-
Erupsi Anak Krakatau melumpuhkan penerbangan dan menelantarkan 270 ribu penumpang di pelbagai bandara.
-
Penutupan empat bandara diperpanjang akibat paparan abu vulkanik yang membubung belasan ribu meter.
-
Pihak otoritas memberlakukan zona bahaya 3 kilometer dan tes ruang udara berkala.
Suara.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu kelumpuhan penerbangan massal yang membuat 270.000 penumpang terlantar akibat penutupan operasional empat bandara utama. Pembatalan lebih dari 2.000 penerbangan ini memperpanjang masa penutupan ruang udara hingga Senin pukul 18.00 WIB.
Gelombang calon penumpang yang gagal terbang terpaksa mengubah rencana perjalanan secara mendadak demi menembus barikade abu vulkanik. Sebagian warga bahkan memilih moda transportasi darat untuk keluar dari jebakan penundaan jadwal yang tidak pasti.
Kondisi darurat ini tidak hanya memicu antrean panjang pengembalian dana tiket di Bandara Soekarno-Hatta, tetapi juga menghentikan aktivitas persekolahan secara tatap muka. Jalur pelayaran di sekitar Selat Sunda pun turut mengalami gangguan serius akibat paparan debu tebal.

Finna, seorang penumpang yang sejatinya terbang dari Malang menuju Jakarta pada Minggu pagi, menggambarkan kepanikan massa di area bandara.
"Suasana sangat padat karena penumpang dari penerbangan pagi sudah menumpuk, sementara mereka yang dijadwalkan untuk keberangkatan belakangan masih tidak tahu apa yang akan terjadi," ujar perempuan berusia 46 tahun tersebut, dikutip dari BBC Internasional, Senin (7/9/2026).
"Kami semua terpaku pada layar informasi penerbangan."
Enggan terjebak dalam ketidakpastian yang berlarut-larut, Finna memutuskan mengalihkan perjalanannya menaiki dua rangkaian kereta api antarkota hingga sampai di Jakarta pada Senin dini hari.
Perjuangan serupa dirasakan para wisatawan mancanegara yang terpaksa membatalkan seluruh agenda agenda kegiatan lapangan mereka.
"Semua orang tampaknya memeras otak [mencari opsi transportasi alternatif]," kata Jo Shaw, seorang pengunjung yang datang bersama badan amal konservasi Save the Rhino International.
"Terjebak di hotel bandara adalah ketidaknyamanan yang relatif kecil yang mudah-mudahan bisa diselesaikan dalam beberapa hari," tambah Shaw yang lebih mengkhawatirkan kondisi tim lapangan di kawasan rawan bencana.
Nasib apes juga menimpa pasangan pengantin baru asal Malaysia yang baru saja menyelesaikan liburan mereka di Bali.
"Apa yang akan kami lakukan di sini selama lima hari lagi? Kami hanya menyiapkan cukup uang untuk bulan madu kami dan [seharusnya] pulang kemarin," kata Amir Hamzah kepada kantor berita Malaysia, Bernama.
"Kami pikir kami hanya akan tidur di bandara selama beberapa jam dan kemudian naik penerbangan pagi untuk pulang [pada hari Senin]. Kami tidak pernah menyangka akan berakhir terjebak di sini selama berhari-hari," tutur pria berusia 29 tahun itu.
Semburan abu vulkanik tercatat membumbung tinggi hingga mencapai ketinggian 6.000 meter ke arah Jawa dan 15.000 meter menuju wilayah Sumatra serta Banten.
BMKG memetakan letusan terbaru gunung api di tengah laut tersebut terjadi pada Minggu malam pukul 20.23 WIB. Pemerintah belum bisa memastikan rentang waktu penghentian sementara aktivitas penerbangan komersial di kawasan terdampak.
Sebagai langkah antisipasi bahaya keselamatan, warga dilarang mendekati area kawah aktif dalam radius 3 kilometer. Peta pelayaran internasional di Selat Sunda juga steril dari lalu lintas kapal pada jarak aman yang sama dari pusat letusan.
Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang lahir di area kaldera sisa letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Muncul dari permukaan laut sejak awal abad lalu, gunung ini kerap menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik secara berkala.
Rekam jejak bencana terburuk terjadi pada Desember 2018 ketika sebagian tubuh gunung runtuh dan memicu tsunami hebat. Peristiwa longsoran material setinggi 70 hingga 90 meter itu menewaskan lebih dari 400 jiwa di sepanjang pesisir Sumatra dan Jawa.
Secara geologis, keberadaan Anak Krakatau berada tepat di dalam lintasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Kawasan sabuk vulkanik sepanjang 40.000 kilometer ini membentang dari ujung Amerika Selatan hingga wilayah Selandia Baru.
Wilayah jalur patahan aktif dunia ini menampung sekitar 90 persen aktivitas gempa bumi global. Sebanyak 75 persen gunung berapi aktif di bumi atau sekitar 452 gunung beradanya di dalam zona rawan ini.