-
Mojtaba Khamenei mendesak penguasa Teluk membentuk aliansi pertahanan bersama untuk melawan musuh utama.
-
Perdagangan luar negeri Iran anjlok 35 persen akibat sanksi dan blokade laut Amerika Serikat.
-
Presiden Masoud Pezeshkian mendorong pemulihan kesepakatan ekonomi dan kendali atas jalur Selat Hormuz.
Dampak peperangan kini berimbas langsung pada kehancuran aktivitas perdagangan luar negeri Iran yang merosot hingga sepertiga dari kapasitas normalnya.
Pemerintah Tehran mengakui bahwa sanksi ekonomi bertajuk "D-Day Ekonomi" dari pemerintahan Presiden Donald Trump telah menghentikan arus keluar masuk barang di pelabuhan utama.
Presiden Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa pemblokiran jalur laut oleh pasukan sekutu menjadi penyebab utama jatuhnya angka ekspor impor nasional secara drastis.
"Ekspor dan impor kami merosot hampir 35 persen karena sanksi AS dan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran," kata Pezeshkian.
Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran sempat membuktikan ketahanannya dengan menjual puluhan juta barel minyak saat koridor diplomasi dibuka sementara.
"Kami berhasil menjual sekitar 90 juta barel minyak selama nota kesepahaman singkat yang ditandatangani Iran dan AS pada bulan Juni," kata Pezeshkian.
Atas dasar pencapaian tersebut, Pezeshkian mendesak agar draft kesepakatan sementara yang sempat disetujui pada 17 Juni lalu dapat segera dihidupkan kembali.
Langkah pemulihan perundingan dianggap sebagai satu-satunya cara paling realistis untuk mencairkan aset negara yang dibekukan serta memulihkan roda ekonomi rakyat.
"Kita dapat menyelesaikan masalah kita dan memperoleh hak-hak kita melalui nota kesepahaman tersebut," kata Pezeshkian.
Di sisi lain, pemerintah Iran mengumumkan rencana taktis untuk menekan laju inflasi dan mengurangi ketergantungan mata uang domestik terhadap dolar Amerika Serikat.
Strategi tersebut difokuskan pada penguatan produksi dalam negeri serta penyerapan tenaga kerja guna menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan perang.
Tehran juga menegaskan tidak akan menyerah pada tekanan militer dan tetap mempertahankan kendali penuh atas navigasi di Selat Hormuz sebagai kartu truf diplomasi energi global.
Sejak Revolusi Islam meletus pada tahun 1979, monarki Arab Teluk memandang ideologi revolusioner Iran dan retorika anti-kerajaannya sebagai ancaman langsung terhadap sistem politik mereka.
Persaingan pengaruh regional serta perbedaan mazhab memperdalam jurang pemisah antara Tehran dan tetangga Arabnya selama bertahun-tahun.
Kondisi tersebut diperparah oleh aksi saling balas militer baru-baru ini yang melibatkan basis pertahanan Amerika Serikat di kawasan Teluk, sehingga meningkatkan kewaspadaan negara-negara tetangga.