-
Arab Saudi menggempur posisi Houthi dengan 50 lebih serangan udara balasan dalam sehari.
-
Houthi berhasil menguasai Selat Bab al-Mandab dan menyerang pangkalan militer Sharurah milik Saudi.
-
Pertempuran sengit ini menyebabkan hampir 86.000 warga Yaman terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Suara.com - Arab Saudi melancarkan lebih dari 50 serangan udara balasan dalam sehari ke posisi Houthi usai basis militernya dihantam rudal. Eskalasi militer ini menandai babak baru bentrokan kedua pihak setelah blokade maritim diterapkan di Laut Merah.
Kelompok Houthi berhasil mengukuhkan kendali penuh atas Selat Bab al-Mandab yang merupakan jalur logistik minyak mentah bagi Riyadh. Penguasaan jalur navigasi ini berpotensi memicu kemacetan pasokan energi global di tengah penutupan Selat Hormuz.
Serangan intensif yang menyasar markas militer kerajaan di wilayah selatan menjadi pemicu utama aksi balasan jet tempur Saudi. Gelombang bombardir tersebut menghantam berbagai wilayah strategis yang dikuasai milisi Iran-backed ini.

"Musuh kriminal Saudi telah melakukan 58 serangan udara dalam 24 jam terakhir" [musuh kriminal Saudi telah melakukan 58 serangan udara dalam 24 jam terakhir] ujar Yahya Saree.
Pihak Almasirah TV memverifikasi adanya gempuran udara di wilayah Saada serta tembakan artileri berat di perbatasan Monabbih. Kawasan pasar tradisional di Provinsi Al-Jawf juga dilaporkan menjadi sasaran tembak armada udara kerajaan.
Houthi mengklaim telah menerima lebih dari seratus gempuran udara sejak awal pekan meski pihak Riyadh belum memberikan konfirmasi resmi. Hingga saat ini fokus gempuran masih tertahan di garis depan pertempuran tanpa menyentuh pusat pemerintahan di Sanaa.
Riyadh memilih membatasi publikasi operasi militer dan hanya merilis peringatan dini serangan di wilayah perbatasan selatan. Pertahanan sipil kerajaan sempat mengaktifkan alarm bahaya di Abha dan Khamis Mushait sebelum akhirnya dicabut.
Target utama gempuran drone dan rudal kelompok Houthi menyasar pangkalan udara Sharurah di bagian selatan Arab Saudi. Penyerangan tersebut ditujukan untuk melumpuhkan fasilitas penyimpanan amunisi serta pusat kendali taktis musuh.
“Depo senjata serta pusat komando dan kendali yang mengelola agresi terhadap bangsa dan rakyat kita” [depo senjata serta pusat komando dan kendali yang mengelola agresi terhadap bangsa dan rakyat kami] tulis Yahya Saree.
Dampak serbuan proyektil di wilayah perbatasan Jizan mengakibatkan dua orang warga sipil mengalami luka-luka. Eskalasi yang kian tidak terkendali ini memicu gelombang pengungsian massal warga lokal dari area konflik.
Laporan lembaga PBB mencatat hampir 86.000 warga Yaman terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat pertempuran sengit dalam beberapa pekan terakhir. Angka pengungsi terus melonjak drastis hingga puluhan ribu orang setiap harinya.
Sebagian warga bahkan memilih melintasi lautan menuju Djibouti demi menghindari krisis kemanusiaan yang kian memburuk. Konflik berkepanjangan ini memperparah penderitaan rakyat Yaman yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Akar pertempuran terbaru ini bermula dari pelanggaran ruang udara Yaman oleh pesawat Iran yang mendarat di Sanaa pada Juli lalu. Pemerintah Yaman menanggapi tindakan tersebut dengan merusak fasilitas bandara yang kemudian memicu aksi saling balas.
Keterlibatan Yaman memperluas konfrontasi regional di Timur Tengah yang sebelumnya dipicu oleh ketegangan Amerika Serikat dan Iran. Permintaan bantuan serangan udara yang diajukan Riyadh kepada Washington kabarnya ditolak oleh pihak AS.
Pertikaian yang sempat mereda sejak gencatan senjata PBB tahun 2022 kini kembali membara dan mengancam stabilitas kawasan. Perang saudara yang berawal dari pengambilalihan ibu kota pada 2014 ini terus memakan korban jiwa.