Razia Moral Selamatkan Keluarga, Puluhan Kaum LGBT Ditangkap di Turki

Pebriansyah Ariefana

Senin, 14 September 2026 | 14:41 WIB
Razia Moral Selamatkan Keluarga, Puluhan Kaum LGBT Ditangkap di Turki
Ada banyak negara yang pro terhadap hubungan sesama jenis atau LGBT (freepik)
baca 10 detik
  • Polisi Turkiye menangkap sedikitnya 60 aktivis LGBTQ dalam penggerebekan massal di 15 provinsi.

  • Pemerintah Turki menyita fasilitas komunitas serta memblokir akun organisasi LGBTQ di platform X.

  • Uni Eropa mengecam keras aksi penangkapan ini sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.

Suara.com - Pemerintah Turki melancarkan operasi penangkapan massal terhadap kaum LGBTQ atau penyuka sesama jenis di 15 provinsi. Langkah drastis ini menandai babak baru penekanan kelompok minoritas gender di bawah rezim Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Aparat bergerak menggrebek bar, kelab malam, hingga hunian pribadi aktivis di Istanbul dan Ankara. Penindakan serentak pada hari Minggu tersebut menjaring sedikitnya 60 orang ke dalam tahanan polisi.

Selain aksi penggerebekan di lapangan, pemerintah juga memblokir belasan akun organisasi LGBTQ di platform X. Pemblokiran digital ini mempertegas isolasi terhadap ruang gerak komunitas penyuara hak minoritas tersebut.

Ilustrasi LGBT. (Shutterstock)
Ilustrasi LGBT. (Shutterstock)

"Sebagai bagian dari operasi 'My Family is Safe'... yang dilakukan bekerja sama dengan pasukan polisi dan gendarmerie kami, proses hukum telah dimulai terhadap 162 tersangka, 9 organisasi, dan 13 perusahaan di... total 15 provinsi," tulis Menteri Kehakiman Akin Gurlek di platform X, dikutip dari France24, Senin (14/9/2026).

Akin Gurlek menambahkan bahwa tindakan tegas ini mendukung agenda resmi negara untuk melindungi moralitas publik.

"Melindungi anak-anak kita, lembaga keluarga, dan ketertiban sosial," ujar Gurlek merujuk pada program Dekade Keluarga yang dicanangkan Erdogan.

Media pemerintah Anadolu melaporkan kejaksaan di Istanbul, Ankara, dan Izmir telah mengamankan sedikitnya 63 orang. Penggerebekan menyasar tempat berkumpul komunitas hingga fasilitas pemandian umum pria.

Kelompok hak asasi Kaos GL turut menjadi sasaran penggeledahan dan pimpinannya diangkut ke markas polisi. Organisasi tersebut mencatat hampir 50 pembela hak LGBTQ di penjuru negeri kini menjalani pemeriksaan hukum.

"Hampir 50 pembela hak-hak orang LGBTQ telah ditahan atau menjadi sasaran proses hukum yang melibatkan pemeriksaan atau penahanan," ungkap perwakilan Kaos GL.

baca juga

Otoritas kehakiman Ankara menuduh situs resmi dan media sosial milik Kaos GL menyebarkan konten bermuatan melanggar kesusilaan. Pemerintah mengklaim materi digital organisasi tersebut dapat diakses secara bebas oleh anak-anak.

Meskipun hubungan sesama jenis tidak tergolong tindak pidana di Turki, sentimen stigma sosial tetap meluas. Komunitas LGBTQ dan kelompok hak perempuan terus menjadi benteng perlawanan terhadap pemerintah berhaluan konservatif.

Tindakan keras otoritas Turki memicu kecaman terbuka dari lembaga parlemen Uni Eropa. Hubungan diplomasi Turkiye dan Uni Eropa diprediksi kian merenggang akibat peristiwa penekanan hak asasi ini.

"Ini adalah eskalasi kejutan dalam represi di Turki," tegas Pelapor Parlemen Uni Eropa untuk Turkiye, Nacho Sanchez Amor.

Sanchez Amor mengkritik keras pemaksaan norma moral oleh pemerintah yang dinilai melanggar komitmen internasional.

"Pemaksaan agenda moral ini merupakan pelanggaran nyata terhadap hak-hak dasar & komitmen internasional Turki yang membawa negara ini ke jalan yang gelap," tulis Nacho Sanchez Amor di platform X.

Dukungan terhadap komunitas minoritas juga mengalir dari politisi oposisi dalam negeri Turki.

"Keberadaan tidak bisa dilarang atau dibatasi. Hak LGBTI+ adalah hak asasi manusia!" seru Ozgul Saki, anggota parlemen dari partai DEM di Istanbul.

Pemerintahan konservatif yang berkuasa sejak 2002 terus mengintensifkan narasi penolakan terhadap hak-hak LGBTQ. Presiden Recep Tayyip Erdogan secara terbuka berulang kali melabeli gerakan LGBTQ sebagai ancaman moral yang merusak struktur keluarga dan menekan angka kelahiran nasional. Langkah represif terkini menjadi bagian dari penegakan program Dekade Keluarga yang bertujuan membatasi ruang aktivitas kelompok minoritas di Turki.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Media Turki Umumkan Jurnalisnya Hilang saat Meliput Gunung Anak Krakatau Meletus

Media Turki Umumkan Jurnalisnya Hilang saat Meliput Gunung Anak Krakatau Meletus

News | Kamis, 10 September 2026 | 12:59 WIB

Benjamin Netanyahu Umumkan Turki Musuh Israel, Sejajar dengan Hizbullah

Benjamin Netanyahu Umumkan Turki Musuh Israel, Sejajar dengan Hizbullah

News | Selasa, 25 Agustus 2026 | 16:14 WIB

Apa Itu Hornet? Komdigi Blokir Aplikasi Kencan Komunitas LGBTQ+

Apa Itu Hornet? Komdigi Blokir Aplikasi Kencan Komunitas LGBTQ+

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 12:03 WIB

Terkini

Dihadiri Para Menteri dan Ketua MPR, EIGER Nature Resmi Diluncurkan di Kabupaten Bogor

Dihadiri Para Menteri dan Ketua MPR, EIGER Nature Resmi Diluncurkan di Kabupaten Bogor

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:10 WIB

Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang

Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang

Bogor | Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:10 WIB

Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY

Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:18 WIB

20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor

20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor

Bogor | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:05 WIB

Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu

Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu

Banten | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:00 WIB

Persib Kalahkan Melbourne Victory 2-0, Igor Tolic: Grup Belum Usai

Persib Kalahkan Melbourne Victory 2-0, Igor Tolic: Grup Belum Usai

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:35 WIB

Umuh Muchtar Buka Suara Usai Pelaku Pembacokan Bobotoh Ditangkap: Mohon Bobotoh Jangan Dendam

Umuh Muchtar Buka Suara Usai Pelaku Pembacokan Bobotoh Ditangkap: Mohon Bobotoh Jangan Dendam

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:21 WIB

Polda DIY Pastikan Malioboro Dalam Kendali Penuh Usai Kerahkan Water Cannon dan Gas Air Mata

Polda DIY Pastikan Malioboro Dalam Kendali Penuh Usai Kerahkan Water Cannon dan Gas Air Mata

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:14 WIB

Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla

Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 23:44 WIB

Pengamat Tanggapi Harga Saham BYAN Haji Isam

Pengamat Tanggapi Harga Saham BYAN Haji Isam

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 23:17 WIB

×