- Koordinator AMPB Supriyono melaporkan pemblokiran rekening bank serta aplikasi digital miliknya pada 22 Agustus 2026.
- Dana donasi sebesar Rp80 juta untuk sewa bus aksi tanggal 27 Agustus di Jakarta tertahan.
- Kendala digital tersebut berdampak langsung pada persiapan logistik namun rencana aksi tetap berjalan.
Kejanggalan yang dialami Botok tidak berhenti pada urusan perbankan. Ia membeberkan sebuah pola pemblokiran yang terjadi secara berurutan dalam rentang waktu yang sangat singkat pada tanggal 22 Agustus 2026.
Pola ini memperkuat dugaan adanya intervensi digital terhadap aktivitasnya sebagai koordinator lapangan.
Botok merinci bahwa serangan digital ini dimulai dari platform media sosial TikTok yang selama ini digunakannya untuk menyebarkan informasi terkait rencana aksi.
Tak lama setelah TikTok tumbang, akses terhadap rekening banknya mulai bermasalah, disusul dengan hilangnya akses pada aplikasi pesan instan WhatsApp.
"Tanggal 22 jam 11 siang itu akun TikTok saya di blokir. Setelah itu jam 1 rekening saya diblokir. Terus jam 3 pagi, WA saya hilang," tutur Botok.
Rentetan kejadian ini dialami Botok hanya dalam hitungan jam. Kehilangan akses WhatsApp dianggap sebagai pukulan telak bagi koordinasi tim, mengingat aplikasi tersebut merupakan kanal komunikasi utama untuk mengatur ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu.
Dampak Terhadap Persiapan Aksi 27 Agustus
Hingga berita ini diturunkan, Botok masih berupaya memulihkan akses komunikasi dan fungsi transaksi perbankannya.
Meskipun ada kendala teknis dan finansial akibat pemblokiran tersebut, semangat anggota AMPB diklaim tidak surut.
Namun, secara teknis, persiapan keberangkatan sedikit terkendala karena dana donasi yang seharusnya sudah cair untuk uang muka (DP) bus masih tertahan di sistem bank.
Kasus pemblokiran rekening aktivis jelang aksi massa bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia, namun pola yang menyasar seluruh ekosistem digital (Bank, Medsos, Chat) dalam waktu bersamaan menjadi fenomena yang kian mengkhawatirkan bagi iklim demokrasi.
AMPB sendiri menegaskan bahwa rencana aksi pada 27 Agustus 2026 akan tetap berjalan sesuai jadwal, sembari terus mengupayakan transparansi terkait alasan di balik pemblokiran massal akun milik koordinator mereka. (Reporter: Alif Bintang)