- Mahasiswa KKN-PPM UGM bersama Najihah Batik mengadakan pelatihan membatik teknik ciprat bagi penyandang disabilitas di Desa Tampo pada Jumat, 31 Juli 2026.
- Tim UGM menyerahkan e-modul panduan membatik adaptif kepada sekolah agar pelatihan keterampilan kerja dapat terus berlanjut secara mandiri oleh para guru.
- Najihah Batik memasarkan produk layak jual dan menggaji secara profesional para penyandang disabilitas untuk membantu mereka memasuki dunia kerja.
Suara.com - Selembar kain putih di tangan anak-anak penyandang disabilitas perlahan berubah menjadi karya batik penuh warna. Di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, proses membatik bukan hanya menjadi aktivitas seni.
Kesenian itu juga membuka harapan baru agar mereka memiliki bekal keterampilan untuk memasuki dunia kerja.
Program tersebut merupakan langkah kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Najihah Batik melalui pelatihan membatik dengan teknik adaptif menggunakan metode ciprat.
Pelatihan itu diikuti 25 penyandang disabilitas dari tiga sekolah di wilayah Kecamatan Cluring dan sekitarnya. Berbeda dengan pelatihan membatik pada umumnya yang mengandalkan canting, kali ini peserta diajak menggunakan teknik ciprat yang dinilai lebih ramah bagi berbagai ragam disabilitas sekaligus memberi ruang untuk mengekspresikan kreativitas tanpa terikat pola tertentu.
Anggota Tim KKN-PPM UGM Banyuwangi, Febriano Agung Nugroho, mengatakan program tersebut lahir sebagai respons atas masih terbatasnya kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, Desa Tampo yang telah ditetapkan sebagai desa tematik batik memiliki potensi menjadi pusat pelatihan membatik bagi penyandang disabilitas.
"Kami hendak memunculkan satu unique selling point dari desa ini bahwa kalau bisa ke depannya ini menjadi satu pusat pelatihan membatik bagi teman-teman difabel," kata Agung saat ditemui di lokasi KKN, Jumat (31/7/2026).
Tak sekadar pelatihan, tim KKN turut menyusun e-modul membatik adaptif yang nantinya diserahkan kepada sekolah-sekolah luar biasa (SLB).
Modul tersebut diharapkan dapat menjadi panduan bagi guru maupun pendamping sehingga pelatihan tidak selalu bergantung pada kehadiran perajin batik.
"Kami membuat e-modul ini sebagai satu solusi bahwa mereka tidak perlu mendatangkan atau datang ke pengrajin, tapi mereka sudah ada panduannya," ujarnya.
Teknik Ciprat Dipilih agar Lebih Inklusif
Agung menuturkan bahwa pemilihan teknik ciprat merupakan hasil evaluasi dari program tahun sebelumnya. Saat itu, pelatihan menggunakan teknik canting, namun belum mampu mengakomodasi seluruh peserta disabilitas.
Teknik ciprat dinilai lebih mudah diterapkan sekaligus memberi kebebasan bagi peserta untuk menuangkan ekspresi mereka ke dalam karya.
"Teknik ciprat karena ini relatif bisa dilakukan oleh semua teman-teman disabilitas. Selain itu mampu mengeksplorasi ekspresi mereka tanpa ada satu batasan mereka harus mengikuti motif-motif tertentu," tandasnya.
Pemilik Najihah Batik sekaligus Ketua TP PKK Desa Tampo, Umi Najikhah Fikriyah, menyebut inovasi tersebut menjadi pembeda program KKN tahun ini.
Menurutnya, keberadaan e-modul juga akan memudahkan guru ketika terjadi pergantian tenaga pendidik sehingga proses pembelajaran membatik tetap dapat berlangsung secara berkelanjutan.
"Salah satu yang membuat KKN tahun ini berbeda adalah mereka juga punya kreasi e-modul itu. Jadi itu bisa dipakai sebagai acuan bagi guru-guru disabilitas," ujar Umi.
Berharap Tak Berhenti di Pelatihan
Umi mengatakan Najihah Batik telah memberdayakan penyandang disabilitas sejak lima tahun terakhir. Baginya, tantangan terbesar bukan menggelar pelatihan, melainkan memastikan hasil karya mereka benar-benar memiliki nilai ekonomi.
Oleh karena itu, produk batik karya penyandang disabilitas ikut dipasarkan melalui galeri batik miliknya dan para pembuatnya pun dibayar secara profesional ketika hasilnya layak jual.
"Kita berusaha agar program ini tidak berhenti di pelatihan saja... kita punya galeri, jadi kita jualkan juga produknya," ucapnya.
Saat ini terdapat empat pekerja penyandang disabilitas yang berkarya di Najihah Batik bersama 12 pekerja lainnya. Bahkan, menurut Umi, beberapa produk batik karya penyandang disabilitas telah diminati pembeli sebelum seluruh proses produksinya selesai.
"Jadi sebenarnya sebuah preseden baik bagi difabel ketika memang ada yang merekrut mereka tidak hanya sebatas memanfaatkan mereka untuk buat program acara pelatihan," tandasnya.
Harapan serupa turut disampaikan Kepala SLB Negeri Tamanagung, Pipit Suparlin. Ia menilai membatik bukan sekadar keterampilan vokasional.
Menurutnya, membatik merupakan sarana membangun karakter, meningkatkan rasa percaya diri, melatih fokus, hingga mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja.
"Membatik ini tidak hanya sekadar kegiatan vokasional, tetapi membatik ini juga bisa memberikan pembelajaran terutama penanaman karakter bagi siswa-siswi kami," ungkap Pipit.
SLB Negeri Tamanagung sendiri telah bermitra dengan Najihah Batik selama sekitar tiga tahun. Sejumlah alumninya bahkan telah diterima bekerja di dunia usaha.
Salah satu peserta pelatihan, Niza Aulia Sari, siswi kelas XII SMP, mengaku menikmati proses belajar membatik dan ingin terus menekuni keterampilan tersebut setelah lulus sekolah.
"Mau membatik (setelah lulus)," ucap Niza dengan bahasa isyarat.