-
Lonjakan kelahiran prematur di Gaza dipicu oleh kelaparan, stres berat, dan hancurnya fasilitas medis.
-
Rumah sakit kekurangan inkubator, oksigen, dan listrik untuk menyelamatkan nyawa bayi prematur yang kritis.
-
Bantuan nutrisi dan medis sangat mendesak untuk melindungi keselamatan ibu dan bayi baru lahir.
Tekanan kerja membubung tinggi di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa sebagai satu-satunya penyedia layanan inkubator tersisa di wilayah tengah Gaza.
"Kami bekerja di bawah tekanan yang sangat besar, dengan kekurangan inkubator, ventilator, obat-obatan, dan perlengkapan dasar, selain pemadaman listrik dan kelangkaan bahan bakar yang berulang kali memicu ancaman langsung bagi bayi di dalam inkubator," papar Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Minimnya durasi pemantauan medis membuat bayi prematur berisiko tinggi mengalami hipotermia, hipoglikemia, hingga infeksi sistemik berbahaya.
"Sayangnya, kita mungkin kehilangan bayi-bayi yang sebenarnya bisa selamat jika mereka menerima perawatan dasar," tambah Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Pemisahan fisik antara ibu dan anak secara mendadak menciptakan guncangan emosional berat di tengah kehancuran infrastruktur kesehatan.
"Daripada memeluk bayi mereka dan merayakannya, para ibu melihat mereka dipindahkan langsung ke inkubator atau unit perawatan intensif. Ketakutan mereka berlipat ganda karena perang telah memengaruhi segalanya, mulai dari peralatan dan perlengkapan medis hingga pemadaman listrik dan kepadatan berlebih di rumah sakit," kata Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Petualangan medis terus berlanjut tanpa henti demi menyelamatkan nyawa generasi penerus yang berada di ambang kematian.
"Kami terus bekerja siang dan malam tanpa tidur, dan kami melakukan semua yang kami bisa untuk menyelamatkan setiap anak, tetapi dalam banyak kasus, kebutuhan bayi lebih besar daripada sumber daya yang tersedia," lanjut Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Penderitaan keluarga tidak berhenti saat keluar dari rumah sakit karena hilangnya akses membeli susu formula serta alat sterilisasi.
"Banyak keluarga kehilangan segalanya karena pengungsian, meninggalkan para ibu tanpa pakaian bayi, popok, selimut, susu formula, atau air bersih," jelas Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Yayasan Qutoof Al-Khair di pengungsian Nuseirat berupaya mendistribusikan suplemen serta obat-obatan mendasar bagi ibu menyusui.
Ketua Yayasan, Akram Abu Jiab, membeberkan besarnya lonjakan permintaan bantuan nutrisi khusus dari para keluarga korban perang.
"Bayi prematur membutuhkan perawatan khusus dan pemantauan medis berkelanjutan bahkan setelah keluar dari inkubator," ungkap Akram Abu Jiab.
"Namun, banyak keluarga menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan medis dan nutrisi dasar anak-anak mereka," tambahnya.
Ketimpangan antara ketersediaan bantuan dan kebutuhan riil di lapangan kian melebar setiap harinya.
"Skala kebutuhan jauh melebihi sumber daya yang tersedia. Kesenjangan antara kebutuhan dan dukungan terus membesar setiap hari," tutur Akram Abu Jiab.
Dukungan penuh terhadap kesehatan ibu dan anak menjadi fondasi mutlak demi menjamin keberlanjutan hidup generasi Gaza masa depan.
"Di balik setiap bayi yang lahir di Gaza ada seorang ibu yang mencoba melindungi anaknya dalam kondisi yang luar biasa. Mendukung para ibu dan anak pada tahap ini bukanlah sebuah kemewahan; ini adalah sebuah keharusan untuk melindungi kehidupan generasi berikutnya," tegas Akram Abu Jiab.
Krisis kesehatan maternal dan neonatal di Gaza memuncak sejak berlanjutnya eskalasi militer dan krisis kemanusiaan setelah 7 Oktober 2023.
Blokade total menyebabkan kelumpuhan pasokan bahan bakar, obat-obatan, serta malnutrisi sistemik yang merusak fasilitas kesehatan secara masif.