facebook

Alih-alih Bersaing, Toyota Pilih Kolaborasi dengan Pabrikan Lain untuk Kembangkan Mobil Listrik di Indonesia

Liberty Jemadu
Alih-alih Bersaing, Toyota Pilih Kolaborasi dengan Pabrikan Lain untuk Kembangkan Mobil Listrik di Indonesia
Ilustrasi mobil listrik sedang mengisi ulang baterai (Shutterstock).

Toyota memilih untuk berkolaborasi, alih-alih bersaing, dengan pabrikan lain untuk mengembangkan mobil listrik di Indonesia.

Suara.com - Direktur Corporate Affairs External PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan pihaknya memilih melakukan kerja sama dengan produsen otomotif lainnya dalam pengembangan mobil listrik guna memperbesar jumlah kendaraan ramah lingkungan di Tanah Air.

"Karena pasarnya (mobil listrik) kecil sekali, di bawah 3 persen, jadi too much (terlalu berlebihan) kalau kami berkompetisi," kata Bob Azam di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/5/2022).

Menurut dia, kerja sama diperlukan terutama untuk harga mobil listrik lebih terjangkau dengan biaya produksi yang lebih efisien dan ekonomis sehingga populasi mobil listrik di Indonesia kian bertambah.

Bob mencontohkan Toyota Motor Corp (TMC) melakukan kerja sama dengan industri otomotif Eropa, Scania, untuk membuat bus listrik.

Baca Juga: Ekspor Mobil Dari Indonesia ke Australia Masih Sebatas Merek Toyota

"Toyota menyediakan teknologi fuel cell-nya," kata Bob.

Selain itu, dia juga menyebut rantai pasok (supply chain) kendaraan listrik juga harus diperluas seperti produk otomotif lainnya yang rantai pasoknya bisa capai 20 negara.

"Jadi, misalnya baterai (mobil listrik) jangan hanya dibuat oleh segelintir pengusaha atau negara," katanya.

Hal itu, lanjut dia, akan membuat mobil listrik menjadi mahal dan tidak luas penggunanya.

Padahal, kendaraan listrik menjadi salah satu upaya banyak negara, termasuk Indonesia, yang dalam jangka panjang menjadikan mobil listrik sebagai salah satu kegiatan mitigasi dalam perubahan iklim.

Baca Juga: Toyota Berkolaborasi dengan Para Akademisi, Dorong Indonesia Bebas Emisi 2060

Sementara itu, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Emma Rachmawati mengatakan pada Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia pertama tahun 2016 kendaraan listrik belum diidentifikasi sebagai kegiatan mitigasi untuk menekan Gas Rumah Kaca (GRK).

Komentar