-
Colin Lau pensiun usia 35 tahun setelah membeli rumah tunai tanpa utang bank.
-
Lau memenuhi kebutuhan bulanan dari hasil menyewakan kamar dan klaim asuransi terencana.
-
Seluruh biaya perawatan medis Lau senilai S$146.000 berhasil ditutup oleh asuransi kesehatan.
Suara.com - Keputusan Colin Lau membeli hunian secara tunai pasca pemutusan hubungan kerja menjadi kunci strategis yang membuatnya berhasil pensiun dini di usia 35 tahun. Pria asal Singapura ini memilih kebebasan finansial ketimbang menanggung beban utang jangka panjang.
Pertanyaan dari agen properti mengenai kemampuan membayar cicilan 30 tahun tanpa pekerjaan memicu keberanian Lau untuk melunasi rumah termurah secara langsung. Langkah ekstrem tersebut membebaskan dirinya dari kewajiban bunga bank yang dinilainya sangat merugikan.
“Jika Anda meminjam uang dari bank, hipotek 30 tahun berarti Anda membeli apartemen untuk diri sendiri, lalu membeli apartemen lain dan memberikannya sebagai hadiah gratis kepada bank,” ungkap Lau.
Strategi menyewakan satu kamar kosong membuat seluruh biaya pembelian properti Lau kembali sepenuhnya dalam kurun waktu delapan tahun. Penghematan drastis juga dilakukannya dengan memangkas pengeluaran bulanan hingga di bawah 150 dolar Singapura.
Kisah hidup Lau yang ditayangkan dalam program Money Mind CNA memicu diskusi luas di masyarakat mengenai batas ideal antara keamanan finansial dan kenyamanan hidup. Tayangan tersebut meraup jutaan penonton di platform YouTube serta TikTok.
Beberapa warganet menilai pemangkasan anggaran yang terlalu ketat berisiko mengurangi kenikmatan hidup sebelum memasuki usia tua. Namun, tidak sedikit pula yang mendukung pilihan hidup Lau karena terbebas dari tekanan cicilan properti.
“Jika dia bahagia, siapa kita untuk mengatakan dia tidak bahagia?” tulis pemilik akun YouTube @lecherhao86.
“Banyak orang Singapura masih membayar hipotek hingga usia tua dan tidak mampu beralih ke pekerjaan bergaji lebih rendah. Saya ragu ini adalah definisi kebahagiaan yang normal,” lanjutnya.
Lau merintis gaya hidup bebas finansial setelah menyaksikan trauma masa kecil saat bibinya terkena pemutusan hubungan kerja di tengah beban cicilan rumah. Pengalaman tersebut mendorong Lau menabung hingga 90 persen dari pendapatannya sewaktu bekerja sebagai guru bahasa.
“Semua orang menghabiskan uang seperti air. Saya menghabiskan uang seperti tabung reaksi,” ujar Lau.
Ketika lembaga bahasa tempatnya bekerja tutup saat ia berusia 35 tahun, Lau membeli apartemen tiga kamar bekas seharga 87.000 dolar Singapura secara tunai. Meski sisa masa sewa properti tersebut tersisa 64 tahun, usianya yang setara dengan tahun pembuatan gedung membuatnya merasa aman.
“Tapi tahu tidak? Hal yang lucu adalah apartemen saya dibangun pada tahun yang sama dengan kelahiran saya,” tutur Lau.
“Secara teknis, saya diizinkan tinggal di sini sampai saya berusia 99 tahun,” ia menambahkan.
Saat ini Lau mengantongi pendapatan bulanan sekitar 2.500 dolar Singapura dari hasil sewa kamar serta klaim asuransi yang jatuh tempo. Jumlah penerimaan tersebut jauh melampaui total kebutuhan hidup hariannya yang sangat minim.
Lau menekankan pentingnya memangkas alokasi dana pada pos pengeluaran terbesar seperti properti ketimbang meributkan hal-hal kecil. Pendekatan tersebut membuatnya tidak perlu mencemaskan masalah finansial dalam kehidupan sehari-hari.
“Anda bisa membeli apartemen seharga jutaan dolar. Pilihannya ada di tangan Anda. Saya memutuskan untuk membeli yang murah, dan saya punya banyak uang untuk digunakan. Saya tidak khawatir tentang uang karena saya tidak suka mengkhawatirkan uang,” kata Lau.
Pilihan pensiun dini memaksa Lau melepas keinginan memiliki hunian besar maupun keturunan. Ia mengalihkan seluruh hiburannya pada aktivitas mental yang tidak membutuhkan biaya.
“Kesenangan saya semuanya bersifat mental, seperti mendengarkan musik, membaca, mendengarkan podcast, mempelajari sesuatu, dan kesenangan mental semacam itu kebetulan gratis,” terangnya.
“Saya bahagia dengan apa yang saya miliki saat ini. Saya memanfaatkannya dengan baik,” tegas Lau.
Gaya hidup hemat Lau juga mencakup penggunaan barang bekas layak pakai hasil temuan di tempat pembuangan sampah, termasuk tempat tidur utamanya. Selain itu, ia mengelola kegiatan sosial penyaluran barang bantuan bagi masyarakat kurang mampu di Manila.
Ujian terberat dalam fase pensiunnya terjadi saat ia harus menjalani perawatan rumah sakit selama 62 hari akibat masalah kesehatan serius. Biaya tagihan medis sebesar 146.000 dolar Singapura seluruhnya terover oleh asuransi kesehatan serta tabungan medis pemerintah.
“Kami hanya membayar 20 persen. Namun 20 persen masih tetap banyak,” jelas Lau.
“Dua persen berasal dari MediSave saya, dan 18 persen dari asuransi,” sambungnya.
Meskipun tidak mengeluarkan uang pribadi pada perawatan tersebut, Lau menyadari pentingnya alokasi dana khusus untuk perawatan masa tua dan panti jompo. Pengalaman tersebut memperkuat simpulannya mengenai efektivitas gaya hidup hemat dalam meredam kecemasan finansial.
“Khawatir tentang uang itu tidak menyenangkan. Gaya hidup hemat adalah cara terbaik untuk memusnahkannya,” ucap Lau.
Fenomena pensiun dini di usia muda kini semakin menjadi perhatian global seiring tingginya biaya hidup dan ketidakpastian pasar kerja. Di Singapura, tingginya harga properti dan skema cicilan jangka panjang kerap menjadi beban utama yang mengikat pekerja hingga usia pensiun normal. Langkah Colin Lau memberikan preseden alternatif terhadap konsep Financial Independence, Retire Early (FIRE) melalui penekanan ekstrem pada efisiensi biaya hidup dan kepemilikan aset tanpa utang.