- Gubernur Pramono Anung menyatakan Jakarta Barat dan Jakarta Timur mencatat kasus kebakaran tertinggi dari total 457 kejadian.
- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendistribusikan Alat Pemadam Api Ringan di setiap Rukun Warga guna mencegah perluasan kebakaran.
- Korsleting listrik bersama pembakaran sampah dan kelalaian warga diidentifikasi sebagai faktor utama pemicu musibah kebakaran.
Suara.com - Jakarta Barat dan Jakarta Timur menjadi dua wilayah dengan kasus kebakaran terbanyak di DKI Jakarta. Kepadatan penduduk disebut menjadi salah satu faktor yang membuat kedua wilayah tersebut memiliki potensi kebakaran lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan dari total 457 kejadian kebakaran yang tercatat, Jakarta Barat menempati posisi tertinggi, disusul Jakarta Timur.
“Untuk kebakaran dari 457 (kejadian) yang paling banyak di Jakarta Barat, kedua di Jakarta Timur. Memang ini dua wilayah yang potensinya tertinggi yaitu di Barat itu ada Kecamatan Tambora, di Timur itu ada Cakung, itulah petanya,” kata Pramono di Jakarta Pusat, Rabu.
Pramono tidak merinci jumlah kebakaran yang terjadi secara khusus di Kecamatan Tambora dan Cakung. Namun, ia menyebut sebanyak 240 kejadian kebakaran berlangsung di Jakarta Barat dan Jakarta Timur sepanjang Agustus.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena potensi kebakaran dapat meningkat selama musim kemarau. Cuaca yang lebih panas juga dinilai berisiko memperparah kondisi lingkungan, termasuk meningkatkan ancaman kekeringan.

Pramono menyebut korsleting listrik menjadi dugaan penyebab kebakaran yang paling dominan. Selain itu, pembakaran sampah dan kelalaian warga, seperti membuang puntung rokok sembarangan, turut menjadi faktor penyebab.
Untuk memperkuat pencegahan di tingkat lingkungan, Pemprov DKI Jakarta menjalankan program satu RW satu Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
“Sedangkan untuk APAR saya meminta setiap RW memilikinya. Dan karena ini program sudah berjalan, saya yakin sekarang setiap RW sudah memilikinya,” ujar Pramono.
Pramono meminta jajaran Pemprov DKI Jakarta tetap meningkatkan kesiapsiagaan selama musim kemarau. Menurutnya, pencegahan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.
Warga diminta menggunakan air secara bijak, tidak membuang puntung rokok sembarangan, memastikan APAR tersedia di lingkungan, serta segera melapor kepada aparat apabila menemukan potensi kebakaran.
“Mari jadikan semangat Jaga Jakarta sebagai gerakan bersama. Semoga Allah meridhoi setiap langkah kita dalam menjaga keselamatan dan melindungi seluruh warga Jakarta,” kata Pramono.