Pajak Nol Persen Ditolak, Honda Tetap Optimistis Bisa Bangkit

RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Pajak Nol Persen Ditolak, Honda Tetap Optimistis Bisa Bangkit
Booth Honda di IIMS. Sebagai ilustrasi pergelaran untuk pemasaran produk bila tidak ada virus Corona [Dok PT HPM].

Pemberian stimulus tadinya diharapkan untuk mengurangi dampak virus Corona di sektor otomotif.

Suara.com - PT Honda Prospect Motor (HPM) optimistis industri otomotif bisa kembali bangkit walaupun rencana relaksasi melalui pajak nol persen atau 0% untuk mobil baru ditolak.

Menurut Yusak Billy, Business Innovation and Marketing & Sales Director PT HPM, saat ini ada beberapa insentif yang diberikan pemerintah untuk menggerakkan roda ekonomi.

"Ada beberapa insentif yang diberikan ke UKM, pembiayaan, online, itu semua untuk menggerakkan roda perekonomian. Kalau itu baik, otomatis pasar otomotif juga baik," ujar Yusak Billy, saat bincang virtual bersama awak media baru-baru ini.

Namun demikian, ia melihat bahwa beberapa negara tetangga memang menerima relaksasi dari pemerintahnya untuk mendongkrak pertumbuhan pasca diterpa pandemi COVID-19.

Baca Juga: Atraktif, Ini Tampilan Baru Honda Genio beserta Daftar Harganya

Tampilan lengkap All New Honda City RS e:HEV [Honda Malaysia].
Tampilan lengkap All New Honda City RS e:HEV [Honda Malaysia].

Contohnya Malaysia, terdapat relaksasi pajak. Kalau dilihat harga jualnya ditentukan pemerintah sehingga pasarnya bergairah cepat.

Sedangkan di Thailand trade-in coupon untuk ditukar ke model tertentu, serta kendaraan elektrifikasi.

"Di indonesia relaksasi pajak sudah dibatalkan. Diharapkan dari Kemenkeu bicarakan apa yang diputuskan pemerintah untuk ekonomi. Stimulus fiskal untuk usaha terdampak, kalau semua dapat stimulus otomatis pasar otomotifnya juga bangkit," ucap Yusak Billy.

Sebelum ini, Kementerian Perindustrian sempat mengajukan usulan untuk memberikan kebebasan pajak nol persen untuk mobil baru sampai akhir 2020.

Namun usulan itu ditolak Menteri Keuangan karena sudah banyak insentif dari pemerintah untuk menggerakkan roda ekonomi di tengah pandemi COVID-19.

Baca Juga: Kapan Honda Bawa Produk Ramah Lingkungan ke Indonesia?

Komentar