-
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pembuatan masterplan mitigasi bencana komprehensif untuk merespons krisis nasional.
-
Pemerintah meningkatkan alokasi anggaran penanganan bencana guna membeli armada udara, pemadam, dan ekskavator.
-
Bencana gempa Flores, erupsi Gunung Anak Krakatau, dan karhutla mendorong percepatan perombakan sistem mitigasi.
Suara.com - Media Singapura menyoroti aksi Presiden Prabowo Subianto yang menginstruksikan penyusunan masterplan mitigasi bencana secara komprehensif guna memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi rentetan krisis alam. Langkah tegas ini diambil saat Indonesia tengah digempur bencana alam gempa bumi, lonjakan aktivitas gunung api, hingga kebakaran hutan.
Pemerintah pusat tengah mempercepat pemulihan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, sekaligus menanggulangi gangguan penerbangan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Di saat bersamaan, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan serta Sumatra dilaporkan telah meluas hingga menyelimuti wilayah Malaysia, Brunei, dan Filipina.
Keputusan perombakan sistem mitigasi ini diambil demi menghentikan pola penanganan darurat yang dinilai terlambat dan pasif. Letak geografis Indonesia di kawasan Pacific Ring of Fire menuntut pemerintah memiliki kemampuan respons bencana yang jauh lebih matang.

“Ini adalah takdir kita sebagai negara yang berada di Cincin Api, memaksa kita untuk selalu siap menghadapi situasi seperti ini setiap saat,” kata Prabowo yang dimuat CNA.
Presiden menegaskan agar jajaran menteri dan pejabat terkait menyiagakan seluruh personel serta peralatan keselamatan jauh sebelum bencana terjadi. Strategi ini mencakup intensifikasi operasi modifikasi cuaca menggunakan pesawat hingga penjajakan penggunaan drone pemadam api berkapasitas berat.
Demi merealisasikan skema baru tersebut, pemerintah berencana memperbesar alokasi anggaran penanggulangan bencana dalam APBN. Penambahan dana ini diprioritaskan untuk pengadaan armada helikopter, pompa air, mobil pemadam kebakaran, serta ekskavator kecil yang lincah menembus wilayah pedesaan.
Dalam rapat evaluasi tersebut, Kepala Negara juga menagih laporan perkembangan terkini terkait penanganan darurat di Flores, Gunung Anak Krakatau, dan kawasan karhutla. Setiap pemerintah daerah dan lembaga nasional diwajibkan memberikan pemutakhiran data secara transparan dan berkala.
Rangkaian krisis terkini diawali oleh guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang menerjang Pulau Flores pada 15 Agustus lalu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat peristiwa tragis tersebut merenggut 129 korban jiwa serta merusak lebih dari 98.000 rumah warga.
Erupsi susulan Gunung Anak Krakatau pada Jumat malam kemudian memperparah kondisi dengan semburan lava cair dan abu vulkanik pekat. Akibatnya, sebanyak delapan bandara di sekitar lokasi letusan sempat menghentikan seluruh operasional penerbangan demi alasan keselamatan.
Rentetan penutupan jalur udara tersebut sempat mengganggu sekitar 3.000 jadwal penerbangan dan berdampak langsung pada 341.000 penumpang. Hingga Selasa pagi, Bandara Internasional Soekarno-Hatta bersama lima bandara lainnya telah kembali beroperasi normal, sementara dua bandara sisanya masih ditutup.
Wilayah Indonesia secara geologis berdiri di atas pertemuan tiga lempeng tektonik aktif yang memicu kerentanan tinggi terhadap gempa dan erupsi. Selain itu, kondisi iklim tropis serta pembukaan lahan secara masif terus memicu ancaman kebakaran hutan berulang setiap tahunnya.