- Masyarakat Malaysia mengeluhkan kebijakan pemerintah yang meliburkan sekolah akibat kabut asap karhutla tetapi tetap mewajibkan pekerja beraktivitas.
- Penutupan fasilitas pendidikan karena kualitas udara buruk tersebut memicu kebingungan serta kesulitan bagi para orang tua yang harus bekerja.
- Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil menyatakan Malaysia telah menawarkan bantuan aset kepada Indonesia, tetapi belum ada konfirmasi kerja sama pemadaman.
Suara.com - Memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan, di Malaysia memicu keluhan dari masyarakat.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kebijakan penutupan sekolah ketika Indeks Pencemaran Udara (IPU) mencapai tingkat tertentu, sementara para pekerja tetap diminta menjalankan aktivitas seperti biasa.
Keluhan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah pengguna mempertanyakan mengapa perlindungan dari kabut asap seolah hanya diberikan kepada pelajar.
“Kami juga ingin libur, pekerja bukan bernapas menggunakan insang,” tulis seorang pengguna media sosial, menyindir kebijakan pemerintah Malaysia seperti dikutip dari Kosmo.
Perdebatan bermula dari unggahan pengguna Threads @Nooraema yang mempertanyakan kebijakan penutupan sekolah ketika IPU melewati angka 200.

“Jika IPU melebihi 200, sekolah akan libur. Tetapi bagi yang bekerja, teruskan bekerja. Kenapa begitu? Sebab kita menggunakan ‘insang’ untuk bernapas,” tulisnya secara sinis.
Keluhan serupa disampaikan netizen Malaysia lain. Menurutnya, risiko kesehatan akibat kualitas udara buruk tidak seharusnya dibedakan berdasarkan status seseorang.
“Sekolah tutup karena udara tidak sehat, sementara yang bekerja tetap menjalankan aktivitas harian seolah paru-paru punya mode ‘tahan banting’. Kesehatan manusia tidak mengenal status pelajar atau pekerja,” katanya.
Persoalan lain muncul bagi orang tua yang tetap harus bekerja ketika sekolah, taman kanak-kanak, maupun tempat penitipan anak ditutup akibat kabut asap.
Sementara itu, Menteri Komunikasi sekaligus juru bicara pemerintah Malaysia, Fahmi Fadzil, mengatakan daftar aset yang dapat dikerahkan untuk membantu Indonesia telah disampaikan kepada pihak terkait.
Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai bentuk kerja sama yang memungkinkan aset Malaysia digunakan untuk membantu memadamkan kebakaran di Indonesia.
“Badan Nasional Pengelolaan Bencana (Nadma) dan Kementerian Luar Negeri (Wisma Putra) telah menyampaikan kepada Kabinet bahwa daftar aset yang mampu kita sediakan untuk membantu negara tetangga telah disampaikan,” kata Fahmi dalam konferensi pers setelah rapat Kabinet dinukil dari Free Malaysia Today.
“Namun hingga sekarang, belum ada konfirmasi mengenai bentuk kerja sama apa pun untuk menggunakan aset dari Malaysia guna membantu memadamkan kebakaran dan sebagainya,” lanjutnya.