Gus Kikin Pimpin PBNU, Antara Satire 'Salah Dalil' hingga Guyon 'PWNU Jatim Cabang Jakarta'

Bangun Santoso

Rabu, 02 September 2026 | 15:02 WIB
Gus Kikin Pimpin PBNU, Antara Satire 'Salah Dalil' hingga Guyon 'PWNU Jatim Cabang Jakarta'
KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketum PBNU di Muktamar NU ke-35. [ANTARA]
baca 10 detik
  • Purwanto M Ali mengungkapkan warga NU kerap berdoa agar KH Abdul Hakim Mahfudz tidak salah menyampaikan dalil saat berpidato.
  • Organisasi PBNU di bawah kepemimpinan Gus Kikin dinilai perlu membentuk kerja kolektif atau superteam demi menutupi berbagai keterbatasan individu.
  • Posisi strategis PBNU dinilai harus diisi kader luar Jawa Timur guna mencegah pergeseran identitas menjadi representasi kedaerahan semata.

Meski demikian, kendala diplomasi internasional ini dinilai bisa diatasi dengan solusi teknis. Kiai tersebut menjawab enteng bahwa jika harus bertemu tokoh luar negeri, solusinya adalah “Gampang. Pakai penerjemah!”.

Hal itu menegaskan bahwa internasionalisasi NU bisa diselesaikan melalui profesi interpreter, karena memang tidak ada kewajiban konstitusional organisasi yang mengharuskan Ketua Umum PBNU fasih bahasa asing atau memiliki skor TOEFL tertentu.

Membangun Superteam untuk Menutup Kekurangan

Terpilihnya Gus Kikin melalui mekanisme Muktamar adalah kenyataan organisatoris yang harus diterima oleh seluruh kader.

Purwanto menekankan bahwa meskipun ada pihak yang kecewa atau kritis, kontestasi telah berakhir dan saatnya menurunkan spanduk dukungan.

Gus Kikin menerima ucapan selamat usai ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU. (ANTARA)
Gus Kikin menerima ucapan selamat usai ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU. (ANTARA)

Namun, menerima takdir organisasi bukan berarti mengabaikan akal sehat dalam menyusun struktur kepengurusan ke depan.

Karena seorang pemimpin tidak harus sempurna, kekuatan PBNU mendatang harus diletakkan pada kerja kolektif atau "Superteam", bukan pada sosok "Superman".

Jika Gus Kikin memiliki keterbatasan dalam khazanah keilmuan tertentu, maka struktur PBNU harus diisi oleh ulama-ulama yang benar-benar alim.

Begitu pula jika kemampuan intelektual, konseptual, maupun diplomasi internasional dianggap terbatas, maka posisi di sekelilingnya harus diisi oleh para intelektual terbaik dan kader yang menguasai jaringan global.

baca juga

Aspek kaderisasi juga menjadi poin krusial. Mengingat Gus Kikin bukan berasal dari kader PMII maupun alumni Ansor, maka sangat ideal apabila posisi Sekretaris Jenderal PBNU diisi oleh kader yang tumbuh dan ditempa dari rahim PMII dan Ansor.

Langkah ini diambil agar kepemimpinan PBNU tidak terjebak pada pencarian manusia langka yang harus menguasai segala bidang, mulai dari ekonomi, teknologi, hingga seni.

Menghindari Dominasi Jawa Timur di Level Nasional

Isu krusial lainnya yang menjadi sorotan adalah komposisi kepemimpinan yang sangat kental dengan nuansa Jawa Timur. Saat ini, posisi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU keduanya berasal dari Jawa Timur.

Meskipun wilayah tersebut adalah basis terbesar pesantren dan santri, NU diingatkan bahwa organisasi ini juga hidup dan berkembang di seluruh pelosok Indonesia dan dunia.

Ada kekhawatiran jika posisi strategis seperti Sekretaris Jenderal atau Katib Aam kembali diambil oleh kader dari Jawa Timur, maka identitas PBNU akan bergeser menjadi PWNU Jawa Timur versi nasional.

Hal ini memicu satire mengenai kemungkinan papan nama di Jalan Kramat Raya Jakarta perlu ditambah keterangan baru.

"PWNU Jawa Timur, Kantor Cabang Jakarta"

Pesan serius di balik satire tersebut adalah pentingnya PBNU mencerminkan keluasan Indonesia. Representasi kader dari luar Jawa di posisi kunci menjadi mutlak agar kebijakan yang diambil tetap bersifat Indonesia-sentris, bukan hanya fokus pada persoalan di Jawa Timur.

Bahaya Lingkaran "Asal Bapak Senang"

Keberhasilan kepemimpinan baru PBNU sangat bergantung pada keberanian orang-orang di sekitar Ketua Umum untuk berpikir kritis dan bekerja nyata.

Kekurangan seorang pemimpin tidak akan menjadi bencana selama ia tidak dikelilingi oleh para pengikut yang hanya bisa memberikan validasi buta atau budaya "Asal Bapak Senang" (ABS).

Menurut Purwanto, sangat berbahaya jika seorang pemimpin yang memiliki kekurangan justru dikelilingi oleh orang-orang yang pekerjaannya hanya mengatakan: “Siap, Gus.”, “Betul, Gus.”, “Luar biasa, Gus.”, atau “Setuju, Gus.”

Dalam kondisi seperti itu, PBNU mungkin memiliki penerjemah bahasa asing, namun mereka akan kehilangan "penerjemah realitas" yang sangat dibutuhkan untuk menjalankan organisasi.

Pada akhirnya, organisasi sebesar Nahdlatul Ulama membutuhkan kepemimpinan kolektif di mana ketidaksempurnaan satu individu ditutup oleh kelebihan individu lainnya.

Dan jika di masa depan Ketua Umum tetap berpidato terlalu panjang dengan dalil yang meragukan, warga NU tampaknya akan tetap setia pada tradisi awal mereka: kembali berdoa, kata Purwanto.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bakom RI Respons Isu Paket Titipan Istana di Muktamar ke-35 NU

Bakom RI Respons Isu Paket Titipan Istana di Muktamar ke-35 NU

News | Rabu, 02 September 2026 | 12:56 WIB

Bajak Laut Sebut USD406 Ribu Titipan Asrul ke Gus Alex Dipakai untuk Pansus Haji

Bajak Laut Sebut USD406 Ribu Titipan Asrul ke Gus Alex Dipakai untuk Pansus Haji

News | Selasa, 01 September 2026 | 19:31 WIB

5 Poin Kontrak Jam'iyyah Gus Kikin Usai Terpilih Jadi Ketum PBNU, Haram Jabatan Politik

5 Poin Kontrak Jam'iyyah Gus Kikin Usai Terpilih Jadi Ketum PBNU, Haram Jabatan Politik

News | Selasa, 01 September 2026 | 16:04 WIB

PKB Buka Suara Soal Isu Intervensi 'Paket Titipan' di Muktamar NU

PKB Buka Suara Soal Isu Intervensi 'Paket Titipan' di Muktamar NU

News | Selasa, 01 September 2026 | 13:57 WIB

Tak Lagi Jadi Ketum PBNU, Gus Yahya Bakal Terbang ke Amerika Urus Misi Global

Tak Lagi Jadi Ketum PBNU, Gus Yahya Bakal Terbang ke Amerika Urus Misi Global

News | Selasa, 01 September 2026 | 11:57 WIB

Cak Imin Titip Pesan ke Gus Kikin: Belajar dari Dinamika PBNU Lima Tahun Terakhir

Cak Imin Titip Pesan ke Gus Kikin: Belajar dari Dinamika PBNU Lima Tahun Terakhir

News | Selasa, 01 September 2026 | 07:00 WIB

Tepis Isu Paket Titipan Istana! Gus Ipul Jamin Pemilihan Ketum PBNU Tanpa Intervensi Prabowo

Tepis Isu Paket Titipan Istana! Gus Ipul Jamin Pemilihan Ketum PBNU Tanpa Intervensi Prabowo

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:13 WIB

Terkini

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 22:21 WIB

Ditanya Kegiatan Setelah Dicopot dari Menkeu, Purbaya: Mau Mancing Sambil Ngelamun 'Kenapa Dipecat?'

Ditanya Kegiatan Setelah Dicopot dari Menkeu, Purbaya: Mau Mancing Sambil Ngelamun 'Kenapa Dipecat?'

Video | Selasa, 15 September 2026 | 22:15 WIB

FIA Rallycross World Cup 2026 Mendarat di Jakarta, Pebalap Indonesia Dapat Kesempatan Unjuk Gigi

FIA Rallycross World Cup 2026 Mendarat di Jakarta, Pebalap Indonesia Dapat Kesempatan Unjuk Gigi

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 21:51 WIB

Guru Diminta Cicipi MBG, Benarkah Bisa Mencegah Keracunan?

Guru Diminta Cicipi MBG, Benarkah Bisa Mencegah Keracunan?

News | Selasa, 15 September 2026 | 21:45 WIB

Darurat ISPA di Kalimantan: 460 Ribu Kasus Terjadi, Pemerintah Jangan Cuma Bagi-bagi Masker!

Darurat ISPA di Kalimantan: 460 Ribu Kasus Terjadi, Pemerintah Jangan Cuma Bagi-bagi Masker!

News | Selasa, 15 September 2026 | 21:43 WIB

Promo UFood BRI Kasih Diskon Makanan hingga 65%, Siapa Cepat Dia Dapat!

Promo UFood BRI Kasih Diskon Makanan hingga 65%, Siapa Cepat Dia Dapat!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 21:25 WIB

Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Melalui Integrasi Portofolio dan Infrastruktur LNG

Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Melalui Integrasi Portofolio dan Infrastruktur LNG

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 21:17 WIB

Empat Orang Dekatnya Jadi Tersangka, Nusron Wahid Belum Diperiksa KPK

Empat Orang Dekatnya Jadi Tersangka, Nusron Wahid Belum Diperiksa KPK

News | Selasa, 15 September 2026 | 21:16 WIB

Polisi Beri Pendampingan Psikologis bagi Keluarga Korban KM Virgo

Polisi Beri Pendampingan Psikologis bagi Keluarga Korban KM Virgo

Video | Selasa, 15 September 2026 | 21:05 WIB

Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur

Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 21:05 WIB

×