-
Pasukan Yaman dan Houthi saling gempur di tengah krisis stok rudal pencegat Arab Saudi.
-
Amerika Serikat menggelar pertemuan rahasia dengan Houthi di Oman untuk menjaga keamanan jalur pelayaran.
-
Houthi mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur F-15 Saudi yang berpotensi mengubah peta kekuatan.
Suara.com - Perang Arab Saudi vs Houthi makin panas. untungnya Pemerintah Yaman menggempur markas kelompok Houthi di wilayah Mocha dan Marib. Eskalasi militer ini terjadi di tengah krisis amunisi rudal pencegat yang melanda militer Arab Saudi.
Pemerintah Arab Saudi kini terdesak hingga meminta bantuan mendesak kepada sejumlah negara sekutu untuk memperkuat sistem pertahanan udara mereka. Dikutip dari Al Jazeera, bantuan darurat tersebut diminta langsung kepada Prancis, Pakistan, Mesir, hingga Inggris guna menahan gempuran udara Houthi.
Pemasok senjata utama Riyadh, Amerika Serikat, juga mengalami penurunan drastis pada cadangan rudal pencegat miliknya akibat ketegangan berkelanjutan dengan Iran. Meski demikian, Washington memastikan pengawasan ketat terhadap dinamika medan tempur tetap berjalan.

Juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Tim Hawkins, menegaskan kemitraan pertahanan dengan Riyadh masih berjalan solid.
"Kemitraan militer dengan mitra Saudi kami telah berlangsung lama, dan Anda melihat hal itu terwujud hari ini," ujar Hawkins kepada Al Jazeera.
Di tengah pertempuran yang membara, diplomat Amerika Serikat justru menggelar pertemuan tatap muka secara rahasia dengan utusan Houthi di Muscat, Oman. Diskusi tertutup di Kedutaan Besar Amerika Serikat tersebut bertujuan membatasi potensi perluasan konflik di lintasan laut internasional.
Pihak Houthi memberikan jaminan tertulis untuk tidak memicu konfrontasi langsung dengan armada kapal perang maupun niaga milik Amerika Serikat. Kelompok tersebut menegaskan komitmen penuh mereka pada kesepakatan penghentian tembak-menembak tahun 2025 yang telah disepakati bersama Washington.
Pada waktu bersamaan, diplomat senior Amerika Serikat untuk Yaman, Neil Hop, menyatakan dukungan tanpa batas kepada pemerintah resmi Yaman. Pernyataan tegas itu disampaikan langsung Hop saat bertemu Menteri Luar Negeri Yaman, Afrah al-Zouba.
"Amerika Serikat berdiri dalam solidaritas bersama pemerintah dan rakyat Yaman melawan agresi Houthi yang didukung Iran," tulis pernyataan resmi Kedutaan Besar Amerika Serikat mengutip Hop.
Koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran untuk menghancurkan pos pertahanan serta perlengkapan perang Houthi di sekitar pelabuhan strategis Mocha. Pasukan darat pemerintah Yaman melengkapinya dengan menerjunkan armada drone tempur ke wilayah utara Marib.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengonfirmasi intensitas serangan udara koalisi yang meluas ke berbagai provinsi.
"Pesawat tempur Saudi melancarkan 40 serangan udara yang menargetkan Provinsi Taiz, Marib, dan Hodeidah selama 24 jam terakhir," kata Saree.
Houthi membalas gempuran tersebut dengan merudal Pangkalan Udara Khamis Mushait serta fasilitas kilang minyak di kota pelabuhan Yanbu. Pertempuran sengit di udara ini menandai tahap baru konfrontasi kedua belah pihak.
Klaim krusial muncul saat Houthi menyatakan berhasil menjatuhkan jet tempur F-15 milik Arab Saudi di atas wilayah udara Marib. Penembakan tersebut diklaim menggunakan sistem rudal darat-ke-udara buatan lokal.
Koresponden Al Jazeera untuk Yaman, Yousef Mawry, menilai jatuhnya jet tempur tersebut bisa merusak dominasi mutlak militer koalisi.
"Penjatuhan pesawat tempur Saudi sangat mungkin berarti perubahan dalam keseimbangan kekuatan, mengingat Arab Saudi sangat bergantung pada kemampuan melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi di berbagai provinsi," tutur Mawry.
Konflik bersenjata Yaman merupakan perang berlarut yang melibatkan kelompok Houthi berdukungan Iran melawan pemerintah resmi Yaman yang didukung koalisi militer Arab Saudi. Pertempuran ini memperebutkan kendali atas wilayah-wilayah strategis, pelabuhan utama, serta pusat sumber daya energi di seluruh negeri.
Intervensi Amerika Serikat dan negara-negara Barat bertindak sebagai penyeimbang geopolitik di kawasan Semenanjung Arab. Namun, penyusutan stok senjata pencegat dan keterlibatan saluran diplomasi belakang layar menunjukkan dinamika perang yang kian kompleks bagi semua pihak.