Suara.com - Jangan sekali-kali menunda ganti baterai mobil listrik jika ingin awet dan terawat.
Bahkan, menunda mengganti baterai mobil listrik justru akan berakibat boncos bagi pemilik.
Menunggu untuk mengganti baterai memang sekilas nampak dapat menekan biaya pengeluaran bulanan bagi para pemilik EV.
Tak sedikit pemilik unit mobil EV berpikir bahwa lebih baik ganti baterai di bulan depan ketimbang menambah pengeluaran di bulan ini.
Faktanya, menunda mengganti baterai mobil listrik justru akan menimbulkan biaya tambahan tak diinginkan di kemudian hari.
Lantas, berapa biaya ganti baterai mobil listrik? Apa bahaya dan risiko tak segera ganti?
Menunda sama dengan keluar lebih banyak biaya
Menunda penggantian baterai mobil listrik yang sudah aus hanya akan memicu pembengkakan biaya di kemudian hari.
Komponen baterai yang tidak sehat memaksa sistem manajemen energi bekerja ekstra keras, sehingga berisiko merusak unit kontroler dan modul inverter yang harganya sangat mahal.
Selain itu, efisiensi pengisian daya yang buruk akan membuat tagihan listrik meningkat karena energi banyak terbuang menjadi panas.
Bahaya paling nyata adalah risiko kerusakan permanen pada sistem termal kendaraan.
Jika sel baterai mengalami kegagalan total, biaya perbaikan bisa jauh melampaui harga satu unit baterai baru.
Kerugian finansial juga datang dari anjloknya nilai jual kembali mobil karena kondisi teknis yang terbengkalai.
Menunda ganti baterai juga sangat berisiko bagi keselamatan.
Baterai yang aus mudah mengalami thermal runaway atau panas berlebih yang memicu kebakaran hebat.
Selain itu, tenaga bisa hilang mendadak saat mendahului kendaraan lain atau di tanjakan, sehingga memperbesar risiko kecelakaan fatal bagi pengguna jalan.
Biaya ganti tampak tinggi, tapi ada garansi
Biaya ganti baterai mobil listrik di Indonesia memang tergolong tinggi karena baterai merupakan komponen termahal, mencakup sekitar 40 persen hingga 60 persen dari harga unit kendaraan.
Estimasi harga ini sangat bergantung pada kapasitas kWh dan teknologi sel yang digunakan masing-masing pabrikan.
Berikut adalah estimasi biaya penggantian baterai berdasarkan beberapa model populer di pasar.
- Wuling Air ev: Sekitar Rp100.000.000,
- BYD (Atto 3/Dolphin): Rp150.000.000–Rp200.000.000,
- Chery Omoda E5: Rp150.000.000–Rp250.000.000,
- MG 4 EV: Mulai dari Rp200.000.000,
- Hyundai IONIQ 5: Rp300.000.000 (Standard) hingga Rp400.000.000 (Long Range),
- Toyota bZ4X: Mencapai Rp500.000.000.
Mengingat harganya yang fantastis, sangat disarankan untuk memaksimalkan fasilitas garansi baterai yang biasanya diberikan pabrikan selama 8 tahun atau 160.000 km.
Klaim garansi agar biaya tak membengkak
Proses klaim garansi baterai mobil listrik sebenarnya cukup mudah asalkan pemilik kendaraan disiplin dalam aspek administrasi dan perawatan.
Berikut adalah langkah-langkah sistematis untuk melakukan klaim garansi baterai mobil listrik agar peluang disetujui semakin besar.
- Pengecekan buku garansi
Pastikan masa berlaku garansi, baik dari segi usia kendaraan (biasanya 8 tahun) maupun jarak tempuh (misalnya 160.000 km), masih terpenuhi.
Baca teliti syarat penurunan kapasitas minimal, umumnya klaim bisa diajukan jika kesehatan baterai di bawah 70 perseb,
- Verifikasi riwayat servis
Kumpulkan bukti perawatan berkala di bengkel resmi. Pastikan tidak ada jadwal servis yang terlewat, karena kedisiplinan ini menjadi syarat mutlak validitas garansi.
- Audit modifikasi
Pastikan sistem kelistrikan masih standar pabrikan. Segala bentuk modifikasi arus listrik atau pemasangan aksesori non-resmi yang memotong kabel dapat membatalkan hak klaim secara otomatis.
- Diagnostik di bengkel resmi
Bawa kendaraan ke diler untuk pengujian menggunakan alat pemindai khusus.
Mintalah hasil cetak mengenai kondisi kesehatan baterai (State of Health) sebagai bukti otentik kerusakan.
- Pengajuan formulir klaim
Isi formulir resmi dengan melampirkan identitas pemilik, STNK, dan dokumen pendukung lainnya.
Setelah diverifikasi oleh pihak pabrikan, penggantian modul atau unit baterai baru akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Kontributor : Armand Ilham