- Mahasiswa KKN-PPM UGM bersama Najihah Batik mengadakan pelatihan membatik teknik ciprat bagi penyandang disabilitas di Desa Tampo pada Jumat, 31 Juli 2026.
- Tim UGM menyerahkan e-modul panduan membatik adaptif kepada sekolah agar pelatihan keterampilan kerja dapat terus berlanjut secara mandiri oleh para guru.
- Najihah Batik memasarkan produk layak jual dan menggaji secara profesional para penyandang disabilitas untuk membantu mereka memasuki dunia kerja.
"Salah satu yang membuat KKN tahun ini berbeda adalah mereka juga punya kreasi e-modul itu. Jadi itu bisa dipakai sebagai acuan bagi guru-guru disabilitas," ujar Umi.
Berharap Tak Berhenti di Pelatihan
Umi mengatakan Najihah Batik telah memberdayakan penyandang disabilitas sejak lima tahun terakhir. Baginya, tantangan terbesar bukan menggelar pelatihan, melainkan memastikan hasil karya mereka benar-benar memiliki nilai ekonomi.
Oleh karena itu, produk batik karya penyandang disabilitas ikut dipasarkan melalui galeri batik miliknya dan para pembuatnya pun dibayar secara profesional ketika hasilnya layak jual.
"Kita berusaha agar program ini tidak berhenti di pelatihan saja... kita punya galeri, jadi kita jualkan juga produknya," ucapnya.
Saat ini terdapat empat pekerja penyandang disabilitas yang berkarya di Najihah Batik bersama 12 pekerja lainnya. Bahkan, menurut Umi, beberapa produk batik karya penyandang disabilitas telah diminati pembeli sebelum seluruh proses produksinya selesai.
"Jadi sebenarnya sebuah preseden baik bagi difabel ketika memang ada yang merekrut mereka tidak hanya sebatas memanfaatkan mereka untuk buat program acara pelatihan," tandasnya.
Harapan serupa turut disampaikan Kepala SLB Negeri Tamanagung, Pipit Suparlin. Ia menilai membatik bukan sekadar keterampilan vokasional.
Menurutnya, membatik merupakan sarana membangun karakter, meningkatkan rasa percaya diri, melatih fokus, hingga mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja.
"Membatik ini tidak hanya sekadar kegiatan vokasional, tetapi membatik ini juga bisa memberikan pembelajaran terutama penanaman karakter bagi siswa-siswi kami," ungkap Pipit.
SLB Negeri Tamanagung sendiri telah bermitra dengan Najihah Batik selama sekitar tiga tahun. Sejumlah alumninya bahkan telah diterima bekerja di dunia usaha.
Salah satu peserta pelatihan, Niza Aulia Sari, siswi kelas XII SMP, mengaku menikmati proses belajar membatik dan ingin terus menekuni keterampilan tersebut setelah lulus sekolah.
"Mau membatik (setelah lulus)," ucap Niza dengan bahasa isyarat.