-
Runtuhan gletser skala besar di perbatasan Tibet-Nepal menewaskan ratusan orang dan melenyapkan ribuan warga.
-
Gelombang lumpur pekat menerjang cepat tanpa didahului hujan sehingga melumpuhkan sistem peringatan dini banjir.
-
Para ahli menyebut peningkatan suhu global memicu pemicuan penyusutan gletser Himalaya yang kian masif.
Ancaman banjir bandang akibat runtuhan gletser makin berbahaya karena datang tiba-tiba tanpa ditandai oleh gumpalan awan maupun curah hujan. Kondisi tanpa peringatan dini ini membuat sistem deteksi banjir konvensional gagal mengantisipasi datangnya material pekat dari hulu.
Seberapa Sering Peristiwa Runtuhan Gletser Terjadi di Dunia?
Fenomena runtuhnya massa gletser merupakan kategori bencana alami yang sangat langka namun destruktif di wilayah dataran tinggi. Wilayah Tibet tercatat beberapa kali mengalami insiden serupa, seperti runtuhnya es di Aru Range pada tahun 2016 dan Sedongpu Basin.
Kejadian serupa juga pernah melanda wilayah Pegunungan Kunlun pada 2022 serta Pegunungan Alpen di Swiss pada tahun lalu. Sebagian besar kasus menunjukkan pemicu utama runtuhan bersifat sangat spesifik tergantung kondisi geologi dan luapan air di lokasi kejadian.
Peristiwa di perbatasan Tibet dan Nepal ini berakar dari guncangan massal runtuhan es yang disalahartikan sebagai aktivitas tektonik gempa bumi. Kawasan Himalaya kini menghadapi ancaman ganda akibat naiknya suhu global yang mempercepat pencairan abadi es di wilayah puncak.