Penurunan Emisi Akibat Lockdown Tidak Berdampak Terhadap Krisis Iklim

RR Ukirsari Manggalani | Lintang Siltya Utami
Penurunan Emisi Akibat Lockdown Tidak Berdampak Terhadap Krisis Iklim
Ilustrasi lockdown [Unsplash/Matt Seymour].

Terjadi penurunan emisi yang signifikan tetapi singkat, sebesar 0,01 derajat Celsius menjadi 0,005 derajat Celsius.

Suara.com - Penelitian baru menyebut meskipun lockdown sempat membuat tingkat emisi menurun, namun aturan dalam waktu singkat ini hanya akan berdampak sedikit atau bahkan tidak sama sekali terhadap krisis iklim yang lebih luas.

Meski begitu, rencana pemulihan ekonomi pasca-lockdown dapat memberikan kesempatan langka agar mengarahkan kembali ekonomi global menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan dan dapat memenuhi target yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris atau Paris Agreement 2020 untuk climate action.

Bumi secara umum dianggap telah menghangat sekitar 1,1 derajat Celsius sejak awal Revolusi Industri, dengan kenaikan 0,2 derajat hingga 0,9 derajat Celsius diperkirakan terjadi pada 2050. Tantangan besar adalah untuk membatasi pemanasan terjadi lebih lanjut hingga 1,5 derajat Celsius.

Meskipun terjadi penurunan emisi yang signifikan tetapi singkat, studi baru menemukan bahwa tindakan penguncian yang sedang berlangsung hanya akan mengurangi pemanasan global sebesar 0,01 derajat Celsius menjadi 0,005 derajat Celsius lebih rendah dari perkiraan sebelumnya pada 2030. Dengan kata lain, efek jangka panjang dari lockdown tentang perubahan iklim sangat mengecewakan.

Suasana lengang di jalan Rasuna Said arah Sudirman, Jakarta, Senin (16/3). [Suara.com/Alfian Winanto]
Suasana lengang di jalan Rasuna Said arah Sudirman, Jakarta, Senin (16/3). Saat awal outbreak COVID-19 [Suara.com/Alfian Winanto]

Namun, studi ini juga berpendapat jika ekonomi global beralih dari lockdown dengan rencana pemulihan ekonomi hijau, maka ada kemungkinan menjaga Bumi dari pemanasan melebihi 1,5 derajat Celsius pada pertengahan abad ini.

"Pilihan yang dibuat sekarang dapat memberi kita peluang kuat untuk menghindari pemanasan tambahan 0,3 derajat Celsius pada pertengahan abad, mengurangi separuh dari pemanasan yang diharapkan berdasarkan kebijakan saat ini," kata Piers Forster, penulis studi dan profesor Perubahan Iklim Fisik di Universitas Leeds, seperti dikutip dari IFL Science pada Sabtu (8/8/2020).

Dilaporkan dalam jurnal Nature Climate Change minggu ini, para ilmuwan di Inggris menghitung 10 gas rumah kaca dan polutan udara berubah antara Februari dan Juni 2020 di 123 negara dengan melihat simulasi NASA yang digabungkan dengan data tentang pergerakan orang yang dikumpulkan oleh Apple dan Google.

Para ahli menemukan bahwa mobilitas menurun lebih dari 10 persen selama April 2020 di 124 negara, sementara mobilitas menurun hingga 80 persen di lima atau lebih negara.

Secara kasar, ini diterjemahkan menjadi 10 hingga 30 persen penurunan global terhadap karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), dan emisi lainnya pada April 2020. Namun, efek keseluruhan pada iklim Bumi tidak akan berarti karena banyak emisi, termasuk CO2, dapat bertahan di atmosfer untuk waktu yang lama. Selain itu, tingkat polusi sudah kembali mendekati normal di banyak bagian dunia.

Dengan sebagian besar negara mulai menyusun rencana pemulihan ekonomi pasca-lockdown, studi tersebut berpendapat bahwa manusia dapat membuat peluang untuk membentuk kembali ekonomi dengan mendorong energi terbarukan dan efisiensi tinggi, daripada memulihkan industri bahan bakar fosil. Dengan demikian, Bumi dapat memenuhi beberapa target iklim yang diinginkan dan menghindari beberapa perubahan iklim yang paling ekstrem.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS