- Acara Gen Z Impact Fest 2026 di Yogyakarta pada 12 September 2026 menghadirkan sesi karier untuk mengubah generasi muda menjadi pencipta peluang.
- Drs. Eko Cahyono Tjia menyatakan bahwa industri modern kini menuntut penguasaan AI, portofolio nyata, serta jaringan kerja yang luas bagi pencari kerja.
- Meika Hazim dan Kafka Vadanta membagikan kisah sukses merintis usaha kuliner lokal serta membangun karier kreator konten secara konsisten sejak usia muda.
Suara.com - Di tengah ketatnya persaingan kerja formal dan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital saat ini, pola pikir mengenai mencari kerja kantoran setelah lulus kuliah perlahan mulai bergeser.
Tantangan zaman menuntut generasi muda untuk lebih adaptif, kreatif, dan berani melihat peluang di luar jalur konvensional.
Menjawab kegelisahan tersebut, rangkaian Gen Z Impact Fest 2026 di Gadjah Mada University Club (UC) Hotel Yogyakarta pada Sabtu (12/9/2026) menghadirkan sesi karier bertajuk “From Talent to Job Creator: Seek Your Own Opportunity”.
Hadir tiga pembicara, yaitu Drs. Eko Cahyono Tjia, Psi., MM selaku Ka Dept Pusat Karier PP Kagama 2025-2029 dan Direktur PT Quantum Edukasindo Paradigma; Meika Hazim, Owner Cokelat Ndalem; dan Kafka Vadanta Founder @maximizingmasamuda & @upgrow_id.
Sesi ini dirancang untuk membongkar batasan lama sekaligus menginspirasi anak muda agar berani mentransformasikan diri dari sekadar pencari kerja (job seeker) menjadi pencipta peluang (job creator).
Menghadapi Realitas Dunia Kerja dan Mentalitas Intrapreneurship
Drs. Eko Cahyono Tjia, Psi., MM. memaparkan bahwa tantangan terbesar para fresh graduate saat ini adalah tingginya angka pengangguran usia muda.
Industri modern tidak lagi sekadar melihat tinggi rendahnya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) atau hafalan materi kuliah semata, melainkan bukti kerja nyata serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).
"Pada waktu interview yang ditanya adalah mana bukti kerjaannya. Makanya, kemudian industri sekarang malah bergeraknya sudah ke arah AI. Dan sekarang pertanyaannya adalah kamu mampu enggak untuk mengendalikan AI itu membuat pekerjaan itu lebih cepat," ujar Eko Cahyono Tjia.
Selain penguasaan AI, Eko juga menekankan pentingnya memiliki mentalitas intrapreneurship—yakni rasa memiliki dan tanggung jawab penuh terhadap perusahaan tempat kita bekerja seolah-olah kita adalah pemiliknya sendiri.
Kemampuan komunikasi persuasif, negosiasi, serta kolaborasi lintas disiplin menjadi penentu utama kesuksesan di dunia profesional.
Menghadapi persaingan ketat di dunia kerja, portofolio dan networking (jaringan) dinilai sebagai modal sosial yang paling berharga.
Organisasi kampus disebut sebagai salah satu simulasi dunia kerja terbaik untuk melatih kemampuan menyusun rencana, mengeksekusi program, hingga mengevaluasi hasil kerja.
"Jadi sekarang yang menjadi mata uang karier yang laku itu adalah portofolio. Nomor satu itu. Kedua jaringan atau network yang kamu punya," lanjutnya.
Dengan memperluas pertemanan lintas fakultas hingga lintas universitas dan membangun rekam jejak digital yang positif, peluang kerja akan datang dengan sendirinya tanpa harus bersusah payah melamar ke berbagai tempat.
Untuk memotivasi peserta agar berani menjadi pencipta lapangan kerja (job creator), dipaparkan pula contoh nyata, yaitu bisnis kuliner milik mahasiswa FEB UGM, hingga inovasi penjualan hewan kurban secara kreatif menggunakan platform digital seperti TikTok Shop oleh pemuda bernama Hanan.
Kisah-kisah ini membuktikan bahwa modal besar bukanlah syarat mutlak untuk memulai sebuah usaha.
Sesi ini ditutup oleh Eko dengan sebuah refleksi penting bagi seluruh peserta. Alih-alih berfokus pada siapa yang akan mempekerjakan kita di masa depan, orientasi utama generasi muda seharusnya diarahkan pada solusi apa yang dapat diselesaikan hari ini.
Kisah Cokelat Ndalem: Memulai Bisnis dari Aset Sekitar dan Skala Kecil

Meika Hazim selaku Owner Cokelat Ndalem membagikan perjalanan karier serta jatuh bangunnya membangun bisnis kuliner dari skala kecil.
Berbekal pengalaman kerja di berbagai tempat sejak masa kuliah, ia menekankan pentingnya membangun jejaring (network) serta memiliki mental wirausaha sebelum memutuskan untuk membangun usaha sendiri.
Meika dalam merintis Cokelat Ndalem tidak dimulai dari modal miliaran rupiah atau kantor megah di pusat kota.
Usaha ini berawal dari pemanfaatan garasi rumah orang tua dan area sekitar secara sederhana, membuktikan bahwa siapa pun dapat memulai bisnis dengan aset yang ada di dekat mereka.
"Mulainya dari rumah orang tua, tinggalnya masih di PIM, Pondok Indah Mertua setelah menikah. Terus dari rumah yang sederhana ini pakai spanduk di lantai dua, ruangannya cuman kecil ada satu ruangan yang bisa disulap jadi ruang produksi," papar Meika.
Dalam membangun sebuah tim bisnis, Meika menyebutkan perlunya kolaborasi dari berbagai keahlian yang berbeda sudut pandang.
Dengan mengangkat cita rasa khas kuliner Yogyakarta seperti wedang uwuh, kopi jos, hingga kolaborasi bersama petani lokal, Cokelat Ndalem berhasil menghadirkan produk unik yang bernilai tinggi dan bersaing di kancah internasional.
"Jadi sebenarnya kalau teman-teman bisa melihat di sekitar kita, itu ada banyak potensi. Termasuk bagaimana kita melihat segala sesuatu kuliner di Yogyakarta, ada kopi Joss Malioboro, ada es rujak Pak Kualaman yang semuanya dimasukkan ke dalam coklat," jelasnya.
Lebih lanjut, Meika menekankan bahwa memiliki ide yang cemerlang saja tidak cukup jika tidak segera diwujudkan ke dalam tindakan nyata.
Meika mengingatkan pentingnya memulai dari hal kecil, menjaga kesehatan arus kas (cash flow) yang menjadi nadi utama bisnis, serta merawat konsistensi dari waktu ke waktu.
"Start small, test fast sama satu lagi learn early. Udah mulainya tuh kecil-kecil aja, enggak usah langsung ngejeblak gede," tutup Meika.
Dari "Bocil" YouTube hingga Pemuda Inspiratif
Kafka Vadanta, mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM sekaligus founder @maximizingmasamuda dan @upgrow_id, di usianya yang masih 19 tahun membagikan kisah perjuangannya dari titik terendah hingga berhasil membangun komunitas, startup, dan jutaan pengikut di media sosial.
Berawal dari kenekatannya membuat kanal YouTube saat lulus SD, ia sempat mengalami masa-masa sulit ketika kanal utamanya diblokir (banned) dua kali oleh YouTube karena usianya yang dianggap belum memenuhi syarat.
Berkat dukungan orang tua dan satu kesempatan untuk mencoba kembali, ia bangkit hingga kini berhasil meraih Silver Play Button YouTube dan jutaan subscribers serta pengikut di media sosial.
"Ketika kamu merasa ingin menyerah, kamu sebenarnya punya satu slot lagi untuk mencoba. Satu kesempatan lagi," ujar Kafka.
Kafka menekankan bahwa menjadi seorang content creator tidak sama dengan membangun personal branding.
Content creator adalah tentang membuat konten, sementara personal branding adalah bagaimana orang lain mengenal dan mengingat nilai khusus dari diri kita.
Dengan personal branding yang kuat, peluang karier dan profesional akan datang dengan sendirinya.
"Kita itu juga harus menjadi orang yang dicari, bukan orang yang mencari," lanjut Kafka.
Lebih lanjut, Kafka juga membagikan rumus personal value sederhana yang dapat dipegang oleh setiap anak muda untuk mengenali tujuan hidup dan karier mereka.
"Aku adalah siapa? Yang ingin membantu siapa? Menggapai goal apa dengan cara apa?"
Dalam proses belajar dan merintis sesuatu baik itu konten, bisnis, maupun keterampilan baru, seseorang pasti akan melewati fase keraguan yang disebut the valley of despair.
Banyak orang berhenti di fase ini karena merasa segalanya menjadi sulit. Namun, menurut Kafka dengan niat berbagi yang tulus dan konsistensi, hambatan tersebut dapat dilalui dengan baik.
Menutup sesinya, Kafka mengajak seluruh generasi muda untuk berhenti menunda dan segera mengambil tindakan nyata dalam berkarya.
"Stop Whining, Start Creating. Jadi, ini adalah quote yang aku bilang sama teman-teman semua. Kalau misalnya kita itu enggak usah banyak nunggu. Enggak usah banyak nunggu. Enggak usah nunggu sempurna," pungkas Kafka.
Sebagai informasi, Gen Z Impact Fest 2026 merupakan ruang kolaborasi dan pembelajaran bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, mengembangkan kapasitas diri, serta menemukan berbagai peluang di tengah perubahan dunia kerja, ekonomi digital, dan tantangan lingkungan.
Mengusung semangat "Empowering the Next Generation", festival ini menghadirkan rangkaian diskusi, talkshow, creator showcase, hiburan, dan sesi inspiratif yang membahas isu-isu dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari finansial, karier, lingkungan, keamanan digital, hingga dunia kreator.
Gen Z Impact Fest 2026 dirancang tidak hanya sebagai ruang untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi juga sebagai wadah bagi generasi muda untuk memperoleh bekal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini secara khusus mendorong peningkatan literasi keuangan mahasiswa, pemahaman mengenai perencanaan keuangan pribadi, edukasi investasi sejak dini, pembentukan kebiasaan finansial yang sehat dan berkelanjutan, serta kesadaran mengenai pentingnya memilih investasi yang aman dan legal.
Selain menghadirkan sesi edukasi, festival ini juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan karya dan gagasan melalui sejumlah kompetisi melalui Impact Content Competition.
Ajang tersebut mengajak kreator muda menyampaikan gagasan mengenai isu keuangan, karier, dan lingkungan melalui video pendek; Sketch & Collection Showcase sebagai wadah bagi talenta desain dan seni visual; serta kompetisi Live Event Coverage "Post & Win" yang mendorong peserta menghidupkan atmosfer festival melalui konten digital.
Gen Z Impact Fest 2026 diinisiasi oleh Suara.com, SKM Bulaksumur, dan Kagama Persma. Pelaksanaan acara ini mendapat dukungan collaborator dari International Media Support (IMS) dan Swedish International Development Cooperation Agency (Sida). Program ini juga didukung oleh sponsor Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Kayong Aluminium Nusantara, dan Astra.
Dukungan terhadap pelaksanaan Gen Z Impact Fest 2026 turut datang dari berbagai supporting partners, yaitu Majika, Wondermis, ParagonCorp, Frisian Flag, Kino Indonesia, Dekayu, Bank Jago, Aviroam, Eventmerch, It’s Love Pastry & Bakery, Speakers Academy, Mydervia, Psikopersada Khatulistiwa, dan Kemuning Java.
Sementara itu, penyebarluasan informasi dan pesan Gen Z Impact Fest 2026 turut didukung oleh media partners CelebrityInk.com, Bantul Mantul, Mojok, dan The Tribes.