- Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan El Nino kuat berpotensi sangat kuat di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
- Fenomena El Nino memicu kemarau panjang kering serta mengancam sektor strategis nasional hingga Mei 2027 mendatang.
- BMKG bersama lembaga terkait melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi kekeringan serta mencegah kebakaran hutan.
Suara.com - Dampak El Nino 2026 diperkirakan tidak hanya membuat musim kemarau lebih kering dan lebih panjang, tetapi juga berpotensi mengganggu berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, penyediaan air bersih, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan fenomena El Nino saat ini telah mencapai kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.
"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat yang ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4. Kami menggunakan data periode Mei, Juni, dan Juli yang menunjukkan El Nino dengan indeks ENSO +1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," kata Teuku dalam Dialog Nasional yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Menurut Teuku, berkurangnya curah hujan akibat El Nino berpotensi memengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat. Dampaknya meliputi sektor pertanian, penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, energi, kesehatan, perikanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
BMKG pun bersama kementerian dan lembaga terkait telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi sejak beberapa bulan terakhir. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca untuk mengisi bendungan yang mengalami penurunan kapasitas air sekaligus mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Teuku menjelaskan BMKG sebenarnya telah memberikan peringatan dini mengenai potensi El Nino sejak pertengahan Maret 2026, ketika fenomena tersebut masih diproyeksikan berada pada kategori moderat. Selanjutnya, pada 2 Juni 2026, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menetapkan El Nino telah aktif.
![Warga memanfaatkan sisa genangan air di Telaga Kedung Giriwungu yang mengering di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (28/7/2026). [ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana/agr/ky]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/29/54934-telaga-mengering-akibat-kemarau-di-gunungkidul-ilustrasi-kekeringan.jpg)
Ia menjelaskan El Nino menyebabkan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia menurun sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi klimatologis normal.
BMKG memperkirakan curah hujan pada Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah. Adapun musim hujan diperkirakan mulai datang pada pertengahan Oktober 2026 sehingga dampak El Nino terhadap curah hujan di Indonesia akan berangsur melemah.
Meski demikian, Teuku menegaskan durasi El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Mei 2027 tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.
"Begitu musim hujan terjadi, pengaruh El Nino di Indonesia sudah tidak signifikan," katanya.
BMKG juga mencatat dampak El Nino tidak dirasakan secara merata di seluruh Indonesia. Wilayah di selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatera bagian selatan diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.
Sebaliknya, wilayah pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami penurunan curah hujan yang signifikan karena memiliki karakteristik pola hujan yang berbeda.