- Pemerintah Amerika Serikat menyatakan perundingan damai dengan Iran hanya dapat dimulai jika Teheran menyetujui gencatan senjata terlebih dahulu.
- Militer AS telah menggempur target strategis di Iran sebagai balasan atas serangan terhadap pangkalan militer di Yordania.
- Presiden Donald Trump menuntut Selat Hormuz tetap bebas biaya pelayaran internasional tanpa adanya tarif lintas.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa peluang perundingan damai dengan Iran hanya bisa dimulai jika Teheran menyetujui gencatan senjata.
Seorang pejabat AS menyebut langkah berikutnya kini sepenuhnya berada di tangan Iran.
“Ini adalah dasar dari setiap negosiasi; harus dimulai dengan gencatan senjata, dan itu harus dimulai dari Iran,” kata pejabat AS tersebut seperti dinukil dari NY Post.
Presiden Donald Trump dikabarkan masih membuka ruang diplomasi, namun tetap bersikap tegas terhadap setiap serangan dari Iran.
Ia bahkan mengisyaratkan pendekatan keras jika Teheran terus melakukan agresi terhadap kepentingan AS dan sekutunya.
![Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker di Selat Hormuz. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/14/45682-iran-serang-kapal-tanker.jpg)
“Presiden jelas ingin kesepakatan tercapai secepatnya. Tapi jika Iran terus menyerang kapal, pangkalan AS, atau sekutu di Teluk, akan ada harga yang harus dibayar,” lanjut pejabat tersebut.
Ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di Yordania.
Sebagai balasan, militer AS langsung menggempur sejumlah target strategis di Iran, termasuk pusat komando, fasilitas rudal, dan drone.
Serangan tersebut disebut bertujuan melemahkan ancaman Iran terhadap pasukan AS, jalur pelayaran internasional, serta negara-negara Teluk.
Asap dilaporkan membumbung di beberapa wilayah setelah rentetan serangan tersebut.
Di sisi lain, dinamika internal Iran turut mempersulit jalan menuju kesepakatan.
Garda Revolusi Iran (IRGC) disebut bertentangan dengan pemerintah sipil yang mendorong jalur diplomasi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi diketahui masih berupaya membuka dialog damai.
Namun IRGC justru terus melancarkan aksi militer dan bersikeras mengontrol Selat Hormuz.
“Pimpinan Iran harus merapikan urusan dalam negerinya,” tegas pejabat AS tersebut.
Meski situasi memanas, komunikasi antara kedua pihak tetap berjalan melalui tim teknis dan mediator internasional.
Kesepakatan yang dibahas disebut-sebut akan menyerupai nota kesepahaman baru, dengan sejumlah poin utama tetap dipertahankan.
Salah satu tuntutan utama Trump adalah Selat Hormuz tetap bebas biaya bagi jalur pelayaran internasional.
Ia menolak rencana Iran dan Oman yang ingin mengenakan tarif bagi kapal yang melintas.
Namun, IRGC menunjukkan sikap sebaliknya. Dalam pernyataan terbarunya, kelompok itu menegaskan siap membalas setiap serangan dan mengancam negara-negara yang membantu AS.
Trump sendiri tak menutup kemungkinan aksi militer lanjutan, “Kami akan menghantam mereka dengan keras,” ujarnya.