- Sembilan warga Singapura dilaporkan hilang dalam bencana banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet.
- Keluarga korban mendesak pemerintah meningkatkan alokasi tim SAR serta melacak sinyal telepon genggam.
- Otoritas mencatat 469 korban tewas dan ratusan wisatawan hilang akibat sapuan air bah.
Presiden Himalayan Glacier, Sagar Pandey, mengonfirmasi bahwa 47 dari 54 anggota rombongan turnya kini belum ditemukan. Telepon satelit yang dibawa rombongan juga tidak sanggup menembus hambatan sinyal di lokasi kejadian.
Pandey mengonfirmasi bahwa bangunan hotel tempat rombongan menginap kini sudah hancur total diterjang material banjir. Selain wisatawan, tujuh staf lokal pendamping tur tersebut juga dinyatakan hilang.
Arus air banjir yang datang dengan kecepatan tinggi memupuskan harapan para pekerja lokal untuk menyelamatkan diri.
“Tapi Anda tahu... banjir datang hampir 150 meter di atas permukaan tanah. Jadi itulah mengapa dalam jendela waktu yang sedikit, mereka tidak memiliki kesempatan untuk naik ke bukit setinggi itu dengan segera karena banjir bandang sangat kuat dan sangat cepat. Dan kedua, (banjir) datang di atas rumah, di atas bangunan, jauh di atas. Jadi itulah mengapa hal itu tidak memungkinkan orang untuk melarikan diri dan lari ke atas bukit,” kata Pandey.
Jarak pandang yang terbatas membuat kedatangan banjir sulit terdeteksi dari area penginapan. Pandey menyebut banjir baru terlihat saat jaraknya tinggal 1,5 kilometer dari lokasi.
Bagaimana Respon Otoritas dan Agen Perjalanan Wisata?
Kementerian Luar Negeri Singapora telah berkomunikasi dengan keluarga korban dan berkoordinasi bersama otoritas Nepal serta China melalui Kedutaan Besar di New Delhi dan Beijing. Pendataan serta pemantauan titik-titik evakuasi terus dilakukan secara intensif.
Otoritas agen perjalanan Trekkers Society melaporkan sebanyak 92 peserta rombongan ziarah Kailash Manasarovar mereka belum ditemukan. Rombongan tersebut terdiri dari 77 warga negara asing dan 15 warga lokal Nepal.
Sementara itu, perwakilan Himalayan Trekkers menyebutkan kontak terakhir dengan pemandu lapangan terjadi pada Rabu pukul 08.00 waktu setempat. Pemandu tersebut sempat mengirim pesan singkat sebelum gelombang air bah menghantam pos perbatasan.
"Sepanjang yang kami tahu, pesan terakhirnya kepada seorang anggota keluarga adalah pada sekitar pukul 08.34 waktu Nepal, ketika dia mengatakan bahwa mereka sedang menyeberangi perbatasan," kata juru bicara perusahaan.
Sektor perbatasan Nepal dan Tibet kerap melayani rute ziarah serta pendakian internasional sebelum bencana air bah menerjang kawasan tersebut. Hingga saat ini, proses pencarian udara dan darat masih terhalang medan yang rusak berat.