-
Polisi Jerman menembak mati Abdul Ballout, pelaku penabrakan parade Pride di Berlin.
-
Pelaku tewas saat menyerang polisi menggunakan senjata tajam di kawasan Spandau.
-
Tragedi penabrakan mobil tersebut menewaskan satu orang dan melukai 29 korban lainnya.
"Dia dikenal oleh kami sebagai anggota lingkaran Islam di sini di Berlin, dan pencarian kami terhadap orang ini berjalan dengan kecepatan penuh," tegas Florian Nath saat perburuan berlangsung.
Wali Kota Berlin Kai Wegner menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja cepat jajaran kepolisian dalam membekuk pelaku.
Meski demikian, publik tetap mempertanyakan kepolisian yang meloloskan sosok berbahaya tersebut hingga mampu melancarkan aksi teror.
"Bahwa polisi Berlin berhasil menangkap tersangka dalam waktu 24 jam adalah keberhasilan besar bagi pihak berwenang yang melakukan penyelidikan," kata Kai Wegner kepada RBB. "Dan saya sangat berterima kasih untuk itu."
Canselor Friedrich Merz berjanji akan mengusut tuntas seluruh jaringan yang terlibat dalam tragedi berdarah ini.
Ia meminta seluruh warga Jerman untuk tetap bersatu dan tidak terintimidasi oleh aksi kekerasan radikal.
Aksi teror tersebut menerjang parade damai yang berlangsung di kawasan taman Tiergarten dekat Gerbang Brandenburg.
Sebuah mobil van melaju kencang menabrak kerumunan pengunjung hingga menyebabkan satu orang tewas dan 29 luka-luka.
"Setelah parade Pride yang damai dan bersemangat, reli untuk Berlin yang toleran dan damai diserang dengan cara yang paling brutal," tutur Kai Wegner penuh keprihatinan.
Ia menegaskan bahwa tindakan keji tersebut merupakan ancaman langsung bagi nilai-nilai kebebasan masyarakat modern.
"Ini adalah serangan terhadap masyarakat kita yang bebas dan kosmopolitan," tambah Wegner.
Aksi penabrakan terjadi pada Sabtu malam sekitar pukul 22.00 GMT di tengah perayaan Berlin Pride. Setelah menabrakkan van ke arah massa, pelaku keluar dari kendaraan dan menyerang warga menggunakan parang sebelum melarikan diri.
Pelaku Abdul Ballout sebelumnya sudah masuk dalam pengawasan otoritas keamanan atas kasus hukum terkait percobaan bergabung dengan ISIS. Tragedi ini langsung memicu perdebatan politik hangat di Jerman mengenai kebijakan keamanan nasional serta pengawasan terhadap eks-narapidana radikal.