejahteraan, kerusakan lingkungan, hingga rendahnya kualitas pendidikan dan infrastruktur," ujarnya di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Komnas HAM menilai pelanggaran itu terjadi karena ada inkonsistensi regulasi berupa celah antara Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tipikor dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.

Meski praktik korupsi adalah pelanggaran HAM berdasarkan Pasal 1 UU HAM, namun UU Tipikor hanya berfokus pada negara tanpa punya mekanisme permulihan hak-hak masyarakat.

Padahal Komnas HAM menilai perspektif UU Tipikor sebenarnya mengacu ke pemulihan, terutama kaitannya dengan pelanggaran hak ekonomi, sosial, dan budaya.

Kedua, Komnas HAM menjumpai sempitnya definisi korban kolektif atau masyarakat belum diakui secara hukum dalam proses peradilan tipikor.

Ketiga, proses penyitaan hingga lelang aset membutuhkan waktu lama sehingga nilai aset menyusut (depresiasi).

Selain itu, hasil lelang masuk ke kas negara sebagai PNBP tanpa ada alokasi khusus untuk pemulihan dampak pelanggaran HAM yang terjadi akibat korupsi tersebut.

baca juga

"Ada kewajiban negara untuk menghormati, melindungi dan memenuhi aspek HAM korban korupsi," katanya.

Kerugian Korban Sulit Dibuktikan

Kasatgas Penindakan Ditkorsup Wilayah IV Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jarot Faizal, menilai UU Tipikor saat ini menyamakan "korban" korupsi sebagai "negara".

Baginya, kerugian masyarakat sulit dibuktikan secara hukum karena tidak ada aturan khusus yang mengatur kerugian individu dalam korupsi.

Undang-undang saat ini dinilainya lebih banyak mengatur hak-hak tersangka agar tidak terjadi pelanggaran HAM dalam proses hukum, namun kurang memperhatikan pemulihan bagi korban terdampak.

"Unsur tindak pidana korupsi itu sendiri menegaskan adanya kerugian keuangan negara atau perekonomian negara. Tidak membahas kerugian orang perorangan. Tetapi orang perorangan tersebut terdampak dari tindak pidana korupsi itu sendiri " jelasnya.

Jarot menerangkan kerugian individu akibat korupsi sulit dihitung secara nyata dan pasti dalam bentuk uang, sehingga auditor Badan Pemeriksa Keuangan serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan hanya fokus pada angka kerugian negara.

Meski begitu, melalui Pasal 603 dan 604 KUHP baru dan rencana revisi UU Tipikor, ia berharap ada penyelarasan instrumen hukum yang memasukkan definisi "korban" dan mekanisme pemulihannya berdasarkan prinsip HAM dan konvensi anti-korupsi internasional (UNCAC).

"Jika ke depan misalkan ada peluang untuk melakukan revisi terhadap norma Tipikor ini, berarti ini sangat mungkin dimasukkan terminologi korban dan pemulihan korban. Ada, tapi mohon izin, perjuangannya akan berat," pungkasnya. (Reporter: Cornelius Juan Prawira)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kena OTT KPK, Bupati Lombok Barat Simpan Harta Rp25,5 Miliar

Kena OTT KPK, Bupati Lombok Barat Simpan Harta Rp25,5 Miliar

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:29 WIB

Kronologi Korupsi Mulyono Terungkap, Kepala Kantor Pajak Terima Suap Miliaran

Kronologi Korupsi Mulyono Terungkap, Kepala Kantor Pajak Terima Suap Miliaran

Bisnis | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:28 WIB

Tiga Dugaan Korupsi Bupati Lombok Barat yang Terungkap Usai OTT

Tiga Dugaan Korupsi Bupati Lombok Barat yang Terungkap Usai OTT

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:12 WIB

Profil 3 Perusahaan dalam Dugaan Korupsi Batu Bara, BUMN Ikut Terlibat

Profil 3 Perusahaan dalam Dugaan Korupsi Batu Bara, BUMN Ikut Terlibat

Bisnis | Selasa, 21 Juli 2026 | 10:56 WIB

Pengamat: Tuntut Hukuman Berat Terhadap Eks Jampidsus demi Keadilan

Pengamat: Tuntut Hukuman Berat Terhadap Eks Jampidsus demi Keadilan

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 10:00 WIB

Bupati Lombok Barat Diciduk KPK, Mendagri Tito: Saya Prihatin, Padahal Sudah Dibina

Bupati Lombok Barat Diciduk KPK, Mendagri Tito: Saya Prihatin, Padahal Sudah Dibina

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 08:20 WIB

Kena OTT KPK, Bupati Lombok Barat Punya 24 Aset Properti Tersebar di Berbagai Daerah

Kena OTT KPK, Bupati Lombok Barat Punya 24 Aset Properti Tersebar di Berbagai Daerah

Bisnis | Selasa, 21 Juli 2026 | 08:07 WIB

Terkini

Deklrasi Sumpah Pemuda dengan Massa Bayaran Buat Gaduh, Young Lex Tampar Raffi Ahmad

Deklrasi Sumpah Pemuda dengan Massa Bayaran Buat Gaduh, Young Lex Tampar Raffi Ahmad

Entertainment | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:35 WIB

Cekcok Pagi Berujung Maut, Pria di Blitar Tewas Dihantam Gagang Cangkul Tetangga

Cekcok Pagi Berujung Maut, Pria di Blitar Tewas Dihantam Gagang Cangkul Tetangga

Jatim | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:33 WIB

5 Sabun Cuci Muka untuk Kulit Kering dan Kusam di Bawah Rp50 Ribu

5 Sabun Cuci Muka untuk Kulit Kering dan Kusam di Bawah Rp50 Ribu

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:32 WIB

Saham RANS Milik Raffi Ahmad Terpuruk! Ribuan Investor Angkat Kaki

Saham RANS Milik Raffi Ahmad Terpuruk! Ribuan Investor Angkat Kaki

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:30 WIB

Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus

Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:25 WIB

Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival

Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:22 WIB

Sassuolo Terpuruk Tanpa Jay Idzes, Pertahanan Bobol 16 Gol dalam 8 Laga

Sassuolo Terpuruk Tanpa Jay Idzes, Pertahanan Bobol 16 Gol dalam 8 Laga

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:21 WIB

Mees Hilgers Comeback Usai 520 Hari, Pelatih Heerenveen Langsung Beri Tantangan

Mees Hilgers Comeback Usai 520 Hari, Pelatih Heerenveen Langsung Beri Tantangan

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:14 WIB

Pertamina Bidik Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Hijau

Pertamina Bidik Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Hijau

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:11 WIB

Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians

Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:10 WIB

×