-
Erupsi Anak Krakatau melumpuhkan penerbangan dan menelantarkan 270 ribu penumpang di pelbagai bandara.
-
Penutupan empat bandara diperpanjang akibat paparan abu vulkanik yang membubung belasan ribu meter.
-
Pihak otoritas memberlakukan zona bahaya 3 kilometer dan tes ruang udara berkala.
Sebagai langkah antisipasi bahaya keselamatan, warga dilarang mendekati area kawah aktif dalam radius 3 kilometer. Peta pelayaran internasional di Selat Sunda juga steril dari lalu lintas kapal pada jarak aman yang sama dari pusat letusan.
Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang lahir di area kaldera sisa letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Muncul dari permukaan laut sejak awal abad lalu, gunung ini kerap menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik secara berkala.
Rekam jejak bencana terburuk terjadi pada Desember 2018 ketika sebagian tubuh gunung runtuh dan memicu tsunami hebat. Peristiwa longsoran material setinggi 70 hingga 90 meter itu menewaskan lebih dari 400 jiwa di sepanjang pesisir Sumatra dan Jawa.
Secara geologis, keberadaan Anak Krakatau berada tepat di dalam lintasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Kawasan sabuk vulkanik sepanjang 40.000 kilometer ini membentang dari ujung Amerika Selatan hingga wilayah Selandia Baru.
Wilayah jalur patahan aktif dunia ini menampung sekitar 90 persen aktivitas gempa bumi global. Sebanyak 75 persen gunung berapi aktif di bumi atau sekitar 452 gunung beradanya di dalam zona rawan ini.