Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Danang Dwijo Kangko | Dosen Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas YARSI

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
Danang Dwijo Kangko, Dosen Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas YARSI. (Suara.com/ Ist)
baca 10 detik
  • Jika penggunanya tidak memiliki literasi yang kuat, AI tidak akan menjadi alat bantu.
  • Pustakawan berperan penting sebagai pemandu literasi yang menghubungkan pembaca dengan buku.
  • Pelatihan rekayasa perintah diberikan agar pustakawan mampu memvalidasi informasi dari mesin AI guna menangkal potensi halusinasi atau hoaks.

Suara.com - Di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kita sering kali melupakan satu fondasi paling mendasar: apakah kita sudah benar-benar bisa membaca?

Pertanyaan ini terdengar retoris, bahkan mungkin menyinggung. Namun, pesan kuat yang muncul dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas YARSI bersama Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI), pada Senin (6/4/2026) lalu, menyentak kesadaran kita.

Sebelum kita beradu canggih dengan "Akal Imitasi", literasi manusiawi kita harus beres terlebih dahulu.

Krisis Global: Saat Buku Menjadi Barang Mewah

Kehadiran Prof. James Swart dari Central University of Technology, Afrika Selatan, dalam acara tersebut membawa perspektif yang pahit namun nyata.

Krisis literasi ternyata bukan "penyakit" khas Indonesia semata.

Di Afrika Selatan, 81 persen pelajar kelas 4 SD belum mampu membaca dengan pemahaman yang utuh.

Akar masalahnya sangat akrab di telinga kita: minimnya infrastruktur. Bayangkan, 74 persen sekolah di sana tidak memiliki perpustakaan yang berfungsi.

Namun, Prof. James membagikan satu titik balik yang personal. Karier gemilangnya—berkeliling ke 24 negara dan mempublikasikan lebih dari 200 karya ilmiah—ternyata bukan bermula dari laboratorium canggih, melainkan dari satu buku yang tepat yang diberikan oleh seorang guru yang peduli.

baca juga

Di sinilah peran pustakawan menjadi krusial. Prof. James mengajak kita mendefinisikan ulang posisi pustakawan: mereka bukan sekadar penjaga rak yang berdebu, melainkan seorang "makcomblang".

Ilustrasi perpustakaan desa. (Pexels)
Ilustrasi perpustakaan. (Pexels)

Pustakawan sebagai "Makcomblang" Peradaban

Mengutip Teori 5 Hukum Ilmu Perpustakaan dari S.R. Ranganathan (1931), tugas utama pustakawan adalah mempertemukan setiap pembaca dengan bukunya (Every reader his/her book).

Ketika seorang pustakawan berhasil menjodohkan seorang anak dengan buku yang sesuai minatnya, di situlah letupan literasi terjadi.

Namun, di era digital, peran "makcomblang" ini berevolusi.

Pustakawan kini harus bertransformasi dari sekadar kurator fisik menjadi pemandu literasi informasi. Kita tidak lagi sekadar butuh "bisa membaca", tapi butuh kemampuan "4i": Kenali, Cari, Evaluasi, dan Pakai.

Tanpa kemampuan kritis ini, perpustakaan hanya akan menjadi "gudang" kertas, dan masyarakat akan tersesat di rimba informasi yang menyesatkan.

Melawan "Halusinasi" Mesin

Tantangan terbesar kita hari ini adalah kehadiran Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT dan kawan-kawannya. AI memang menawarkan kecepatan, tapi ia membawa bawaan lahir yang berbahaya: Halusinasi AI.

Ini adalah kondisi di mana mesin memproduksi informasi yang tampak sangat ilmiah dan meyakinkan, namun sebenarnya fiktif belaka.

Jika penggunanya tidak memiliki literasi yang kuat, AI tidak akan menjadi alat bantu, melainkan mesin pabrik hoaks paling canggih dalam sejarah manusia.

Inilah mengapa langkah FTI YARSI dan ATPUSI melatih para pustakawan dalam teknik Prompt Engineering (rekayasa perintah) menjadi sangat strategis. Prompt Engineering bukan sekadar cara bertanya pada mesin, melainkan seni berlogika.

Pustakawan yang menguasai teknik ini akan menjadi benteng pertahanan pertama di sekolah. Mereka akan mengajarkan siswa bagaimana memvalidasi jawaban AI, bagaimana mengendus data yang "halu", dan bagaimana tetap memegang kendali atas teknologi.

Ilustrasi AI atau Artificial Intelligence. (Freepik)
Ilustrasi AI atau Artificial Intelligence. (Freepik)

Nalar Tetap Milik Manusia

Teknologi "Akal Imitasi" mungkin bisa meniru cara kita berbahasa, menulis puisi, atau bahkan menyusun skripsi. Namun, ada hal yang tidak akan pernah dimiliki oleh algoritma mana pun: ketajaman nalar, kompas etika, dan kehangatan intuisi manusia.

Melalui sinergi akademisi dan praktisi perpustakaan, kita diingatkan bahwa masa depan literasi bukan tentang siapa yang paling cepat menggunakan AI, melainkan siapa yang paling bijak dalam memanfaatkannya.

Pustakawan adalah garda terdepan untuk memastikan bahwa di masa depan, manusia tidak didikte oleh halusinasi mesin, melainkan tetap dipandu oleh cahaya ilmu pengetahuan yang valid.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gandeng OpenAI, Novo Nordisk Percepat Revolusi AI di Sektor Kesehatan

Gandeng OpenAI, Novo Nordisk Percepat Revolusi AI di Sektor Kesehatan

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 15:00 WIB

Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark

Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark

News | Jum'at, 17 April 2026 | 12:25 WIB

Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor

Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor

News | Jum'at, 17 April 2026 | 11:37 WIB

Mengintip Pengembangan Robot Cerdas Sektor Energi di Guangdong

Mengintip Pengembangan Robot Cerdas Sektor Energi di Guangdong

Foto | Jum'at, 17 April 2026 | 08:00 WIB

Terkini

Anime Dark Gathering Season 2 Bagikan Visual Horor Perdana, Tayang 2027

Anime Dark Gathering Season 2 Bagikan Visual Horor Perdana, Tayang 2027

Your Say | Selasa, 08 September 2026 | 10:30 WIB

Buku 'Islam ala Prabowo' Ternyata Inisiasi Ahmad Muzani dan KH Anwar Iskandar

Buku 'Islam ala Prabowo' Ternyata Inisiasi Ahmad Muzani dan KH Anwar Iskandar

News | Selasa, 08 September 2026 | 10:28 WIB

Frankie MacDonald Ramal Gempa hingga M9 di Indonesia sebelum Akhir 2026

Frankie MacDonald Ramal Gempa hingga M9 di Indonesia sebelum Akhir 2026

Your Say | Selasa, 08 September 2026 | 10:27 WIB

7 Karier dan Pekerjaan yang Cocok untuk Zodiak Leo yang Berjiwa Pemimpin, Sesuai dengan Passion

7 Karier dan Pekerjaan yang Cocok untuk Zodiak Leo yang Berjiwa Pemimpin, Sesuai dengan Passion

Lifestyle | Selasa, 08 September 2026 | 10:26 WIB

Media Eropa Gambarkan Kengerian Krakatau Meletus: Tahun 1883 Bikin Dunia Dingin, 2018 Tsunami

Media Eropa Gambarkan Kengerian Krakatau Meletus: Tahun 1883 Bikin Dunia Dingin, 2018 Tsunami

News | Selasa, 08 September 2026 | 10:22 WIB

Tak Lagi Membosankan, Bagaimana Warga Gandaria Utara Pilah Sampah Lewat Smart Geprek?

Tak Lagi Membosankan, Bagaimana Warga Gandaria Utara Pilah Sampah Lewat Smart Geprek?

Lifestyle | Selasa, 08 September 2026 | 10:19 WIB

Bukan Cari Layar Besar, Ini Tren TV yang Sedang Diburu Masyarakat Modern

Bukan Cari Layar Besar, Ini Tren TV yang Sedang Diburu Masyarakat Modern

Lifestyle | Selasa, 08 September 2026 | 10:19 WIB

Polisi Tangkap Tersangka Perusakan Hutan Mangrove 111 Hektare di Dumai

Polisi Tangkap Tersangka Perusakan Hutan Mangrove 111 Hektare di Dumai

Riau | Selasa, 08 September 2026 | 10:16 WIB

Niat Pulang ke Indonesia, Raditya Dika Tertahan di Qatar Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau

Niat Pulang ke Indonesia, Raditya Dika Tertahan di Qatar Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau

Your Say | Selasa, 08 September 2026 | 10:12 WIB

Benarkah Penggunaan Lipstik Matte Setiap Hari Bikin Bibir Hitam Permanen? Cek 5 Faktanya

Benarkah Penggunaan Lipstik Matte Setiap Hari Bikin Bibir Hitam Permanen? Cek 5 Faktanya

Lifestyle | Selasa, 08 September 2026 | 10:10 WIB

×