-
Amerika Serikat menunda serangan militer ke Iran demi memberikan kesempatan pada proses diplomasi.
-
Arab Saudi dan sekutu Teluk mendesak AS menahan diri dari eskalasi militer regional.
-
Batalnya serangan militer AS ke Iran langsung memicu penurunan harga minyak dunia.
Suara.com - Negosiasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berlangsung pada Senin sore setelah Washington membatalkan rencana serangan militer. Langkah ini diambil guna memberi ruang bagi kesepakatan diplomatik terkait Selat Hormuz dan isu nuklir.
Keputusan mundur tersebut dipicu oleh desakan intensif dari negara sekutu seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Pemimpin kawasan mengkhawatirkan krisis kemanusiaan serta potensi gelombang pengungsi jika konfrontasi bersenjata tetap dilancarkan.
Penghentian operasi militer ini langsung menenangkan pasar energi global hingga memicu penurunan harga minyak dunia. Harga minyak mentah jenis Brent dan West Texas Intermediate seketika anjlok lebih dari empat persen.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa rencana serangan terbesar sejak Perang Dunia II sebenarnya sudah siap dieksekusi. Namun, pergerakan militer yang mulai terlihat membuat Tehran menyadari besarnya skala ancaman tersebut.
Trump menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di atas Air Force One pada Minggu.
"Jelas, mereka tidak ingin diserang. Mereka tahu sejauh mana serangan itu karena mereka melihatnya sedang dibentuk," ujar Trump.
Pendekatan militer kini secara resmi digantikan oleh meja perundingan bilateral.
"Sekarang apa yang kita lakukan adalah berbicara dengan mereka dalam bentuk negosiasi. Itu dimulai besok sore (hari ini)," kata Trump.
Trump menegaskan pertimbangan utama penundaan serangan adalah imbauan para sekutu Teluk. Negara-negara tetangga Iran meyakini bahwa kesepakatan damai masih sangat mungkin dicapai.
Trump menanggapi desakan tersebut dengan menyatakan kesiapannya untuk bernegosiasi.
"Ketika para sekutu meminta untuk membatalkannya, Anda harus katakan, 'Mari kita lihat.' Dan alasan mereka meminta adalah karena mereka pikir ada kesepakatan," ucapnya.
Fokus utama perundingan mendatang mencakup keamanan navigasi di Selat Hormuz hingga program denuklirisasi.
"Ada kesepakatan tentang [Selat] Hormuz, dan kemudian akan ada kesepakatan tentang nuklir, atau Anda bisa menyebutnya denuklirisasi Iran," tutur Trump.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman turut memperingatkan risiko krisis pengungsi jika serangan militer dilancarkan. Trump mengutip kekhawatiran itu dengan berkata, "Maksud saya, apakah mereka akan dibanjiri oleh orang-orang yang berdatangan ke negara mereka dan bencana; banyak hal buruk bisa terjadi."
Diplomasi kawasan Timur Tengah bergerak cepat beberapa jam setelah pengumuman pembatalan serangan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengadakan pembicaraan dengan Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud dan Panglima Militer Pakistan Asim Munir.