-
Denmark melarang penggunaan ponsel di sekolah saat jam pelajaran maupun waktu istirahat.
-
Kebijakan ini dipicu oleh anjloknya skor PISA Denmark hingga di bawah rata-rata Eropa.
-
Perdana Menteri Denmark menilai paparan layar digital berlebih merusak hasil belajar anak.
Suara.com - Pemerintah Denmark resmi mengajukan larangan total penggunaan telepon seluler bagi seluruh siswa di area sekolah. Kebijakan tegas ini mencakup penghentian akses gadget, baik selama kegiatan belajar mengajar di kelas maupun saat jam istirahat.
Langkah drastis ini diambil sebagai respons langsung atas kemerosotan tajam performa akademis pelajar Denmark di tingkat internasional. Krisis capaian pendidikan tersebut terungkap usai laporan terbaru PISA menunjukkan penurunan skor yang sangat signifikan.
Fenomena ketergantungan layar digital ditengarai menjadi pemicu utama di balik merosotnya kemampuan literasi dan numerasi generasi muda. Pemerintah menilai pembatasan ruang gerak teknologi pintar di lingkungan sekolah menjadi solusi mendesak untuk memulihkan fokus belajar.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan komitmennya untuk membersihkan lingkungan pendidikan dari gangguan perangkat elektronik.
"Pemerintah ini mengusulkan larangan total terhadap telepon seluler," tegas Frederiksen dalam sebuah konferensi pers, dikutip dari Spotmedia, Jumat (11/9/2026).
Keputusan besar ini mengemuka tepat setelah Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) merilis hasil evaluasi pendidikan triatlonnya. Dalam riset internasional tersebut, skor kompetensi para pelajar Denmark tercatat merosot hingga menyentuh angka 478 poin.
Capaian angka tersebut menempatkan Denmark berada di bawah rerata kemampuan siswa di kawasan Eropa yang mencapai 482 poin. Anjloknya peringkat ini menjadi alarm keras bagi sistem pendidikan nasional yang sebelumnya dikenal sangat berbasis digital.
Menteri Pendidikan Magnus Heunicke menyampaikan keprihatinan mendalam atas temuan data evaluasi PISA terbaru tersebut. "Hasil dalam membaca, matematika, dan sains adalah yang terlemah yang pernah diukur," ungkap Heunicke menanggapi pengumuman studi PISA.
Ia menilai keterhubungan yang terlalu tinggi dengan dunia maya telah mengikis kualitas pembelajaran anak secara fundamental. Senada dengan hal itu, Frederiksen meyakini ada korelasi langsung antara paparan gawai dan penurunan prestasi belajar.
"Saya yakin hasil tersebut berkaitan erat dengan fakta bahwa di Denmark, kita memiliki beberapa anak yang paling terhubung secara digital," kata pemimpin pemerintah tersebut.
Frederiksen juga menyoroti kelalaian generasi tua dalam membatasi akses gawai pada anak-anak sejak dini.
"Kita, sebagai orang dewasa, telah membiarkan anak-anak dan kaum muda menghabiskan terlalu banyak jam di depan layar," sesalnya.
Upaya untuk mendisiplinkan penggunaan telepon seluler di ranah pendidikan sebenarnya bukan hal yang baru bagi pemerintah Denmark. Wacana regulasi pembatasan gadget sudah pernah masuk dalam agenda pembahasan kabinet kepemimpinan Mette Frederiksen terdahulu.
Namun, draf aturan yang lalu tidak sampai diperdebatkan di tingkat parlemen nasional. Rancangan aturan sebelumnya hanya sebatas mewajibkan dewan sekolah menyusun petunjuk teknis lokal terkait penyitaan ponsel di lembaga masing-masing.
Kegagalan penerapan aturan mandiri di tingkat sekolah kini mendorong pemerintah mengambil alih kebijakan secara terpusat dan menyeluruh. Pembatasan ponsel ini juga melengkapi rencana undang-undang lain yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah umur 15 tahun.