- Organisasi Meteorologi Dunia melaporkan salju abadi Papua tersisa dua persen pada 2025 dan diprediksi punah tahun 2027.
- Kawasan Pasifik Barat Daya mengalami tahun terpanas kedua pada 2025 dengan kenaikan suhu rata-rata 0,37 derajat Celsius.
- Siklon Senyar menewaskan lebih dari 1200 orang di Indonesia dan Malaysia setelah mendarat pada November 2025.
Suara.com - Salju abadi di Papua terus menyusut di tengah pemanasan yang melanda kawasan Pasifik Barat Daya. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat luas es yang tersisa di Papua pada 2025 diperkirakan hanya sekitar 2 persen dari luas yang teramati pada 1988.
WMO memperkirakan gletser tropis terakhir di kawasan tersebut dapat menghilang pada akhir 2026 atau awal 2027.
Penyusutan salju abadi Papua menjadi salah satu gambaran perubahan iklim di kawasan tersebut. Dalam laporan State of the Climate in the South-West Pacific 2025, WMO mencatat 2025 sebagai tahun terpanas kedua yang pernah tercatat di Pasifik Barat Daya, setelah 2024.
Pada saat yang sama, kawasan ini menghadapi pemanasan laut, gelombang panas laut, kenaikan muka air laut, pengasaman laut, serta cuaca ekstrem.
Laporan tersebut disusun WMO bersama badan meteorologi dan hidrologi nasional, pakar iklim dan kelautan, serta lembaga PBB dan mitra internasional lainnya.
“Bagi banyak negara dan wilayah di Pasifik Barat Daya, laut menjadi pusat kehidupan, perekonomian, dan ketahanan,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
Salju abadi Papua di ambang penyusutan
Di Papua, penyusutan gletser menjadi salah satu perubahan yang paling mudah terlihat. Es tropis yang tersisa pada 2025 hanya sekitar 2 persen dari luas yang tercatat pada 1988.
Jika tren tersebut berlanjut, WMO memperkirakan gletser tropis terakhir di kawasan Pasifik Barat Daya akan menghilang pada akhir 2026 atau awal 2027. Hilangnya gletser ini bukan hanya menandai berkurangnya lapisan es di pegunungan Papua, tetapi juga menjadi indikator perubahan kondisi iklim di kawasan tropis.
Secara lebih luas, suhu rata-rata permukaan udara di Pasifik Barat Daya pada 2025 tercatat sekitar 0,37 derajat Celsius di atas rata-rata 1991-2020.
Kondisi laut juga menunjukkan pemanasan yang kuat. Kandungan panas laut hingga kedalaman 700 meter mencapai rekor di sejumlah wilayah, termasuk selatan Australia, Laut Tasman bagian selatan, sebagian Pasifik Utara tropis, serta wilayah selatan Sumatra.
Pemanasan tersebut berkontribusi terhadap semakin sering dan lamanya gelombang panas laut. Pada 2025, fenomena itu memengaruhi hampir seluruh wilayah perairan Pasifik Barat Daya.
Meski cakupannya lebih kecil dibandingkan 2024, WMO menyebut luas gelombang panas laut pada 2025 merupakan yang terbesar yang pernah tercatat dalam satu tahun tanpa fenomena El Nino.
Gelombang panas laut dapat memicu pemutihan terumbu karang, kematian ikan, gangguan terhadap budidaya perikanan, kematian hutan kelp, perubahan persebaran spesies, hingga ledakan alga berbahaya.
Muka laut naik, laut makin asam
Perubahan iklim juga mendorong kenaikan muka laut. Dalam periode 1999-2025, muka air laut di kawasan Pasifik Barat Daya naik rata-rata 3,7 milimeter per tahun.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh pemanasan laut yang membuat air mengembang serta mencairnya gletser, lapisan es, dan tudung es.
Hampir seluruh kawasan Pasifik Barat Daya juga mengalami nilai pH permukaan laut terendah dalam catatan pada 2025. Pengasaman terjadi ketika laut menyerap semakin banyak karbon dioksida dari atmosfer, yang dapat memengaruhi ekosistem, habitat, dan keanekaragaman hayati laut.
Cuaca ekstrem dan Siklon Senyar
Selain perubahan yang berlangsung secara perlahan, 2025 juga ditandai sejumlah kejadian cuaca ekstrem. Salah satu yang paling mematikan adalah Siklon Senyar, yang tercatat sebagai siklon tropis pertama yang diketahui terjadi di Selat Malaka.
Siklon tersebut berdampak pada lebih dari 10 juta orang di Indonesia dan Malaysia dan menewaskan lebih dari 1.200 orang.
Senyar pertama kali mendarat di Sumatra bagian utara pada 26 November sebelum kembali melintasi Selat Malaka dan mendarat di Semenanjung Malaysia. Di Sumatra bagian utara, curah hujan lebih dari 400 milimeter tercatat dalam satu hari.
WMO mencatat peringatan dini, koordinasi, dan bantuan lokal membantu mengurangi korban serta mempercepat penanganan. Namun, penyampaian peringatan hingga ke masyarakat di garis depan, termasuk masyarakat pesisir dan nelayan, masih menghadapi sejumlah kesenjangan.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa sistem peringatan dini perlu memperhitungkan dampak dan kemungkinan terjadinya bencana berantai, seperti banjir, longsor dan aliran material yang dipicu oleh satu kejadian cuaca ekstrem.
Menurut WMO, penguatan peringatan dini dan aksi dini menjadi semakin penting karena pemanasan meningkatkan risiko terhadap pangan, kesehatan, infrastruktur, laut, dan mata pencaharian masyarakat.