-
Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 20 kapal perang untuk memperketat blokade terhadap Iran.
-
Sebanyak 18 kapal komersial telah diperintahkan mengubah rute akibat pengetatan blokade laut AS.
-
Kesepakatan gencatan senjata batal setelah AS dan Iran kembali saling menyerang pangkalan militer.
Suara.com - Penguatan militer besar-besaran kembali terjadi di Timur Tengah setelah militer Amerika Serikat menyiagakan 20 kapal tempur secara simultan. Langkah agresif ini menandai babak baru perang AS-Iran yang kian meruncing di kawasan tersebut dengan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi pergerakan taktis belasan armada tempur guna mengawal kepentingan operasi strategis mereka. Pengawasan ketat di perairan internasional kini menjadi prioritas utama guna menekan ruang gerak armada Iran.
"Ada lebih dari 20 kapal yang beroperasi di seluruh wilayah Timur Tengah untuk mendukung operasi militer, termasuk penegakan ketat blokade tembok baja AS terhadap Iran," kata CENTCOM di platform X.

Operasi penyekatan jalur perairan ini juga berdampak langsung pada lalu lintas pelayaran kapal komersial swasta. Otoritas militer Amerika Serikat terus memperluas jangkauan penindakan terhadap kapal-kapal yang dicurigai melanggar aturan perbatasan.
Langkah tegas tersebut memicu pengalihan rute paksa terhadap sejumlah armada niaga yang melintas di sekitar kawasan konflik.
Pihak militer mencatat penambahan armada sipil yang terdampak penertiban lalu lintas laut tersebut.
"Selain itu, satu kapal komersial tambahan telah diperintahkan untuk mengubah arah pelayarannya sesuai dengan blokade angkatan laut tersebut, sehingga jumlahnya menjadi 18," lanjut CENTCOM.
Eskalasi militer ini terbilang ironis mengingat kedua belah pihak sempat menyepakati komitmen perdamaian beberapa pekan sebelumnya. Dokumen kesepahaman tersebut awalnya digadang-gadang mampu meredam gejolak pertempuran yang pecah sejak awal tahun.
AS dan Iran sebenarnya telah menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengupayakan berakhirnya konflik sejak 28 Februari.
Namun, komitmen diplomasi tersebut runtuh setelah serangkaian gempuran udara kembali dilancarkan oleh armada Washington. Aksi saling tuduh mengenai pelanggaran wilayah perairan menjadi pemicu utama rusaknya stabilitas keamanan yang sempat terbangun.
Pihak Paman Sam bergeming dan mengklaim aksi serang balik tersebut sebagai tindakan perlindungan jalur perdagangan. Namun, militer AS kembali melancarkan beberapa serangan terhadap Iran sejak 8 Juli. CENTCOM mengklaim bahwa hal ini merupakan respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Langkah ofensif Washington memicu balasan proporsional dari pihak Tehran yang menyasar instalasi militer Amerika Serikat. Pemerintah Iran menganggap tindakan Amerika Serikat sebagai bentuk pengkhianatan nyata terhadap poin-poin kesepakatan damai.
Saling balas serangan ini memuncak pada pembatalan sepihak atas status gencatan senjata oleh kepemimpinan Gedung Putih. Iran kemudian melakukan balasan dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS yang berada di Timur Tengah dan menuding AS melanggar perjanjian gencatan senjata. Trump kemudian menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati oleh Iran tidak lagi berlaku.