- Nemerina Uamang berhasil dievakuasi tim gabungan setelah bertahan 21 hari di hutan Papua Tengah.
- Korban disandera kelompok TPNPB-OPM di Distrik Jila sejak 17 Agustus hingga ditemukan 7 September 2026.
- Rekan korban bernama Yosina meninggal dunia di hutan akibat tidak mendapatkan asupan makanan yang memadai.
Suara.com - Nemerina Uamang (23), salah satu dari sembilan perempuan yang disandera kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Operasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di Distrik Jila, Mimika, Papua Tengah, berhasil dievakuasi setelah bertahan selama 21 hari di hutan.
Nemerina ditemukan pada 7 September 2026 setelah sebelumnya disandera sejak 17 Agustus 2026. Dia ditemukan dalam kondisi lemah bersama seorang korban lainnya, Yosina, yang kemudian meninggal dunia karena diduga tidak mendapat asupan makanan.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Yusuf Sutejo mengatakan, Nemerina dievakuasi tim gabungan dari Satgas Operasi Damai Cartenz-2026, Polres Mimika, dan Polda Papua Tengah dengan bantuan tokoh masyarakat serta kepala kampung setempat.
“Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Polres Mimika dan dibantu tokoh masyarakat yang ada di Mimika telah berhasil mengevakuasi satu korban selamat atas nama Demerina Uamang,” kata Yusuf, dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).
Keberadaan Nemerina diketahui setelah seorang kepala kampung dari Kampung Bela 1 melaporkan penemuan seorang korban selamat di wilayah Bela pada 7 September.
Polisi kemudian melakukan investigasi dan identifikasi untuk memastikan identitas korban tersebut.
“Awalnya mereka tidak mengetahui siapa korban tersebut. Kemudian kami melakukan investigasi dan proses identifikasi. Hasilnya, benar bahwa Demerina Uamang merupakan korban penculikan yang terjadi pada 17 Agustus yang lalu,” ujar Yusuf.
Yusuf mengatakan Nemerina ditemukan bersama Yosina. Keduanya disebut sempat bertahan sekitar 20 hari dalam kondisi sulit tanpa makanan dan minuman yang memadai.
“Namun, sangat disayangkan, adik Yosina ditemukan telah meninggal dunia karena kondisinya sangat kurus dan tidak mendapat asupan makanan,” jelas Yusuf.
“Mereka berjuang selama 20 hari di hutan, tidak makan dan minum. Demikian juga adik Nemerina Uamang ditemukan dalam kondisi fisik yang lemah,” imbuhnya.
Setelah ditemukan, warga Kampung Bela membantu merawat Nemerina hingga kondisinya memungkinkan untuk dievakuasi. Sementara jenazah Yosina telah dimakamkan secara adat oleh masyarakat setempat.
Cuaca Buruk
Proses evakuasi sempat terkendala cuaca buruk. Helikopter milik Satgas Operasi Damai Cartenz bahkan tidak dapat mencapai lokasi selama beberapa hari.
Setelah cuaca membaik, tim gabungan akhirnya dapat masuk ke lokasi pada Senin pagi untuk menjemput Demerina.
“Tadi pagi, Alhamdulillah, cuaca agak sedikit baik sehingga kita bisa masuk. Didukung personel Satgas Damai Cartenz dengan helikopter, didampingi tokoh masyarakat dan kepala kampung, kita melaksanakan evakuasi,” ungkapnya.
Nemerina kemudian dibawa menggunakan Helikopter Bell Polri P-3002 milik Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026. Dia tiba di Landasan Heli Mako Yon B Pelopor Sat Brimobda Papua Tengah sekitar pukul 09.08 WIT sebelum dibawa ke RS Bhayangkara Timika.
“Kita bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara yang ada di Timika untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan untuk mendukung fisiknya agar kembali menjadi baik dan stabil. Sekarang masih dalam proses pemulihan,” jelas Yusuf.
Kasus penyanderaan tersebut merupakan bagian dari aksi kelompok bersenjata di Kampung Pasir Putih, Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Agustus 2026.
Total sembilan perempuan dilaporkan disandera dan dibawa ke dalam hutan. Sementara dua warga lainnya menjadi sasaran setelah menolak ikut dibawa.
Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak sebelumnya menyebut seorang ibu tewas ditembak, sedangkan anak perempuannya dibuang ke jurang hingga mengalami patah kaki.