BBM Langka di Sejumlah Daerah, IESR Soroti Tata Kelola Energi

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 15 September 2026 | 11:12 WIB
BBM Langka di Sejumlah Daerah, IESR Soroti Tata Kelola Energi
Antrean kendaraan di sebuah SPBU Makassar. [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]

Suara.com - Sejumlah daerah masih menghadapi antrean panjang dan kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), meski pemerintah menyatakan stok BBM nasional dalam kondisi aman.

Kelangkaan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, Jawa, hingga Sumatra. Kondisi ini membuat masyarakat harus mengantre lebih lama untuk mendapatkan BBM.

Persoalan tersebut mendapat perhatian Institute for Essential Services Reform (IESR). Lembaga tersebut menilai kondisi di lapangan menunjukkan bahwa persoalan BBM bukan sekadar soal jumlah stok secara nasional, tetapi juga bagaimana pasokan didistribusikan hingga sampai ke masyarakat.

IESR menegaskan, BBM baru dapat disebut tersedia jika pasokannya sampai ke SPBU dalam jumlah memadai dan pada saat masyarakat membutuhkannya.

Suasana antrean kendaraan untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang semakin sulit diperoleh salah satunya di SPBU Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (9/9/2026) [SuaraSulsel.id/ANTARA]
Suasana antrean kendaraan untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang semakin sulit diperoleh salah satunya di SPBU Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (9/9/2026) [SuaraSulsel.id/ANTARA]

"Pernyataan bahwa stok BBM nasional aman tidak cukup untuk menjawab krisis," kata Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa dalam keterangan tertulis, Minggu (13/9).

Permintaan BBM Subsidi Melonjak

Menurut IESR, salah satu pemicu tekanan pasokan adalah perubahan pola konsumsi BBM setelah harga BBM nonsubsidi meningkat.

Harga Pertamax pada Juni 2026 mencapai Rp16.250 per liter, sementara harga Pertalite bertahan sekitar Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

Selisih harga tersebut mendorong sebagian konsumen BBM nonsubsidi beralih menggunakan BBM subsidi. Di sisi lain, kuota BBM subsidi di setiap wilayah cenderung kaku sehingga sulit menyesuaikan diri dengan lonjakan permintaan.

baca juga

Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menunjukkan konsumsi harian Pertalite pada Agustus mencapai 84.368 kiloliter, sekitar 11,3 persen lebih tinggi dibandingkan konsumsi sebelum kenaikan harga Pertamax.

Penyaluran solar juga meningkat 15,1 persen menjadi 58.271 kiloliter per hari.

Lonjakan permintaan tersebut kemudian menambah tekanan pada distribusi. IESR menyebut keterbatasan armada pengangkut, kapasitas penyimpanan dan SPBU, serta gangguan jalur distribusi dapat memicu antrean hingga kelangkaan di tingkat konsumen.

Penyalahgunaan BBM subsidi juga memperburuk kondisi, meski IESR menilai faktor tersebut bukan satu-satunya penyebab.

IESR Soroti Tata Kelola Energi

IESR menilai kelangkaan yang terjadi secara bersamaan di sejumlah wilayah dalam dua pekan terakhir menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar, mulai dari perencanaan cadangan, distribusi, hingga respons pemerintah terhadap tekanan pasokan.

"Kelangkaan BBM yang terjadi serentak dalam dua minggu terakhir di Sulawesi Selatan, Jawa, dan Sumatra menunjukkan buruknya tata kelola energi nasional dan lemahnya kapasitas institusi menghadapi krisis," ujar Fabby.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pengendara yang harus mengantre. Kelangkaan BBM juga dapat menekan pekerja harian, pengemudi angkutan dan ojek, nelayan, petani, pelaku usaha mikro, hingga rumah tangga yang bergantung pada bahan bakar.

Antrean panjang dan pasokan yang tersendat berisiko meningkatkan biaya transportasi dan distribusi pangan, mengganggu layanan publik, serta menekan daya beli masyarakat.

Karena itu, IESR mendesak pemerintah segera memastikan pasokan BBM di wilayah yang mengalami kekurangan.

Dalam tujuh hingga 10 hari, pemerintah didorong menambah pasokan sementara di daerah terdampak dan melakukan redistribusi antar-terminal setiap hari.

Pemerintah juga diminta memperkuat transparansi dengan membuka informasi mengenai stok terminal, jadwal pengiriman, ketersediaan SPBU, waktu antre, hingga kuota penyaluran.

Informasi tersebut dinilai penting agar masyarakat mendapat kepastian dan tidak terdorong melakukan overbuying atau pembelian berlebihan.

Bagi IESR, persoalan BBM tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah kuota. Pemerintah juga perlu membenahi sistem subsidi agar lebih tepat sasaran dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan harga serta pola konsumsi masyarakat.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bahlil Ungkap Biang Kerok Antrean BBM Subsidi, Soroti Mobil Pajero

Bahlil Ungkap Biang Kerok Antrean BBM Subsidi, Soroti Mobil Pajero

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 18:29 WIB

Di Kota Ini Harga Pertalite Eceran Tembus Rp35 Ribu per Botol, Warga Terpaksa Bayar Mahal

Di Kota Ini Harga Pertalite Eceran Tembus Rp35 Ribu per Botol, Warga Terpaksa Bayar Mahal

Otomotif | Senin, 14 September 2026 | 16:08 WIB

Bagaimana Malaysia Bisa Tambah Kuota BBM Subsidi Demi Ringankan Beban Hidup Rakyat?

Bagaimana Malaysia Bisa Tambah Kuota BBM Subsidi Demi Ringankan Beban Hidup Rakyat?

News | Senin, 14 September 2026 | 15:00 WIB

Terkini

Ini Arti Kedutan Bibir Atas dan Bawah Menurut Primbon Jawa serta Medis

Ini Arti Kedutan Bibir Atas dan Bawah Menurut Primbon Jawa serta Medis

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 11:11 WIB

Donald Trump: AI Menguasai Dunia dan Memusnahkan Kemanusiaan itu Hoaks!

Donald Trump: AI Menguasai Dunia dan Memusnahkan Kemanusiaan itu Hoaks!

News | Selasa, 15 September 2026 | 11:10 WIB

Weton yang Bisa Meredam Rabu Pon? Ada 3 Pilihan Menurut Primbon Jawa

Weton yang Bisa Meredam Rabu Pon? Ada 3 Pilihan Menurut Primbon Jawa

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 11:07 WIB

Sudaryono Ungkap Alasan MBG Ramai Dikritik di Sosmed: Ada Guru hingga LSM

Sudaryono Ungkap Alasan MBG Ramai Dikritik di Sosmed: Ada Guru hingga LSM

News | Selasa, 15 September 2026 | 11:07 WIB

Mentan Ungkap Penipuan Beras Fortifikasi, Selisih Harga hingga Rp44.000 per Kg

Mentan Ungkap Penipuan Beras Fortifikasi, Selisih Harga hingga Rp44.000 per Kg

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 11:04 WIB

Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?

Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 11:02 WIB

Berawal dari Urus SIM hingga Nikah Siri, Hubungan Gelap Oknum Polisi di Tulungagung Kena Sidang Etik

Berawal dari Urus SIM hingga Nikah Siri, Hubungan Gelap Oknum Polisi di Tulungagung Kena Sidang Etik

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 11:02 WIB

The Atala: Ketika Sejarah Nusantara Sera Membawa Menembus Waktu

The Atala: Ketika Sejarah Nusantara Sera Membawa Menembus Waktu

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 11:00 WIB

Mengintip Cara Warisan Leluhur Bali Membuat Garam Palung Secara Tradisional

Mengintip Cara Warisan Leluhur Bali Membuat Garam Palung Secara Tradisional

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 10:58 WIB

Aisar Khaled Dipolisikan terkait Penipuan hingga Pencucian Uang

Aisar Khaled Dipolisikan terkait Penipuan hingga Pencucian Uang

News | Selasa, 15 September 2026 | 10:58 WIB

×