-
Arab Saudi menggalang koalisi 14 negara untuk mengamankan jalur minyak Laut Merah dari Houthi. (14 kata)
-
Ancaman blokade Houthi memicu penurunan drastis lalu lintas kapal kargo di Selat Bab el-Mandeb. (14 kata)
-
Harga minyak mentah Brent terkoreksi ke 90 dolar AS per barel di tengah eskalasi geopolitik. (14 kata)
Suara.com - Arab Saudi memimpin pembentukan koalisi pertahanan maritim internasional untuk melindungi jalur pelayaran vital ekspor minyak dari ancaman kelompok milisi Houthi Yaman. Inisiatif ini dirancang guna mencegah kelumpuhan rantai pasok energi global akibat potensi gangguan keamanan di kawasan Laut Merah.
Pertemuan strategis yang digagas Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh menghimpun perwakilan hampir 50 negara dunia. Fokus utama pembahasan adalah pengamanan koridor maritim strategis mencakup Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah, hingga Teluk Aden.
Dikutip dari The Hills, sebanyak 14 negara resmi mengonfirmasi komitmen mereka untuk bergabung dalam aliansi militer tersebut, termasuk Turki, Mesir, Nigeria, serta Pakistan. Langkah penggalangan kekuatan ini merespons gertakan milisi Houthi yang berikrar memberlakukan blokade laut terhadap armada kapal Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb.
![ilustrasi Laut Merah [Suara.com/Google Maps]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/16/53234-ilustrasi-laut-merah.jpg)
Pemerintah Pakistan mengecam keras gertakan kelompok Houthi dan menilai rencana blokade tersebut melanggar aturan hukum internasional. Ancaman milisi yang disokong Iran tersebut dilontarkan sebagai balasan atas penyerangan yang menghancurkan Bandara Internasional Sanaa di Yaman utara.
Meskipun demikian, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi secara resmi menyatakan bertanggung jawab atas serangan udara di bandara tersebut.
Eskalasi keamanan di kawasan Laut Merah kian menjadi sorotan kritis seiring membara kembalinya konflik Amerika Serikat dan Iran sejak Februari lalu.
Ketegangan tersebut memicu penutupan parsial hingga total di Selat Hormuz, yang melayani transit seperlima kebutuhan minyak bumi dunia.
Data platform analitik Kpler mencatat arus lalu lintas kapal kargo di Laut Merah merosot drastis hingga menyentuh angka 11 kapal per hari.
Capaian angka melintas tersebut menjadi rekor terendah dalam beberapa bulan terakhir akibat kewaspadaan pelaku industri pelayaran.
Milisi Houthi terus mengklaim serangkaian operasi serangan terhadap armada kapal Arab Saudi meski wilayah kekuasaan mereka di Yaman terus digempur.
Sebelumnya, kelompok Houthi juga menargetkan wilayah Israel dan jalur pelayaran internasional sebagai bentuk dukungan terhadap milisi Hamas.
Di tengah gejolak militer ini, harga minyak mentah acuan Brent melandai ke level lebih dari 90 dolar AS per barel.
Pergerakan harga tersebut terkoreksi setelah sempat melonjak hingga menembus angka 101 dolar AS per barel pada pekan sebelumnya.
Konflik berkepanjangan di Yaman dan eskalasi geopolitik Timur Tengah telah menempatkan kawasan Laut Merah sebagai titik rawan keamanan global.
Selat Bab al-Mandeb merupakan alur pelayaran utama yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, menjadi urat nadi distribusi komoditas energi dunia. Serangan bertubi-tubi terhadap kapal tanker minyak berpotensi memicu krisis energi dunia serta melonjaknya biaya logistik global secara masif.