-
Raja Harald V dari Kerajaan Norwegia meninggal dunia pada usia 89 tahun.
-
Putra Mahkota Haakon secara resmi menggantikan posisi sang ayah sebagai Raja Norwegia.
-
Almarhum mengabdi selama 35 tahun dan memegang teguh sumpah kepemimpinan hingga akhir hayatnya.
Saat berumur tiga tahun, invasi pasukan Jerman memaksa Harald dan keluarganya melarikan diri mengungsi ke negara tetangga, Swedia.
Keluarga kerajaan kemudian berpindah ke Washington DC, Amerika Serikat, sementara kakeknya King Haakon VII dan ayahnya Olav menetap di London hingga pendudukan Jerman berakhir.
Pada 7 Juni 1945, setelah menyerahnya Jerman kepada sekutu, Harald yang berusia 8 tahun kembali ke Oslo dan disambut ribuan warga.
Untuk mendekatkan keluarga kerajaan dengan rakyat, Harald dimasukkan ke sekolah negeri umum tanpa perlakuan istimewa kecuali penjagaan pengawal di luar gedung.
Pendidikan menengahnya diselesaikan di Oslo Cathedral School sebelum menjalani wajib militer di Sekolah Perwira Kavaleri Norwegia. Ia kemudian melanjutkan studi ilmu sosial, sejarah, dan ekonomi di Universitas Oxford, Inggris.
Mengapa Raja Harald V dijuluki sebagai sang Raja Pelaut?
Tumbuh besar di Royal Estate of Skaugum di kawasan Oslofjord, Harald sangat menyukai aktivitas luar ruangan sejak masa kecilnya.
Kecintaannya terhadap olahraga layar diwarisi langsung dari sang ayah, King Olav V.
Pihak Kerajaan Norwegia mencatat bahwa sepanjang hidupnya, Harald telah berpartisipasi dalam lebih dari 1.000 ajang regatta dan kompetisi layar.
"Pangeran Harald berusia 10 tahun ketika pada tahun 1946 dia bertanding sebagai awak kapal untuk pertama kalinya."
Sebagai Putra Mahkota, ia mewakili Norwegia dalam cabang olahraga layar di Olimpiade Musim Panas 1964 di Tokyo dan bertindak sebagai pembawa bendera negara. Ia juga kembali bertanding pada ajang Olimpiade Mexico City 1968 dan Olimpiade Munich 1972.
Mengenai kehidupan pribadinya, Harald mengencani Sonja Haraldsen selama sembilan tahun sebelum King Olav V memberikan izin pernikahan setelah berkonsultasi dengan Parlemen.
King Olav sempat enggan memberikan restu karena calon pengantin wanita merupakan rakyat biasa, namun akhirnya luluh setelah Harald mengancam akan melepas hak takhtanya.
Pasangan ini menikah di Katedral Oslo pada 29 Agustus 1968 dengan dihadiri 800 tamu undangan serta perayaan nasional selama tiga hari.
Mereka dikaruniai dua anak, Putri Märtha Louise pada 1971 dan Pangeran Haakon dua tahun kemudian, sebelum amandemen aturan suksesi tahun 1990 mengizinkan anak sulung tanpa memandang gender untuk naik takhta.
Ketika Putri Märtha Louise mundur dari tugas kerajaan pada 2022, Harald menyampaikan terima kasih atas upaya penting yang telah dilakukannya selama berdekade-dekade.
"Dia telah menjalankan tugasnya dengan kepedulian, kehangatan, dan komitmen yang besar," ujarnya sambil memutuskan bahwa gelar putri tetap melekat padanya.
Apa peran serta makna historis kepemimpinan Raja Harald V bagi Norwegia?
Harald V mencatatkan sejarah sebagai pangeran kelahiran Norwegia pertama dalam kurun waktu 567 tahun terakhir.
Sebelumnya, Norwegia berada di bawah pemerintahan Denmark dan Swedia sebelum meraih kemerdekaan penuh pada tahun 1905 melalui referendum nasional.
Saat menduduki takhta, Harald meneruskan motto turun-temurun dari ayah dan kakeknya.
"Kami memberikan segalanya untuk Norwegia."
Pasangan kerajaan ini aktif berkeliling negeri dan diperkirakan telah mengunjungi hampir seluruh wilayah kabupaten serta kotamadya di Norwegia.
Tugas resmi monarki di Norwegia sebagian besar bersifat seremonial, namun raja memimpin rapat Dewan Negara setiap hari Jumat dan membuka sesi parlemen baru.
Setiap rancangan undang-undang serta keputusan Dewan Negara wajib mendapatkan pengesahan raja sebelum ditandatangani perdana menteri.
Kesehatan Harald mulai mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir akibat komplikasi penyakit. Ia sempat menjalani dua kali operasi jantung, termasuk penggantian katup jantung pada tahun 2020 yang membuat Haakon bertindak sebagai pemangku takhta sementara.
Pada September 2021, ia menjalani operasi tendon lutut kanan dan harus menggunakan tongkat penyangga untuk berjalan.
Meskipun sempat dirawat karena infeksi saluran pernapasan pada Mei 2023, ia tetap menyelesaikan 275 agenda resmi kerajaan sepanjang tahun tersebut.
Tahun berikutnya, ia sempat dilarikan ke rumah sakit di Pulau Langkawi, Malaysia, akibat infeksi dan penurunan detak jantung hingga memerlukan pemasangan alat pacu jantung.
Meskipun kondisi fisiknya terus memburuk, Harald menolak untuk mengundurkan diri dan memilih menjalankan kewajibannya hingga akhir hayat.
Menanggapi rumor pensiun pasca-abdikasi Ratu Margrethe II dari Denmark pada Januari 2024, Harald menegaskan sumpah jabatannya.
"Saya mempertahankan apa yang telah saya katakan selama ini, saya telah mengucapkan sumpah dan itu berlaku seumur hidup."