facebook

Menyongsong Era Mobil Listrik, Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi Tetapkan Roadmap 2030

RR Ukirsari Manggalani
Menyongsong Era Mobil Listrik, Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi Tetapkan Roadmap 2030
Renault Austral sebagai ilustrasi salah satu produk karya anggota Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi [ANTARA].

Presiden dan CEO Nissan Makoto Uchida umumkan roadmap aliansi carmaker Jepang serta Prancis ini untuk era EV.

Suara.com - Aliansi carmaker Jepang dan Prancis yang terdiri dari Renault Group, Nissan Motor, dan Mitsubishi Motors Corporation menyusun langkah mereka dalam menyambut era mobil listrik atau Electric Vehicle (EV).

Dikutip dari kantor berita Antara, aliansi ini telah menetapkan roadmap atau peta jalan 2030 tentang kendaraan listrik murni, mobilitas cerdas dan terhubung, serta berbagi investasi untuk keuntungan anggota aliansi juga pelanggannya.

Presiden dan Chief Executive Officer atau CEO Nissan Motor Co Ltd, Makoto Uchida, hadir untuk mengumumkan langsung roadmap aliansi Renault, Nissan, Mitsubishi, di Jepang (27/1/2022).

Presiden dan CEO Nissan Motor Co Ltd, Makoto Uchida, mengumumkan roadmap Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi, di Jepang (27/1/2022) (ANTARA/Nissan)
Presiden dan CEO Nissan Motor Co Ltd, Makoto Uchida, mengumumkan roadmap Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi, di Jepang (27/1/2022) (ANTARA/Nissan)

Sebagai bagian dari roadmap, Mitsubishi Motors akan memperkuat kehadirannya di Eropa dengan dua model baru, di antaranya New Mitsubishi ASX yang dikembangkan berdasarkan penjualan terbaik Renault.

Baca Juga: Miliki SPKLU, Kota Samarinda Pastikan Mobil Listrik Akan Jadi Alat Transportasi

Sementara untuk mobility EV, Renault, Nissan dan Mitsubishi melakukan investasi lebih dari 10 miliar euro untuk sektor elektrifikasi.

Langkah memperkuat pasar utama Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi yaitu di Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan China, di 15 pabriknya ketiga carmaker ini sudah memproduksi suku cadang, motor, baterai untuk 10 model EV. Sedangkan penjualan mobil listrik tembus 1 juta unit dan telah menempuh 30 miliar e-kilometer.

Bergerak menggunakan platform dan peranti elektronik bersama, pada 2026 ketiga anggota Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi berharap bisa memiliki lebih dari 10 juta kendaraan di jalan dan 45 model bersama yang dilengkapi sistem swakemudi.

Di luar itu, Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi berbagi visi yang sama untuk teknologi baterai all-solid-state (ASSB).

Berdasarkan keahlian mendalam dan pengalaman uniknya sebagai pelopor dalam teknologi baterai, Nissan akan memimpin inovasi di bidang ini yang bermanfaat bagi semua anggota aliansinya.

Baca Juga: Brand Super Mewah Bentley Siapkan Mobil Listrik Perdana untuk 2025

ASSB memiliki kepadatan energi dua kali lipat dibandingkan baterai lithium-ion cair saat ini. Waktu pengisian daya juga berkurang hingga sepertiga, memungkinkan pelanggan melakukan perjalanan lebih lama dengan peningkatan, kenyamanan, sampai tingkat kepercayaan diri.

Investasi sektor EV ini mencapai total 23 miliar euro, yang mengarah ke 35 model EV baru pada tahun 2030. Juga melakukan upaya mencapai skala nyata dan keterjangkauan, memungkinkan untuk mengurangi biaya baterai 50 persen pada 2026 dan 65 persen pada 2028.

Dengan pendekatan ini, pada 2030, Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi akan memiliki total kapasitas produksi baterai 220 GWh untuk EV di seluruh lokasi produksi utama di dunia.

Dan tidak kalah penting, Renault, Nissan, dan Mitsubishi sepakat mengintegrasikan parameter kemungkinan penyatuan platform, pabrik produksi, powertrain, dan segmen kendaraan.

Contohnya, platform umum untuk segmen C dan D akan membawa lima model dari tiga merek mereka. Seperti Nissan Qashqai dan X-Trail, Mitsubishi Outlander, Renault Austral dan SUV tujuh tempat duduk yang akan datang.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar