- Dr. Faris Basalamah menjelaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau memancarkan abu vulkanik berbahaya bagi organ tubuh.
- Partikel halus abu vulkanik yang terhirup memicu peradangan pembuluh darah serta meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
- Masyarakat disarankan menghindari aktivitas luar ruangan dan memakai masker KN95 untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
Suara.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau membawa ancaman kesehatan yang tak boleh dianggap sepele. Paparan abu vulkanik bukan hanya dapat mengganggu saluran pernapasan dan mata, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Consultant Cardiologist, Interventional Cardiologist and Interventional Electrophysiologist Heartology Cardiovascular Hospital, menjelaskan abu vulkanik mengandung partikel sangat kecil, termasuk particulate matter (PM) berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2.5), fragmen silikon, serta gas sulfur dioksida (SO2).
"Debu vulkanik itu mengandung partikel-partikel kecil dari debu yang kurang dari 2,5 mikrometer dan juga mengandung silikon-silikon yang terfragmentasi serta gas sulfur oksida, SO2. Dan itu sangat berbahaya," ujar Dr. Faris dalam video penjelasan yang diterima Suara.com.
Menurutnya, ada sejumlah organ yang dapat terdampak paparan abu vulkanik. Saluran pernapasan menjadi salah satu yang paling rentan. Paparan dapat memicu batuk, produksi dahak berlebihan, tenggorokan gatal, suara serak hingga memperburuk kondisi asma.
Dalam jangka panjang, paparan juga berpotensi menyebabkan kerusakan kronis pada paru-paru berupa fibrosis atau terbentuknya jaringan parut.
Mata dan kulit pun tidak luput dari dampaknya. Abu vulkanik dapat mengiritasi mata, termasuk kornea, akibat gesekan partikel debu.
Namun, yang juga perlu menjadi perhatian adalah dampaknya terhadap sistem kardiovaskular.

Abu Vulkanik Bisa Picu Peradangan Pembuluh Darah
Lebih lanjut Dr. Faris menjelaskan, partikel abu vulkanik yang terhirup dapat masuk hingga ke alveoli atau bagian paru-paru tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Partikel berukuran sangat kecil kemudian berpotensi memicu respons peradangan di dalam tubuh.
Salah satu mekanismenya adalah terjadinya peradangan pada lapisan dalam pembuluh darah atau endotel.
"Debu vulkanik ini masuk ke alveoli, sehingga masuk ke dalam sirkulasi darah dan memicu pelepasan sitokin proinflamasi yang kemudian menyebabkan kerusakan membran dan peradangan dari pembuluh darah kita," jelasnya.
Peradangan tersebut menjadi perhatian terutama bagi orang yang sebelumnya sudah memiliki penyakit jantung koroner atau aterosklerosis.
Pada kondisi tersebut, peradangan dapat berkontribusi terhadap pecahnya plak yang menumpuk di pembuluh darah. Jika plak yang pecah kemudian membentuk sumbatan, aliran darah ke jantung dapat terganggu dan memicu serangan jantung.
Bila proses serupa terjadi pada pembuluh darah otak, risikonya dapat berupa stroke.
Dr. Faris juga menyinggung sejumlah penelitian yang mengamati hubungan antara paparan abu vulkanik dan kejadian kardiovaskular. Salah satunya dilakukan di Hawaii ketika terjadi erupsi gunung berapi, yang menunjukkan adanya peningkatan kejadian serangan jantung dan stroke.
Tekanan Darah hingga Irama Jantung Bisa Terganggu
Risiko terhadap jantung tidak berhenti pada peradangan pembuluh darah. Paparan abu vulkanik juga dapat memengaruhi tekanan darah.
Menurut Dr. Faris, inhalasi partikel abu dapat memicu respons sistem saraf simpatis. Respons tersebut kemudian dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah atau vasokonstriksi sehingga tekanan darah meningkat.
Kondisi ini perlu diperhatikan terutama oleh orang yang sudah memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Selain tekanan darah, paparan abu vulkanik juga berpotensi memengaruhi irama jantung.
Gangguan tersebut dapat terjadi akibat efek toksik langsung dari partikel ultrafine serta stres fisik yang muncul ketika seseorang mengalami gangguan pernapasan akut. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengganggu sistem konduksi listrik jantung.
Artinya, masyarakat tidak sebaiknya hanya mewaspadai batuk atau mata perih ketika terpapar abu vulkanik. Kelompok yang memiliki penyakit jantung, tekanan darah tinggi, maupun faktor risiko kardiovaskular juga perlu lebih berhati-hati.
Kurangi Paparan, Gunakan Masker yang Tepat
Untuk mengurangi risiko kesehatan, Dr. Faris menyarankan masyarakat menghindari paparan abu vulkanik sebisa mungkin.
"Kalau memang tidak perlu, sebaiknya pindah keluar rumah dan kalau memang perlu maka gunakan masker yang mencukupi," katanya.
Ia merekomendasikan penggunaan masker KN95 untuk membantu menyaring partikel berukuran sangat kecil.
Masyarakat juga sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara masih dipenuhi abu vulkanik. Terlebih bagi kelompok rentan, seperti penderita asma dan orang dengan penyakit jantung atau pembuluh darah.
Paparan abu vulkanik mungkin terjadi setelah erupsi, tetapi dampaknya terhadap tubuh tidak selalu berhenti ketika aktivitas erupsi mereda. Karena itu, kewaspadaan dan upaya mengurangi paparan tetap penting dilakukan selama abu masih berada di lingkungan sekitar.