-
Israel menggunakan sistem AI ImiSight untuk mempercepat pembongkaran rumah warga Palestina di Tepi Barat.
-
Penggunaan satelit berteknologi AI menghilangkan peran analisis manusia dalam memindai target penggusuran lahan.
-
Penerapan teknologi otomatisasi ini mempermudah pencaplokan wilayah sekaligus menguntungkan industri pertahanan Israel.
Suara.com - Lembaga Otoritas Pertanahan Israel mengerahkan perangkat kecerdasan buatan bernama AI ImiSight untuk mengotomatiskan pencarian sasaran penggusuran rumah milik warga Palestina di Tepi Barat. Penggunaan kecerdasan buatan buatan pabrikan senjata Rafael ini menggeser peran analisis manusia demi mempercepat proses eksekusi lapangan.
Langkah pengintegrasian kecerdasan buatan ke dalam sistem pendataan wilayah pertanahan merupakan taktik anyar dalam memperluas pencaplokan wilayah pendudukan. Peralatan teknologi ini awalnya diuji coba terhadap komunitas Bedouin di Gurun Naqab sebelum akhirnya diterapkan secara penuh di Tepi Barat.
Data organisasi HAM Peace Now dan Kerem Navot mencatat angka pembongkaran bangunan di Area C Tepi Barat serta Yerusalem Timur melonjak hingga 80 persen pada rentang 2023–2025. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025 saja, otoritas militer tercatat menghancurkan sedikitnya 1.288 struktur bangunan warga.
![Pembongkaran bangunan warga Palestina di Tepi Barat oleh Israel [Foto: ANTARA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/01/04/24519-pembongkaran-bangunan-warga-palestina-di-tepi-barat-oleh-israel.jpg)
Amir Daoud dari Komisi Perlawanan Tembok dan Kolonisasi menilai pembentukan unit pertanahan khusus di Tepi Barat sejak April 2025 merupakan langkah eskalasi yang diperhitungkan.
"Kita sedang berbicara tentang pemindahan model pengawasan dan pengusiran yang telah diuji terhadap warga Palestina di Naqab ke wilayah Palestina yang diduduki," kata Daoud kepada Al Jazeera.
"Bahaya politik dimulai dengan pembentukan distrik yang berafiliasi dengan Otoritas Pertanahan Israel untuk beroperasi di dalam Tepi Barat. Ini berarti memasukkan aparatur pemerintah sipil Israel secara langsung ke wilayah pendudukan."
Pemrosesan citra satelit terkini tidak lagi membutuhkan verifikasi manual manusia di stasiun darat karena algoritma pemantau telah dipasang langsung pada satelit orbital. Kecepatan pemrosesan data luar angkasa ini membuat pendeteksian perubahan lanskap dan objek bangunan di darat terjadi dalam hitungan detik.
Pakar media digital dan teknologi Palestina, Khaled Safi, menjelaskan bahwa pemasangan cip komputer canggih di dalam satelit mengubah fungsi wahana antariksa tersebut menjadi terminal pemrosesan langsung.
“Satelit mengambil gambar, menganalisisnya, mengidentifikasi perubahan dan objek penting, lalu mengirimkan hasilnya atau hanya bagian penting saja ke Bumi,” kata Safi kepada Al Jazeera.
Di Gurun Naqab, penggunaan ImiSight membantu pemetaan area seluas 10.700 kilometer persegi yang berujung pada pengusiran paksa lebih dari 2.600 warga Bedouin. Efisiensi algoritma ini kini diandalkan sepenuhnya untuk memangkas jeda waktu antara penemuan bangunan dan penerbitan surat pembongkaran.
Daoud menegaskan bahwa algoritma bertindak sebagai pengganda kekuatan yang memindai area luas, menentukan prioritas sasaran, dan mendeteksi perubahan lanskap dengan cepat.
"Pemerintah mengambil keputusan pengusiran secara tegas, dan algoritma menurunkan biaya eksekusinya," ujar Daoud.
Jaringan intelijen berbasis darat yang dikelola kelompok pemukim Yahudi turut memperkuat pasokan data peta digital ke dalam sistem AI ImiSight. Pemerintah Israel menyalurkan dana puluhan juta shekel untuk menyokong patroli pos penjagaan lengkap dengan sarana drone serta kamera pengawas.
Penyerahan wewenang penentuan nasib permukiman warga kepada sistem kecerdasan buatan menciptakan celah pelepasan tanggung jawab hukum atas pelanggaran HAM.
Safi memperingatkan bahaya etis mendasar ketika sistem otomatis dibiarkan menentukan nasib populasi rentan tanpa adanya peninjauan ulang oleh manusia.
"Masalahnya adalah mengubah keputusan yang menentukan nasib hidup menjadi persamaan probabilitas antara nol dan satu, serta antara angka, gambar, dan data," ucap Safi.
"Ini memungkinkan pelaku kejahatan membagi tanggung jawab dan melarikan diri darinya, menyerahkannya pada algoritma, institusi, atau entitas tak dikenal lainnya."
Pemanfaatan teknologi ini berjalan selaras dengan lonjakan pembangunan permukiman ilegal Yahudi yang merencanakan lebih dari 40.000 unit hunian baru. Pada periode yang sama, sebanyak 118 komunitas peternak Palestina terpaksa angkat kaki akibat pengusiran beruntun.
Peluncuran sistem pendaftaran tanah digital di Area C makin menguatkan dugaan administratif mengenai proses pencaplokan wilayah secara permanen. Pengawasan berbasis algoritma ini menerapkan standar ganda yang tajam antara bangunan warga lokal dan bangunan pemukim ilegal.
Daoud menyoroti bahwa mekanisme otomatisasi pengawasan pertanahan difungsikan secara penuh sebagai mesin pemisah antarkelompok.
"Bangunan Palestina ditemukan lebih awal dan didorong ke jalur pembongkaran yang cepat, sementara pos kolonial didanai, dihubungkan ke layanan umum, dan kemudian diupayakan untuk dilegalkan secara retroaktif," tutur Daoud.
Penggunaan Tepi Barat sebagai lokasi uji coba teknologi AI pertanahan sekaligus memberikan keuntungan komersial bagi industri pertahanan Israel.
Safi memperingatkan bahwa wilayah pendudukan dimanfaatkan sebagai laboratorium lapangan guna menyempurnakan keandalan algoritma pemantau.
"Israel melatih algoritmanya dengan teknologi tertinggi, dan menyiapkannya untuk dijual serta dipasarkan secara global ke perusahaan-perusahaan komersial," kata Safi.
Secara historis, pengetatan pengawasan di wilayah Tepi Barat berkembang seiring penetapan kontrol militer Israel di Area C sejak Perjanjian Oslo. Pembentukan unit Otoritas Pertanahan Israel pada April 2025 mempertegas pergeseran kontrol sipil atas tanah pendudukan yang melanggar hukum internasional.