Curhat Driver Taksi Online tentang Kuli Bangunan ini Tohok Pekerja Kantoran

Angga Roni Priambodo
Curhat Driver Taksi Online tentang Kuli Bangunan ini Tohok Pekerja Kantoran
Cerita sopir taksi online tentang buruh bangunan.

Ia membandingkan sikap kuli bangunan itu dengan orang kantoran dan orang kaya yang sering memakai jasa taksolnya.

Suara.com - Moda transportasi online seperti ojek maupun taksi online (taksol) kini semakin diminati masyarakat. Bahkan, masyarakat lapisan menengah ke bawah pun bisa merasakan manfaat adanya transportasi online.

Dengan segala kenyamanan dan murahnya tarif, tak heran jika setiap harinya, puluhan ribu orang menggunakan jasa transportasi online di Indonesia.

Banyaknya interaksi antara driver dengan penumpangnya tak jarang menjadi sebuah cerita menarik dan penuh dengan inspirasi, seperti yang diceritakan driver taksol ini.

Driver taksol di Jakarta tersebut menceritakan pengalamannya membawa seorang kuli bangunan yang baru empat hari berada di Ibu Kota.

"Mau sedikit cerita tentang pengalaman bawa penumpang tadi pagi sekitar jam 10 dapet order dari Dukuh Atas tujuan ke Batik Kuring SCBD dengan argo tunai Rp 8000. Posisi agak kelewat dikit posisi saya di seberang Wisma Keiai atau kurang lebih setelah Wisma Indocement sedangkan dia (penumpang) posisi di halte persis depan Landmark," tulisnya membuka cerita.

Cerita sopir taksi online tentang buruh bangunan.
Cerita sopir taksi online tentang buruh bangunan.

Dari situlah, kekaguman yang dirasakan driver bernama Teguh Dimas K. ini bermula. Jika biasanya banyak penumpang yang memaksa driver taksol balik kalau kelewatan, lain halnya dengan penumpangnya kali ini.

"Nggak pakai lama langsung chat dan dia langsung bilang, 'Mas tunggu di situ aja nggakpapa kita udah jalan menuju ke lokasi mas', saya bales "ok siap mas," lanjutnya.

Ya, penumpangnya itu rela nyamperin kendaraan yang dipesannya, alih-alih menyuruh si driver untuk memutar balik ke posisinya.

Setelah ketemu, mereka langsung menuju ke tujuan yang disepakati. Ada obrolan singkat di antara mereka, bukan karena irit bicara. Obrolan mereka dibatasi oleh dekatnya jarak antara Dukuh Atas ke SCBD.

Dari obrolan singkat itu, si driver taksol tahu bahwa pria yang tak disebutkan namanya itu baru empat hari merantau dan bekerja di Jakarta.

"Sudah nyampe tujuan dan dia langsung bayar ngasih duit 20 ribu, otomatis saya bilang, 'mas ongkosnya cuma 8 ribu, lebihan ini ngasihnya," sambung Teguh dalam unggahannya. Namun, si penumpang malah bilang, "gapapa mas ambil aja".

Cerita sopir taksi online tentang buruh bangunan.
Cerita sopir taksi online tentang buruh bangunan.

Atas dasar itu, si driver kemudian sedih dan terketuk hatinya karena tukang bangunan nyatanya lebih peduli terhadap apa yang sudah membantunya.

Menurutnya, hal tersebut berbeda dengan beberapa orang kantoran dan orang kaya yang pernah memakai jasa taksolnya.

"Setiap hari saya bawa penumpang orang kantoran/orang kaya yang berpakaian rapi dan wangi. 80% mereka acuh dan cenderung ada unsur merendahkan profesi yang di bawah mereka," ungkap Teguh.

Ia berharap, ke depannya makin banyak orang yang peduli terhadap semua profesi, karena sesungguhnya kita hidup di dunia saling membutuhkan satu sama lain.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS