- Forum Ulama Nahdliyin menggelar halaqah di Jombang pada 26 Agustus 2026 untuk mengkritik kepemimpinan PBNU.
- Para kiai menyoroti berbagai masalah seperti kasus korupsi, kontroversi pertemuan internasional, hingga penerbitan SK transaksional.
- Pertemuan tersebut menghasilkan desakan agar warga NU bertindak tegas dan tidak memilih kembali pimpinan saat ini.
Di sisi internal, PBNU dituding melakukan pelemahan sistemik terhadap struktur di bawahnya. Beberapa kebijakan yang disoroti meliputi pembekuan MKNU dan PKPNU, serta ketidakjelasan status ratusan Surat Keputusan (SK) menjelang muktamar.
Bahkan, muncul rumor mengenai praktik transaksional dalam penerbitan SK pengurus daerah guna "pengondisian" suara pemilih di muktamar.
5. Analogi "Tikus di Lumbung Padi"
KH Mustain Syafi'i, Pengasuh Ponpes Madrasatul Quran, menggunakan perumpamaan yang sangat tajam terkait kondisi organisasi. Beliau menilai bahwa ketika elit mulai menguasai "lumbung" (sumber daya organisasi) demi kepentingan pribadi, maka warga NU harus bertindak.
“Jika tikus-tikus menguasai lumbung, ayo beli racun yang paling efektif. Kita perlu istighfar massal. Apa dosa orang NU sehingga memiliki pimpinan seperti sekarang?,” ujar Kiai Mustain dengan nada prihatin.
6. Kritik 'Bungkam' karena Konsesi Tambang
Forum ini juga menyentuh isu sensitif mengenai pemberian izin kelola tambang bagi organisasi kemasyarakatan. Para ulama kultural menilai hal tersebut telah melumpuhkan daya kritis pimpinan NU terhadap kebijakan pemerintah.
"Ketika NU dikasih tambang, pimpinannya diam semua. Padahal korupsi di negeri ini sedang darurat. Hadratus Syaikh dulu mewakafkan tanah untuk pasar bagi umat, sekarang orientasinya berbeda," tambah Kiai Mustain.